Sunday, March 27, 2016

eksak #14 | Kegalauan Sejarah


Di Dalam Angkot

Siang itu, selepas kuliah, eksak ada janji dengan Rani untuk mengunjungi pasar maling terbesar di Asia untuk mencari barang bukti berupa motor korban pembegalan. Gara-gara motor bututnya rewel, terpaksa deh, ia naik angkot.

"Pasar maling, Pak!" seru eksak pada sopir angkot yang lagi ngetem di depan gerbang kampusnya.

Pak sopir hanya mengangguk dan eksak pun masuk ke dalam angkot. Di dalam angkot sudah ada tiga mahasiswi yang entah sudah berapa jam dengan setia menemani Pak Sopir ngetem. Terlihat wajah mereka mulai berminyak dan kusut seperti handuk kumal yang biasa ada di leher sopir angkot. Kalau kelamaan ikutan ngetem pasti wajah eksak juga seperti mereka, atau bahkan malah lebih parah. Untungnya setelah dua penumpang berikutnya naik, angkot pun mulai melaju.

Agak riskan juga sebenarnya menyebut nama pasar itu sebagai tujuan kali ini. Tapi sepertinya tempat itu memang sudah terkenal di kota ini dan terdengar biasa saja. Yang tidak biasa adalah radio FM dalam angkot yang menyiarkan acara musik klasik. Lagunya, Sinfonietta karya Leoš Janáček. Tak bisa dikatakan lagu yang cocok untuk didengarkan dalam angkot yang tiba-tiba terjebak kemacetan di tengah kota. Sopir angkot juga rupanya juga tak berminat untuk mengganti gelombang radio ke siaran dangdut koplo. Juga tak berminat untuk keluar dari angkot lalu ikutan demo menolak transportasi online. Mungkin ia sudah terlalu pusing karena panas dan macet. Sopir setengah baya itu hanya mengatupkan mulut dan menatap deretan kendaraan tanpa ujung di depan matanya. Tampak lelah dan tak bersemangat. Bisa dibayangkan juga bagaimana rupa para mahasiswi yang luntur make up-nya di dalam angkot itu. Hihihi ...

Berapa orang yang bisa mengenali Sinfonietta karya Janáček ini hanya dengan mendengarkan bagian awal komposisi musik itu? Barangkali jawabannya antara "dikit banget" dan "hampir gak ada". Mungkin para mahasiswi ini juga tak kenal, tapi entah mengapa eksak bisa mengenalinya.

Janáček menciptakan simfoni kecil itu pada tahun 1926. Tema pada bagian awal sebenarnya dibuat sebagai fanfare terompet untuk pertandingan olahraga. Kemudian pikiran Eksak melayang ke Cekoslowakia pada 1926: Perang Dunia I telah berakhir, akhirnya negeri itu bebas dari penjajahan panjang bangsa Habsburg. Rakyat minum Plzeň beer di kafe-kafe, membuat senapan ringan yang keren, menikmati zaman damai yang singkat di Eropa Tengah. Dua tahun sebelumnya, Franz Kafka mati dalam kemiskinan. Tak lama kemudian Hitler muncul entah dari mana dan melahap negeri yang indah itu dalam sekejap. Sambil mendengarkan musik, eksak yang bersandar di jok dekat kaca belakang itu memejamkan mata. Lewat angin yang masuk dari jendela yang terbuka, ia membayangkan angin segar yang berembus di padang Bohemia dan memikirkan pergantian sejarah.

Pada akhir 1926 sampai awal 1927, pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) terjadi di negeri tercinta ini. Juga tak banyak yang tahu walaupun dalam historiografi nasional, peristiwa ini juga disebut-sebut, tapi dengan proporsi yang lebih terbatas jika dibandingkan dengan bab tentang Peristiwa Madiun 1948 dan Peristiwa 30 September 1965. Dalam nalar struktur naratif historiografi, hal ini bisa dipahami dengan mudah: yang dihadapi PKI pada 1948 dan 1965 adalah pemerintah Republik Indonesia sendiri, maka apa yang dilakukan PKI itu secara gamblang bisa dilabeli sebagai tindakan makar atau pengkhianatan sehingga PKI layak bahkan wajib dihancurkan karena dipandang sebagai musuh bangsa. Sementara itu, terhadap apa yang dilakukan PKI pada 1926-27, institusi yang bertanggung jawab dalam memproduksi wacana sejarah resmi agaknya mengalami kegalauan untuk membingkai dan memaknainya. Sebab, yang ditantang PKI adalah pemerintah kolonial Hindia Belanda. Padahal, dalam wacana sejarah resmi yang nasionalistis, lebih tepatnya nasionalisme anti-kolonial, siapa pun yang berani melawan atau memberontak terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda, apa pun motifnya, akan dilabeli sebagai pahlawan.

Di sini agaknya historiografi resmi dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah: melabeli para tokoh PKI dalam Pemberontakan 1926-27 sebagai pahlawan jelas akan mengurangi bahkan membalik gambaran tentang mereka sebagai pengkhianat. Akan tetapi, menyamaratakan apa yang PKI lakukan pada 1926-27 dengan apa yang mereka lakukan pada 1948 dan 1965 jelas merupakan suatu bentuk anakronisme sejarah. Lalu bagaimana historiografi resmi nasional memaknai peristiwa tersebut? Galau, kan? Begitu pula eksak yang cuma berpikir dalam angkot macet.

Tak terasa angkot yang ditumpangi eksak telah sampai di depan pasar. Dari kejauhan tampak cewek berkaos biru tosca melambai ke arahnya. Cewek itu berdiri di samping pedagang mie ayam dekat pintu masuk pasar. Warna kaos yang dipakainya tampak serasi dengan warna cat gerobag mie ayam itu.

Bersambung ...



11 comments:

  1. Pasar maling berarti tempat penampungan barang curian kah? Dimana tuh?

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener, ada kok di beberapa tempat di berbagai kota .... hehe

      Delete
    2. Kayaknya yang kayak2 pasar loak begitu yah ...
      Eh bikin buku saja Ksak ...

      Delete
    3. tapi gak semua hasil curian dan barang loakan, kok ... :)

      Delete
  2. Pasar maling berarti tempat penampungan barang curian kah? Dimana tuh?

    ReplyDelete
  3. Pasar maling? Wah, ngeri juga dengarnya, ya, Mas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak seperti yang terdengar, Dab ...

      Delete
  4. NAh, saya juga ikutan galau dengan pemikina Eksak. Terkadang siapa pun, atau kelompok apapun punya beberapa sisi karakter bukan hanya satu. Ada kalanya ia melakukan aksi kepahlawanan adakalanya menjadi 'penjahat'.. Jadi sebutan akan samar2 dan bisa saja kontradiksi ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe, jangan ikutan galau, dong ... biar yang galau gue aja, sendiri.

      Delete
  5. Ini sebenernya ngomongin angkot, lagu, pki, mahasiswi yg kumus2 atau cewek kaos biru yg couple sama gerobak mi ayam? Jawabbb!!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. jadi ceritanya elo nanya, nih?

      Delete