Monday, July 27, 2015

eksak #13 | Victim Family



HARIAN POS – Aksi sadis komplotan pembegal motor yang meresahkan warga kembali terjadi. Kali ini pelaku tak hanya merampas motor, tapi juga  menewaskan korbannya. Korban tewas bernama Andra Permana (30 tahun), ia terkapar bersimbah darah dengan  luka memar di sekujur tubuhnya. Dari hasil visum sementara, korban tewas akibat bla … bla … bla …

Divisi pembunuhan, 09.10

BRAAAKK!

Suara surat kabar dibanting ke atas meja. Raut wajah inspektur Zahir tampak merah padam. Dipandangi anak buahnya satu persatu. Semua menunduk, tak ada yang berani menatap wajah inspektur.

“Begitulah media massa kita! Selalu terburu-buru mengangkat berita. Padahal baru  perkiraan sementara, seolah kita tak pernah bergerak menangani masalah ini. Semakin marak terjadi di masyarakat  tapi belum satupun pelaku yang tertangkap! Bagaimana menurut Briptu?”

“Sementara perkembangan kasus baru sampai latar belakang korban dan alamat keluarganya saja, Pak!” ucap Briptu Santoso.

“Itu semua orang juga sudah tau! Tak adakah petunjuk lain yang mengarah ke jaringan pelaku? Saya yakin selama ini mereka terorganisir. Rani!”

“Siap, Pak!” Rani yang dari tadi asyik meneliti berkas serentak berdiri.

“Saya serahkan kasus ini padamu! Datangi rumah korban terbaru, korek semua data korban dari keluarganya. Laksanakan!”

“Siap, laksanakan!”

Rani bergegas ke luar ruangan, meninggalkan sang Inspektur dan Briptu Santoso yang bermuka masam. Belum mau ke mana-mana. Sebenarnya ia malah ngantuk mendengarkan marah-marahnya sang Inspektur pagi itu. Ngopi dulu, ah … cari inspirasi! Kemudian ia pun menuju ke kantin.

“Kopi item satu, Mbak!” katanya pada mbak penjaga kantin.

“Siap, Neng!”

Tak lama kemudian, segelas kopi hitam telah tesaji di atas meja. Sambil berpikir tentang kerangka kasus, Rani menyeruput si Hitam sedikit demi sedikit. Jadi rencananya hari ini, ia mau mengunjungi rumah korban. Ngajak Eksak, ah … pikirnya. Segera diraihnya gagang telepon eh, handphone maksudnya.

“Assalaamu ‘alaikum, Bro!”

“Wa ‘alaikum salaam … “

“Kalo nggak ada acara penting, gue tunggu elo di halte bus depan SMA entar siang abis dhuhur!”

“Wah, sebenernya gue ada  … “

“Weis! Anggep aja nggak penting! Awas kalo nggak dateng!”

@@@

Rumah keluarga korban, 13.14

Setelah salam, seorang laki-laki berumur 60-an membukakan pintu dan mempersilakan Eksak dan Rani masuk.

“Kami dari kepolisian, Pak. Kedatangan kami ke mari, pertama dalam rangka silaturahim. Kedua, kami juga turut berbelasungkawa atas apa yang menimpa anak Bapak, Andra Permana. “ Rani menjelaskan.

“Terima kasih kehadiran Ananda sekalian, saya hanya berharap tak ada lagi orang yang bernasib seperti Andra.” Jawab Pak Burhan.

“Boleh Tanya-tanya sedikit  ya, Pak … sebagai data penyelidikan?”

“Dengan senang hati, Nak. “

“Andra ini anak keberapa, ya?”

“Andra adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Adiknya laki-laki bernama Kendra Permadi (25 tahun) dan adiknya yang satu lagi perempuan bernama Diandra Permata (20 tahun).”

“Apakah Andra sudah berkeluarga?”

“Sebenarnya bulan depan Andra sudah akan menikah, tapi ternyata Allah berkehendak lain.”

Rani tak segera meneruskan pertanyaannya kepada Pak Burhan. Ia merasakan pilu di raut wajah orang tua itu. Bu Burhan yang dari tadi diam menyimak percakapan mereka juga mulai menitikkan air mata. Hening. Hingga dari arah dapur, anak perempuan Pak Burhan datang membawa nampan berisi gelas minuman. Kemudian jari lentiknya menata gelas di atas meja. Eksak tak berkedip memperhatikannya, sampai Rani menginjak kaki Eksak.

“Aw!” pekik Eksak.

“Ada apa, Nak Eksak?” tanya Bu Burhan.

“Tidak apa-apa, Bu … “

“Ini adiknya Andra, namanya Diandra.” Pak Burhan memperkenalkan.

“Diandra lagi belajar menjahit, ya?” terka Eksak.

“Bukan waktunya ngegombal, Monyong … “ bisik Rani sambil lagi-lagi menginjak kaki Eksak.

“Iya. Kok tau, Bang?” jawab Diandra malu-malu.

“So … soalnya jari telunjuk dan jempolnya agak kapalan walaupun masih tipis, pasti megangnya kuat-kuat pas mau mutus benang, kan? “ terang Eksak sambil meringis kesakitan.

“Iya, Bang.”

Perbincangan pun ters berlanjut. Setelah kaki Eksak sampai gepeng gara-gara dinjak-injak Rani, mereka pun undur diri dari rumah Pak Burhan.


@@@


“Data yang kita dapet hari ini lumayan!” sorak Rani.

“Lumayan apaan kalo kaki gue jadi korban juga?” keluh Eksak.

“Bhahaha … nggak papa sekali-kali mah, Bro! Yang penting kita jadi tau nama anggota keluarga korban dan nama calon istri korban yang namanya Yuni Mawahdah (27 tahun). Juga temen korban yang pagi-pagi pas korban dibegal katanya nebeng mau berangkat kerja, namanya Herman Setiawan (29 tahun). Besok kita main ke pasar maling motor  terbesar di Asia!”

“Mo ngapain?”

“Ya, nyari motor korbanlah! Kita uber tuh si Penadah Begal. Emangnya mau jual motor butut elo? Mana laku?”

“Gue juga dapet hasil, nih! 081XXXXXXXXX … “

“Nomer hape siapa, tuh?”

“Adik perempuan korban!”

“Kapan elo minta?”

“Ada, deh … “

AWWW! Lagi-lagi kaki Eksak jadi korban.


@@@

Background dari sini.


14 comments:

  1. your article is this very helpful thanks for sharing...:)

    ReplyDelete
  2. Baru kali ini ada koran ada tulisan blablabla. Buahahaha... Bagus, bang. Jadi ingat seorang kawan blogger, namanya feby. Dia hobi bikin cerita misteri dengan ada unsur humor.

    ReplyDelete
    Replies
    1. cewek ya temennya? Boleh dong kenalin biar bisa sharing misteri ... pleased

      *modus

      Delete
  3. Mantap, mantap. Suka dengan gaya penulisan Eksak ini, :)
    Alah lamo indak main ka siko.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ambo se lah lamo ndak mancaliak blog surang, apo lai blog urang lain? Bhahaha

      Delete
  4. your article is this very helpful thanks for sharing...:)

    ReplyDelete