[BeraniCerita #33] Sumpah Pemuda



"Owalaaah! Anak-anak muda sekarang kok ya pekok-pekok! Moso' Sumpah Pemuda aja ndak pada apal?" ujar Bapak yang sedang menyemproti sangkar si Ranto Gudel, perkutut kesayangannya.

Berita siang masih menayangkan seorang reporter yang menanyai beberapa anak muda di sebuah pusat keramaian tentang Sumpah Pemuda. Tapi kebanyakan dari mereka hanya menggeleng.

"Assalaamu 'alaikum ... "

"Wa 'alaikum salaam," jawabku menghentikan jahitanku.

Anakku Eno berlari kecil menghampiriku, kemudian mencium tanganku. Dia juga mendekati kakeknya yang masih asyik dengan si Ranto Gudel.

"Eh, Eno apal ndak Sumpah Pemuda?" tanya Bapak pada Eno, yang ditanya hanya menggeleng.

"Kakek minta Eno ngapalin isi Sumpah Pemuda. Nanti kalo udah apal, Kakek kasih hadiah."

Eno mengangguk mantap. Tampak binar mata anak kelas 3 SD itu penuh semangat.

Sejak Mas Yanto meninggal, aku dan Eno tinggal bersama Bapak. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, aku membuka jahitan berbekal mesin jahit tua peninggalan Ibu. Aku pun harus memutar otak, menyisihkan beberapa rupiah untuk biaya sekolah Eno.

"Bunda," Eno kembali menghampiriku.

"Iya, Nak," jawabku.

"Minggu depan Eno udah ujian semester, kata Bu Guru, Eno harus melunasi uang gedung dan uang buku paket."

"Sabar ya, Nak ... semua pasti Bunda lunasi dan Eno bisa ikut ujian," kuelus kepala Eno.

Dari mana aku mendapatkan uang itu? Sedang jahitanku kian hari kian sepi. Tak terasa mataku berkaca-kaca. Bapak mungkin mendengar apa yang dikatakan Eno. Bapak menatapku dari kejauhan, aku berpaling meneruskan jahitanku.

***

"Kakek, Eno udah apal!"

"Mana? Ayo coba!"

Dengan lantang Eno melafalkan isi Sumpah Pemuda. Kuhentikan sejenak ulekan sambal terasiku. Hari ini hanya nasi dan sambal ini yang menjadi menu makan siang kami. Ada rasa haru menyelinap di rumah kecil ini.

"Bagus! Seribu buat Eno!"

"Horeeee ... makasih ya, Kek!"

Aku mengusap bulir air di sudut mataku dan menyelesaikan ulekanku.

"Siti, pakailah ini buat melunasi biaya sekolahnya Eno," tiba-tiba Bapak sudah ada di belakangku.

"Bapak? Bapak dapat uang dari mana?" tanyaku heran.

"Wis, to ... yang penting Bapak ndak nyolong. Dan yang paling penting, Eno bisa jadi anak Indonesia yang pinter!" jawabnya sambil menepuk-nepuk bahuku.

Bapak kembali ke teras, aku pun segera menyiapkan makan siang.

"Kakek, Eno, ayo kita makan dulu," kataku menghampiri mereka di teras.

"Kakek, si Ranto mana?" tanya Eno.

Tak dapat kubendung airmataku mengalir saat kulihat Bapak menyemproti sangkar si Ranto Gudel yang telah kosong.

***



Jumlah: 368 kata.

*pekok:
bodoh, tolol, goblog, bungas, stupid, not smart, dsb.

*pagi tadi gue liat berita di TVONE, so kepikiran buat ini. Miris! Generasi sekarang payah! ;-(

*Soempah Pemoeda (ejaan van Ophuysen):

"Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kedoewa
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia."

"Selamat Memperingat Hari Sumpah Pemuda yang ke-85"

Komentar

  1. burungnya di jual di toko bgus kali ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan di tokobagus, tapi di berniaga! Bhahaha

      Hapus
    2. Wahahaha jadi pada PROMOSI situs web jualan
      Weiehiehiehiehiee

      Hapus
    3. Iya tuh Jiah yg mulai, Pak! Huhuhu

      Hapus
  2. Iya sak aku juga nonton tuh, sedih ngeliatnya waktu anak2 muda itu ditanya gak ada yg bisa, kalah sama anak2 SD yg berseragam pramuka itu.

    Oya, ceritanya nelongso tenan.

    Semangat Indonesia! Yo, jadikan momentum Sumpah Pemuda ini untuk menjadikan Indonesia bersatu di dalam keberagaman ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoowma'e! Bener bgt! Emdi apal sumpah pemuda kan, Ma'? :-)

      Hapus
    2. Belum tak' ajarin, tapi nanti aku ajarin ah biar bisa hehehe

      Hapus
    3. Kalo gue lagi ngapalin Sumpah Pemudi, Mak! Hehe

      Hapus
  3. Pengorbanan seorang kakek sesuatu yang disayangi burung, anak dan cucunya, akhirnya salah satu dia korbankan demi anak cucunya langkah yang bijaksana, ceritanya mengharukan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalopun musti ada yg dikorbankan, apapun asal bukan semangatnya! Thanks dah mampir, Sob ... ;-)

      Hapus
  4. hehehehe ternyata sangkar burungnya ada di terakhir cerita :). smoga dapet yg lebih baik yow pak ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ... Brarti gak bisa jadi pemicu, dong? Huhuhu ;-(

      Hapus
  5. kang, lha koe dewe apal sumpah pemuda gak kang?

    mata sa tarji'?

    BalasHapus
  6. oalah... melase si Ranto T_T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, mestiné bangga si Ranto dimelaské karo Bu Dokter! Hehe

      Hapus
  7. hiiihhh.... niltu istidzan min abi...

    BalasHapus
  8. Cakeppp, disesuain sama hari sumpah pemuda :D
    ** untung aku hafal hihih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hapal, ea? Coba lain kali gue test di depan kelas! Hehe..

      Hapus
  9. Ceritanya up to date banget nih. Ada sumpah pemudanya segala ^^

    BalasHapus
  10. saya yakin para sobat blogger juga gk semua hapal tulisan sumpah pemuda ckckck :D

    BalasHapus
  11. menurutku sih ini temanya sumpah pemuda, bukan sangkar burung :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, menurut gue juga gitu! Sangkar burungnya gak jadi pemicu apa2, kecuali disemprotin doang! :-D

      Hapus
  12. pasti si Ranto Gudel itu harganya ruarrrrrr biasa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harganya gak mahal2 amat kok, ya paling cuma bisa ngebiayain si Eno ampe kuliah aja! Hehe

      Hapus
  13. gile loe sak , mata gue berbinar binar negbaca tulisan loe inih .. mantap dan tetap semangat sak ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Pemuda! Lanjutkeun! ^_^

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita ABG | Pendidikan Seks

BTW, Apa Sich Arti CMIIW, FYI, IMHO & LOL?

Belajar Bahasa Minang

Ayat-Ayat Teleportasi

Cerita Anak SMP | Bag. III: Geng