Wednesday, April 29, 2015

eksak #12 | Livor Mortis





Mortis
Livor Mortis






Bagian sebelumnya ...



Bakda Isya’. Masih mengenakan sarungnya, Eksak duduk di teras. Ditemani segelas hitam kopi kental dan hape butut yang dari tadi dipandanginya. Sambil menunggu Rani yang katanya mau menelepon. Beatbox jangkrik dan dubstep katak sawah adalah kolaborasi indah yang menambah suasana malam itu menjadi semakin on beat. Sementara itu pikiran melayang pada kejadian tadi siang. Pada analisisnya yang berkenaan dengan ilmu tanatologi yang hanya dipelajarinya lewat sebuah e-book.

When we start killing,
It’s all coming down right now.
From the nightmare we’ve created,
I want to be awakened somehow …
(I want to be awakened right now!)

Tiba-tiba reffrain The Howling-nya Within Temptation berdentam dari hapenya. Tanda bahwa ada seseorang yang menelepon. Siapa lagi kalau bukan Rani?

“Assalaamu ‘alaikum … “

“Wa ‘alaikum salaam wa rahmatullah.”

“Lagi ngapain?”

“Nungguin elo nelpon,”

“Hehehe, ‘em sorry … ini juga gue baru balik dari kantor.”

“So, gimana perkembangan kasusnya?”

“Lumayan, pengambil dompetnya udah ketangkep. Dia juga yang udah ngambil jaket korban,”

“Siapa? Pasti dia juga yang ngebunuh korban!”

“Belum tentu juga, ada fakta yang terlewat dalam penalaran elo, Eks. Hmmm … coba deh kita balik ke analisis semula.”

“Hehe, gue udah ngerasa kalo penalaran gue ternyata emang belum sempurna. So, dari mana gue musti ngejelasin?”

Hening sesaat.

“Coba jelasin dari penyebab kematian korban. Kita tahu bahwa ada luka pukul benda tumpul pada bagian kepala korban. Apa menurut elo pelaku nyerang korban dari belakang?”

“Nggak juga sih, Ran. Luka pukul emang terdapat pada kepala bagian belakang, tapi bukan berarti korban diserang dari belakang.”

“Kenapa elo berkesimpulan kayak gitu?”

“Karna adanya genangan darah di samping kepala korban, Ran. Menurut gue korban meninggal karna didorong ampe jatuh ke belakang. Jatuhnya korban yang nyebabin luka di kepala bagian belakangnya, trus pelaku membalik tubuh korban makanya ada genangan darah di samping kepala korban dan itu juga yang bikin korban ditemuin dalam kondisi telungkup.”

“Dan apa alasan pelaku ngebalikin tubuh korban?”

“Itu motifnya, Ran. Alasan pelaku ngebunuh korban adalah untuk ngambil barang berharga korban. Pelaku membalik tubuh korban, pastinya buat ngambil dompet korban yang disimpan di dalam saku belakang celananya. Hal ini juga ngejelasin fakta ditemuinnya sidik jari nggak dikenal yang terdapat pada sabuk celana milik korban.”

Sesaat hening.

“Oke! Sekarang kita kembali ke hal pokok. Correct me if wrong! Menurut penalaran yang elo jelasin tadi, gue bisa nyimpulin bahwa; pelaku ngebunuh korban atas dasar perampokan. Pelaku ngedorong korban, kemungkinan diawali oleh perkelahian lebih dulu, ampe kepala bagian belakang korban terluka. Korban meninggal dari luka tersebut. Trus pelaku membalik tubuh korban untuk ngambil dompet korban, trus pergi ninggalin TKP.”

Eksak mengangguk.

“Halo? Elo kok diem aja?”

“Gue kan ngangguk-ngangguk?”

“Gue mana keliatan? Kita kan di telpon, kirain elo malah molor.”

“Bhahaha … “

“Jadi begini, Eks. Seharusnya nggak ada genangan darah di samping kepala korban karna pelaku langsung membalik tubuh korban beberapa saat setelah korban jatuh. Tapi di TKP sendiri nyatanya ada genangan darah, hal ini jelas bertentangan ama kesimpulan elo tadi, kan?”

“Ya kalo menurut gue sih, pelaku nunggu dulu beberapa menit buat mastiin korban udah bener-bener mati apa belom, baru deh kemudian membalik tubuh korban.”

“Cuma beberapa menit? Elo yakin?”

“Yakin, Ran. Pendarahan juga langsung terhenti. Kalo nggak darah bakalan ngalir dari samping kepala, kan?”

“Tapi elo ngelupain sesuatu, Eksak.”

Lagi-lagi hening. Membuat Eksak semakin penasaran. Kali ini agak lama, tak Cuma sesaat.

“Halo, Ran? Elo tidur, ya?”

Tak ada jawaban.

“Halo?”

“Halo. Eh, sori sori … tadi gue kebelet, nggak sempet pamitan.”

Eksak memukul jidatnya sendiri saking gemesnya ama cewek gokil yang satu ini.

“Ada 2 hal yang elo lupain, Eks! Yaitu posisi mayat saat ditemuin dan kondisi livor mortis pada mayat.”


Livor mortis? Sekilas Eksak teringat kembali pada penjelasan di e-book tentang tanatologi yang dibacanya. Livor mortis, perubahan warna kulit pada mayat yang diakibatkan oleh terkumpulnya darah pada satu bagian tubuh tertentu. Darah yang terkumpul itu kemudian akan menyebabkan efek berubahnya warna kulit sehingga terlihat merah keungu-unguan.

“Ya, apa yang elo bilang sama sekali nggak mungkin ketika elo mempertimbangkan kembali posisi mayat dan kondisi livor mortis-nya. Livor mortis, pastinya elo tau, terjadi ketika jantung seseorang udah nggak memompa darah, dengan kata lain udah meninggal. Ketika jantung nggak memompa darah, darah yang berada pada nadi korban nggak sepenuhnya berhenti. Sama kayak sifat air yang mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah, darah yang berada di nadi juga bakalan bersifat kayak air . Darah yang mengalir itu kemudian akan berkumpul pada satu atau beberapa titik bagian tubuh yang rendah atau yang bersentuhan dengan permukaan tanah. Mungkin elo luput memperhatikan warna kulit tubuh bagian belakang korban, dalam hal ini yang keliatan kulit tengkuk dan bagian lengan di atas siku. Darah yang berkumpul itu nyebabin perubahan warna kulit tadi berwarna merah keunguan.

“So, bisa jadi bakal keliatan jelas warna kulit punggungnya kalo kita ngebuka t-shirt yang dipakenya?”

“Yups! Livor mortis pertama kali berlangsung sekitar 30 menit setelah kematian, terus berkembang sekitar 3 ampe 4 jam, dan bakalan fixed (tetap) dalam 8 ampe 10 jam setelah kematian. Pada korban kali ini, livor mortis atau post mortem lividity berada pada tubuh bagian belakang. Artinya korban berada dalam posisi telentang ketika proses livor mortis berlangsung ampe kemudian bener-bener fixed. Tapi pas ditemuin, korban berada pada posisi telungkup, kok bisa gitu? Jawabannya adalah ada yang membalikkan tubuh korban, dan waktu ketika orang tersebut membalikan tubuh korban adalah antara 8 ampe 10 jam setelah kematian, atau sekitar jam 8 pagi ini.”

“ Dengan kata lain, pelaku pengambilan dompet yang tertangkap tadi bukan pembunuh korban. Dia nemuin mayat korban dalam keadaan terlentang, trus niat jahat terbersit di otaknya buat menggerayangi tubuh korban, kali aja ada barang berharga yang ketinggalan. Tentu aja dengan membolak-balikkan tubuh korban.”

“Yups! Bener banget!”

Eksak menyadari kebenaran dari penjelasan Rani tersebut. Gila! Hal sepenting itu bisa luput dari pandangannya. Ia memang harus belajar banyak dari Rani, cewek detektif yang brilian.

“Elo emang canggih, Ran! Angkat gue sebagai murid, Guru!”

“Nggak usah, ya … “

“Bhahaha … “

“Trus udah ketahuan dong, identitas korban dari dompetnya?”

“Namanya Andra Permana. Satu hal yang cerdas dari analisis elo atas perbedaan warna kulit tangan dan wajah tadi siang, dia emang pengendara motor. Ada SIM dan STNK di dompetnya.”
Eksak merasa terharu ternyata ada juga analisisnya yang benar. Bangga sendiri, senyum-senyum sendiri.

“Udah gak usah senyam-senyum geje kayak gitu, elo musti masih banyak belajar dari gue!”

“Siap, Guru! Eh, elo kok tau kalo gue lagi senyam-senyum? Kita ‘kan via telpon?”

“Insting detektif!”

“Bhahahaha … “

Tawa mereka memecah kesunyian malam. Hingga Eksak diteriakin ama emaknya. Kenapa malem-malem ketawa kenceng kayak gitu? Sableng kali ni anak! Hardik emaknya Eksak.

“Eh, Ran. Emak gue ngamuk-ngamuk, tuh!”

“Nah elo sih, ketawanya kenceng banget!”

“Trus apa menurut elo korban dibegal motornya ama si pembunuh?”

“Bisa jadi, sih. Tapi kita bisa memperkecil kemungkinannya dengan mengidentifikasi siapa Andra Permana ini. Untuk ngelakuin hal ini tentunya seorang detektif musti ngandalin kemampuan observasi dan deduksinya. “

Observasi dan deduksi? Kedua hal itu masih belum dikuasai sepenuhnya oleh Eksak. Well, setidaknya belum sampai selevel dengan Rani yang sudah mengeyam pendidikan di akademi kepolisian.

“Ya udah deh gitu aja. Besok kita sambung lagi. Udah malem banget!”

“Oke, Ran! By the way, thanks ya buat pelajarannya … “

“Sama-sama, Eks! Entar gue kabarin kalo udah tau pelakunya.”

“Siap, Guru!”

“Assalaamu ‘alaikum … “

“Wa ‘alaikum salaam wa rahmatullah … “

Tut … Tut … Tuuuttt …

Telepon diputus. Sebuah pelajaran berharga untuk Eksak tentunya. Walaupun itu dari seorang sahabat, tapi memang kemampuan analisanya di atas Eksak. Perlu diakui hal itu. Dan Eksak beruntung mempunyai sahabat seperti Rani.

Sobat! Apakah kasus ini akan berlanjut? Apakah pihak kepolisian akan menemukan sang Pembunuh? Tunggu di bagian berikutnya, ya …

Bersambung …


5 comments:

  1. Wah lu cukup menguasai juga ya bikin cerita detektif.. cry4

    Btw pernah baca, katanya kalo mau bikin cerita-cerita misteri, kita kudu mempertajam sensitivitasan kita dulu. Harus sensitif dulu, harus mudah tersinggung dulu, so then ceritanya jauh lebih detail. Gitu!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lagi belajar aja, Sob! hehehehe, nah bikin detailnya itu yang gue belum pernah baca, maklum nulis tanpa ilmu. spoiled

      Delete
  2. Wow... Latihan bikin cerita detektif nih. Keren... Dan hihi... Ada humornya juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe,, mohon doanya aja Bu, biar lancar belajarnya .. pleased

      Delete