Saturday, November 5, 2016

MFF | Prompt: #131


Tumbal tahun kedua

By eksak

Setiap pagi aku menyapu. Taman depan, teras, dalam rumah, dapur, sampai kebun belakang tak luput dari sapuanku. Tak usah memuji betapa rajinnya aku, karena itu memang kewajibanku sebagai seorang pembantu. Kalau tak begitu, dari mana aku dapat meringankan beban kedua orang tuaku? Ah, cukuplah sampai di situ. Membuat cerita berima seperti itu lebih melelahkan daripada pekerjaanku. Lagipula itu bukan keahlianku. Ya, karena aku hanya seorang pembantu.

"Hei, apa itu?"

Kutemukan berhelai-helai rambut putih berserak di depan pintu kamar majikanku. Tepat benar, ini memang rambut. Tapi rambut siapa? Tuan dan Nyonyaku belum beruban. Apalagi anak-anak mereka. Ibunya Tuan beruban, tapi rambutnya tak sepanjang itu. Si Fino, anggora putih kesayangan keluarga ini juga tak mungkin. Jelas-jelas ini bukan bulu kucing. Sudahlah kusapu saja, tak akan selesai pekerjaan kalau aku terlalu lama menganalisa.

Selama seminggu berturut-turut aku selalu menemukan rambut itu tersebar di ruangan rumah. Padahal sebelumnya tak pernah. Hal itulah yang membuatku jengah. Jangan-jangan ada penghuni lain di rumah ini. Hantu? Ah, tak mungkin! Lebih baik aku berdiskusi langsung dengan empunya rumah.

"Nyonya,"

"Ya ... ada apa, Sri?"

"Seminggu ini pas saya nyapu selalu nemu rambut putih panjang di lantai. Kira-kira rambut apa ya, Nya?"

"Rambut putih? Uban, maksudmu?"

"Iya,Nya ... "

"Bhahaha ... ada-ada aja kamu, lagian mana ada di rumah ini yang ubanan?"

"Nah, Ibunya Tuan kan ubanan. Tapi gak sepanjang uban yang saya temuin, sih."

Sejenak hening. Kulihat raut wajah Nyonya berubah. Matanya memerah. Menyala. Tak lama padam. Kemudian berkata,

Sri, saya belum pernah cerita ya kalau Ibunya Tuan udah meninggal setahun yang lalu?"

Apa?! Ganti mataku yang merah menyala. Tak mungkin! Lalu siapa yang selalu kulihat di balkon saat aku sedang menyapu taman? Memang selama ini aku belum pernah menyapa atau sebaliknya, tapi benarkah yang kulihat itu hantu? Balkon itu ada sebuah kamar di lantai dua. Tuan berpesan aku tak usah membersihkan kamar itu. Ibunya tak mau diganggu, katanya. Tapi mengapa Nyonya memberi tahu kalau Ibunya Tuan sudah meninggal?

***

Aku melihat lagi sosok itu. Bukan di atas balkon, tapi tepat di hadapanku. Rambut putihnya tergerai sampai ke lantai. Matanya jahat, taringnya mencuat. Bekas darah di ujung bibirnya mengkilat. Habis Nyonya rumah dibuat sekarat. Tumbal tahun kedua agar sosok laknat tak terlihat.



Setan Rambut Putih

Prompt #131: Horror! | Monday Flash Fiction | Jumlah: 367 Kata


4 comments:

  1. ealah baru tahu kalo sudah dotcom

    ReplyDelete
  2. Blognya kurang responsif nih. Aku buka pke hape artikelnya terpotong sebagian.

    ReplyDelete
    Replies
    1. maaf, ya ... entar dibenerin lagi template-nya. :)

      Delete