Friday, May 19, 2017

Bulan Hitam


Untuk anak-anak sekolah dasar, menggambar bulan mungkin adalah hal yang tidak lazim. Mereka mengenal bahwa bulan menampakkan diri di malam hari. Segala sesuatu di dunia ini memang bisa menarik perhatian, tapi apa menariknya kegelapan bagi anak-anak ? Jadilah kebanyakan anak akan menggambar dua gunung kembar dengan matahari terbit di tengahnya. Juga sawah-sawah yang dikungkung dalam kotak-kotak sama ukuran. Seperti gambar pemandangan milik Alya yang dipuji guru pagi itu, atau gambar milik Rudi tentang kegembiraan anak-anak bermain layangan di padang rumput yang cerah.

“Rano, apa yang kamu gambar?” tanya guru.

“Rano gambar bulan.” Jawab Rano datar.

Tampak gambar lingkaran memenuhi kertas Rano. Sebuah pensil warna hitam dicoretkan di dalam lingkaran, dari yang mulanya diarsir tipis hingga berwarna hitam pekat.

“Kok bulannya hitam?”

“Seperti ayah gambar.”

“Ayah yang mengajarimu?”

“Bulan ayah hitam.”

Guru tak meneruskan bertanya. Dahinya berkerut mencerna kata-kata anak itu. Rano memang tak seperti anak lainnya. Semenjak kehadiran seseorang di rumahnya. Seseorang yang mencinderai masa anak-anak Reno, seorang yang setiap malam menggambar bulan hitam di mata ibunya.

167 kata | Prompt #142 | Monday Flash Fiction


1 comment: