Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2019

eksak #16 | Kronologi

Gambar
Cerita sebelumnya, gue sebut Pentagram Ketiga. Kalo belum baca, mending baca dulu biar paham cerita selanjutnya.1. eksak #11 | Tanatologi.
2. eksak #12 | Livor Mortis.
3. eksak #13 | Victim Family.
4. eksak #14 | Kegalauan Sejarah.
5. eksak #15 | Hidden Message. Rani terpekur di ruang kerjanya, merenungi kasus pembegalan dan pembunuhan yang tengah diselidikinya. Foto-foto korban berserak di atas meja. Mulai dari foto di TKP sampai foto dari hasil autopsi. Tapi kasus pembegalan bisa saja dicoret dari catatan kasus, karena menurut pelapak motor seken di Pasar Maling, korban sendirilah yang telah menjual motornya. Itulah pengakuan si Pelapak setelah eksak memperlihatkan foto korban kepadanya.Rani memegang beberapa foto hasil autopsi. Bola matanya bergerak cepat. Perhatiannya meloncat-loncat dari satu foto ke foto lainnya dengan harapan menemukan petunjuk lain dari luka korban. Luka memar di belakang kepala, abrasi di buku-buku jari tangan dan ... bola matanya berhenti berputar, tertuju pa…

eksak #15 | Hidden Message

Gambar
Cerita sebelumnya, tepatnya tahun lalu.PrologDalam satu pemikiran yang kosong dan dalam, selalu ada esensi yang meruam di baliknya – penyakitan, lemah, lalu perlahan-lahan mati karena tak dimengerti. Percuma saja seorang pelukis menciptakan begitu banyak pesan yang tersirat dalam guratan cat di atas kanvas, jika tak satu pun penikmat lukisannya akan melihat, apalagi memahami serta mengapresiasi pesan yang tersembunyi di baliknya. Mungkin ini adalah sumber frustasi yang paling luar biasa bagi para seniman. Padahal Andy Warhol, Pop Artist tahun 60’an, pernah berkata:Jika anda ingin tahu siapa itu Andy Warhol, lihat saja tampak luar dari lukisan-lukisan saya dan tampak luar dari saya sendiri. Itulah saya. Tidak ada apapun di baliknya.Reaksi yang nyaris drastis ini berbicara banyak tentang segelintir kecenderungan untuk mencari makna tersembunyi, tapi lebih lantang lagi; berbicara tentang penerimaan bahwa kebanyakan orang tak peduli tentang makna yang tersembunyi. DialogSebutan Pasar Mali…

Rematch

Gambar
HomeFirst MatchVersusRematchScore

Segalanya busuk dalam cinta dan politik. Manipulasi informasi, debat penuh caci-maki, pamer misi dan kontes visi. Massa dari kedua calon pemimpin kita ini agaknya lebih rajin mencoreng muka lawannya ketimbang merias wajahnya sendiri. Di akhir lomba, gue yakin, keduanya akan muncul dengan garis muka yang sama. Kusut, berantakan, messy; like a clown in the end of parade.Rematch. Peta perpolitikan Indonesia tampaknya cuma punya dua figur; Jokowi versus Prabowo. Ini perhitungan popularitas saja. Sederhananya; Prabowo masih berada dalam posisi pesaing paling potensial bagi Jokowi. Pun, hanya Jokowi seorang yang bisa menandingi tekad pantang menyerah Prabowo sejak dari first match. Semua calon-calon lain tak memiliki massa maupun gaung politik yang cukup untuk melampaui mereka berdua. Bandwagon-nya sudah jelas; tinggal para badut-badut politik itu memilih mau jadi parasit untuk siapa."Kita seringkali tak ingat apa yang kita miliki, tetapi lebih sering m…