Thursday, July 20, 2017

Anak Tangga Ketiga Belas


Aku mendengar suara. Asalnya dari lantai dua. Erang kesakitan yang membuat bulu kudukku berdiri. Rintih yang menyayat hati.

“Aini … Itu Kamu?”

Tak ada jawaban. Hanya rintih itu terdengar makin pilu. Akhirnya aku bangkit dari tempat dudukku. Memberanikan diri menuju ke arah suara. Di kaki tangga, aku berhenti. Mendongak ke ruang atas. Suaranya makin jelas.

“Aduuuhh … Tolonggg … “

“Siapa, ya?”

Kakiku gemetar. Terasa ngilu saat kutapaki anak tangga pertama. Jantungku berdebar hebat. Tak pernah aku merasa setakut ini. Apalagi di rumahku sendiri. Bibirku bergetar, tanpa sadar menghitung setiap anak tangga yang kuinjak.

“Sepuluh … Sebelas … Dua belas … “

Entah mengapa suara itu perlahan pelan. Dan sama sekali berhenti saat aku sampai di anak tangga yang ketiga belas. Kedua kakiku menginjak anak tangga itu sekarang. Kuperhatikan sekeliling. Meraba dinding, pegangan tangga, bahkan melongok ke lantai bawah. Kuteruskan menaiki tangga sampai ke lantai atas. Kubuka semua pintu kamar di ruangan atas. Nihil. Aku tak menemukan petunjuk apapun. Suara itu benar-benar hilang. Apa gerangan suara itu?

Hari berikutnya, aku mendengar suara itu lagi. Seperti kemarin juga, suara itu lenyap saat aku menapaki anak tangga ketiga belas. Mungkin ini hanya halusinasiku saja. Ponsel bordering dari saku celanaku. Pesan singkat dari Aini.

Sayang, jangan larut-larut ya pulangnya … Ada kejutan untukmu malam ini.

Apa maksudnya ini? Bukankah hari ini dia yang pergi, sedangkan aku di rumah seorang diri?

Kali ini terdengar suara gaduh di luar. Diselingi suara tangis dari seseorang yang kukenal. Itu suara Aini. Dengan cepat aku menuju pintu depan. Saat kubuka pintu, aku terkejut. Kulihat Aini menangis di antara para saudara dan beberapa tetangga dekat.

“Ada apa, Ai? Apa yang membuatmu menangis?”

Tak ada jawaban. Hatiku pedih. Tak pernah aku melihat Aini menangis seperti ini. Dan makin hancur ketika aku menyaksikan Burhan memeluk erat Aini. Sama hancurnya seperti ketika aku mendapati Burhan dan Aini di kamar atas, kemudian Burhan mendorongku, menggelinding dan tersangkut di anak tangga ketiga belas.

“Yang tabah ya, Ai … Semoga arwah suamimu tenang di alam baka.” Bisik Burhan.

Jumlah: 333 kata | Prompt #145 MFF



3 comments:

  1. ya ALLAH aku merinding tenan, udah bacanya jam segini pula >,<

    ReplyDelete
  2. Pasti tokoh ini tinggal di semacam kastil ya? Yang jumlah anak tangganya hingga puluhan? Sehingga ketika seseorang jatuh, dia bisa berguling-guling lalu 'tersangkut' di anak tangga ketigabelas. Hehe

    ReplyDelete
  3. kunjungan malam trmksihbnyak infonya kawan

    ReplyDelete