Ramadan Tahun Ini

Mei 22, 2020



Stay Home
a A

Lelaki itu pergi pada Jumat siang saat jumatan sedang diliburkan untuk kesekian kali di tengah pandemi yang mewabah di kotanya.

Sudah hampir empat bulan sejak pemerintah mencanangkan pembatasan sosial berskala nasional, penutupan sementara pusat keramaian dan tempat peribadatan. Slogannya “di rumah saja, jangan ke mana – mana”, terpampang di mana – mana. Sejak saat itu pula istrinya mulai nyinyir tentang seorang kepala keluarga yang berdalih taat pemerintah. Mulai senang berkhotbah tentang tanggung jawab seorang suami dan kewajibannya mencari nafkah. Selalu berpetuah tentang azab dan siksa tetapi lebih terdengar seperti sumpah serapah. Apalagi menjelang lebaran tahun ini, banyak kekosongan seperti toples kue yang harus diisi dan baju lebaran yang belum terbeli. Lelaki yang berprofesi sebagai buruh harian lepas itu pun harus keluar kandang. Berburu pemasukan yang telah lama hilang.

“Aku coba nyari kerjaan dulu.” Pamit lelaki itu pada istrinya yang sedang telungkup di ranjang menekuni smartphone dengan khusyuk seperti orang sembahyang.

“Si Kakak ke mana?” lelaki itu menanyakan anak semata wayang mereka.

Perempuan itu tak menjawab, masih terpaku ke layar smartphone, hanya tersungging senyum dan mata berbinar yang lelaki itu yakin bukan untuknya. Lelaki itu pun beranjak pergi, diikuti berdebam bunyi bantingan pintu yang tak sedikit pun menganggu istrinya. Di luar rumah, lelaki itu berkali – kali beristighfar. Berulang – ulang mengelus dada dan berdoa semoga puasanya terjaga.

Biar kuperkenalkan sejenak tentang lelaki itu. Sebut saja namanya Sugi, nama lengkapnya Sugiharto. Nama adalah doa, itu juga yang pasti diyakini oleh kedua orang tuanya saat memberinya nama. Terdiri dari dua suku kata dari bahasa Jawa yaitu sugih yang berarti kaya dan arto atau harto yang artinya uang atau harta. Dalam cerita ini, aku tak bermaksud menjadikannya tokoh utama. Aku juga tak berminat menjadikannya orang yang sesuai dengan doa kedua orang tuanya. Oleh karena itu, jadilah ia seorang buruh harian lepas yang tak lepas dari dampak pandemi pelumpuh perekonomian bangsa. Akan tetapi, tetap bolehlah ia jadi temanku. Maka ketika siang itu ia menghubungiku, segera aku minta ia untuk menemuiku.

“Apakah ada kerjaan untukku?” tanyanya padaku.

Kunyalakan sebatang rokok dan mengembuskannya seperti kepul hio yang memberkati orang mati. Aku menyodorkan bungkus terbuka pada Sugi.

“Aku puasa.”

Aku tak begitu kagum dengan orang yang kuat menunda lapar dan dahaga. Tetapi aku selalu ingin berguru pada orang yang bisa menahan rasa sepat di mulutnya. Bagaimana mereka bisa sedangkan aku tak bisa? Sudah dari dulu aku mencoba, berjanji akan berhenti saat si Sulung masuk TK. Namun tak pernah kutepati sampai kini si Sulung hampir lulus SMA. Aku berjanji aku tak akan menjanjikan hal yang sama pada anak kedua. Itu pun kalau ada, kalau istriku tak membawa si Bungsu ke surga saat proses kelahirannya.

“Jadi, apakah ada kerjaan untukku?”

Lamunanku yang hampir menuju surga akhirnya buyar. Tangga – tangga yang kubangun dalam rangka ke sana perlahan ambyar. Berai menjadi sekadar asap yang memadati ruang bawah sadar. Aku pura – pura terbatuk diselingi deham yang samar. Kuketukkan abu rokok di bibir asbak secara slow motion. Mencoba santai tanpa takut dibantai atau dihantam asbak karena batas kesabaran yang meledak. Aku tahu lelaki yang satu ini mampu menahan apapun melebihi lapar dan dahaga. Aku juga yakin ia baru saja menahan gempuran istri di rumahnya. Seyakin bahwa pekerjaan ini tak bisa untuknya.

“Jadi ...”

“Kerjaan ini ternyata gak bisa buatmu.”

Dengan cepat aku memotong.

“Maksudnya gak bisa?”

“Ya karna kamu puasa.”

“Maksudmu apa, sih? Sejak kapan orang puasa gak boleh kerja?”

“Kerjaan ini terlalu berat buat orang yang puasa.”

“Kamu lupa aku cuma buruh serabutan yang melakukan kerjaan apapun? Seberat apapun? Dalam kondisi apapun? Andai cukup seperti Ramadan sebelumnya, banyak orang – orang yang ingin mempercantik rumahnya menjelang lebaran. Maka aku pun banyak kerjaan dari rumah satu ke rumah lainnya sampai H-1. Istriku pun tak ‘kan pernah senyinyir Ramadan tahun ini.”

Lelaki itu pun mulai bercerita tentang update terbaru jumlah orang terjangkit yang didapatnya secara detail dari berita di televisi. Sebab hanya itulah pekerjaannya di rumah sehari – hari. Kalau sudah capek menonton atau budek dengan tausiah istri, ia pun rehat sejenak dari kegiatannya dengan bermain bersama si Kakak atau bermain bersama bidadari di mimpi. Sejak saat itu pula istrinya mulai nyinyir tentang seorang kepala keluarga yang mencoba taat pemerintah. Mulai senang berkhotbah tentang tanggung jawab seorang suami dan kewajibannya mencari nafkah. Selalu berpetuah tentang azab dan siksa tetapi lebih terdengar seperti sumpah serapah. Apalagi menjelang lebaran tahun ini, banyak kekosongan seperti toples kue yang harus diisi dan baju lebaran yang belum terbeli. Terkadang ia mengulang cerita yang sama dengan paragraf pertama. Juga tentang berapa kali ia tak jumatan selama empat bulan kebijakan pemerintah ini. Kemudian ia pun mulai serius mempresentasikan alasannya, mengapa ia wajib mendapatkan pekerjaan menjelang lebaran ini?

Ceritanya mengalir lancar seperti bacaan imam salat tarawih. Membuat siapa pun ingin mendengarnya, walaupun harus mendatanginya dengan tertatih. Ia mengaku bahwa siang itu ia begitu menyesal karena telah berlalu dengan membanting pintu. Ia tahu kalau istrinya sedikit pun tak merasa terganggu, tetapi bagaimana kalau ternyata si Kakak sedang tidur? Suara keras itu pasti akan membuatnya terkejut kemudian bangun dengan kehilangan sosok ayah yang biasa sehari – hari bersamanya. Lalu ia akan menangis, merengek meminta ibunya untuk mencarikan ayahnya. Mungkin ibunya akan membopongnya sambil membisikkan -cup cup cup ayah lagi kerja, sebentar lagi pulang. Akan tetapi, si Kakak akan menangis lebih keras karena tak percaya akan ucapan ibunya. Bahwa yang ia tahu selama ini ayahnya selalu di sisinya dan selalu bermain dengannya. Atau mungkin ibunya akan marah – marah dengan mengingat kebenciannya pada si Ayah sambil mengancam akan menceburkan anaknya ke bak mandi kalau si Anak tak berhenti menangis.

Di luar rumah, lelaki itu berkali – kali beristighfar. Berulang – ulang mengelus dada dan berdoa semoga puasanya terjaga. Dua kalimat yang berulang kali diucapkannya. Melangkah, hanya itu yang harus dilakukannya. Tetapi tak tahu ke mana sampai ia ingat seorang teman yang barangkali bisa membantunya. Dikiriminya pesan melalui Whatsapp sambil melambungkan harap. Keyakinannya mantap, bahwa ia datang pada orang yang tepat.

Dua belas batang rokok, itulah lama waktunya Sugiharto bercerita. Tambah satu batang untuk cerita; mengapa ia memberi anaknya nama Muhammad Kafka? Lengkap dengan arti, filosofi dan latar belakang pemberian nama tersebut. Tak terasa sudah hampir waktu berbuka. Ia bersiap pulang tanpa berharap ada menu buka di rumahnya. Tenggorokannya kering setelah mulutnya cerita berbusa – busa.

“Buka di sini aja, Mase ... mau anget apa dingin? Sekalian makan juga boleh,” tiba – tiba pemilik warung menyapanya.

“Tapi saya gak bawa uang, Mbak ... “

“Jangan khawatir, Mas ... biar saya yang bayarin!” suara dari belakangku.

“Iya, Mas ... dienakin aja bukanya ... “ kata yang lain.

Ceritanya mengalir lancar seperti bacaan imam salat tarawih. Membuat siapa pun ingin mendengarnya, walaupun harus mendatanginya dengan tertatih. Ternyata dua kalimat ini terbukti. Begitu banyak yang tiba – tiba menjadi makmum. Berdiri penasaran kemudian duduk di sekelilingnya. Menyimak dengan khusyuk seperti delapan puluh orang kaum nabi Nuh yang mabuk tersaruk - saruk dalam lautan kata – kata.

“Kapan – kapan ke sini lagi ya, Mas ... kita ngabuburit bareng,”

“Iya, Mas ... “

“Oh, Mbak ... udah mau maghriban. Punyaku berapa sekalian punya masnya?”

“Gak usah, Mas ... punya mase gratis.”

“Terima kasih banyak lho, Mbak, Mas ... “

Tiba – tiba seorang lelaki tua bertopi koboi mendekati dan menyalaminya. Ada gumpalan yang diselipkan di sana.

“Buat si Kakak di rumah.”

You Might Also Like

0 komentar