Monday, April 27, 2015

eksak #11 | Tanatologi


Kasus sebelumnya ... Jam makan siang di sebuah café. Ramai. Karyawan dan pekerja kantoran kelaparan tampak lalu-lalang mencari makan. Sementara itu di sebuah meja dekat pintu masuk, dua gelas besar Crispy Sandwich Ice Cream di atasnya.

“Tumben gue ditraktir es krim?” kata Eksak dengan mulut penuh es krim.

“Ya itung-itung rasa syukur gue aja punya temen sekeren elo,” jawab Rani kalem.

“Atas apa?”

“Karna berkat kasus-kasus yang dipecahin bareng elo kemaren, sekarang gue diangkat jadi detektif resmi di divisi pembunuhan.”

“Waawww! Selamat ya,Ran! Nggak nyangka gue akhirnya punya temen detektif sungguhan."

Pastinya gue bisa belajar banyak dari elo!”

Eksak menjabat erat tangan Rani. Ada kegembiraan yang tak bisa diungkap dengan pemecah sandi manapun.

Eh ya, ngomong-ngomong skor DET (Detective Exam Test) elo berapa, Ran?”

“98.7, Eks …”

“Waw, itu keren banget!”

Tiba-tiba Strong Enough-nya Sheryl Crow mengalun dari hape Rani.

“Bentar ya, Eks …halo? Di mana? Oke! Saya segera ke TKP.”

“Ada kasus?”

“Iya. Yuk ikut!”

***

Akhirnya Eksak dan Rani tiba di TKP. Ternyata di situ sudah ada petugas koroner. CSU (Crime Scene Unit) sendiri sudah tiba terlebih dahulu untuk mengumpulkan bukti fisik. Para pengumpul bukti itu terlihat sibuk di belakang garis polisi yang dijaga dua petugas berperawakan tinggi besar. Rani menyuruh Eksak untuk menunggu, kemudian mendekati petugas koroner. Rani berbincang-bincang sebentar lalu menoleh dan member isyarat kepada Eksak. Kemudian mereka berdua pun langsung memasuki area TKP.

Korban kali ini adalah seorang pria berkulit putih seperti di iklan-iklan pembersih wajah. Identitas korban tidak diketahui, karena di TKP tidak ditemukan dompet maupun kartu identitas milik korban. Namun, dari penampilannya bisa diperkirakan umur korban sekitar tiga puluhan. Korban pertama kali ditemukan oleh pejalan kaki yang kebetulan sedang buang air kecil di semak-semak pinggir trotoar. Memang tak dibenarkan buang air sembarangan, tapi paling tidak dia bisa menjadi saksi awal. Pada saat ditemukan korban berada pada posisi telungkup, mengenakan t-shirt lengan pendek berwarna putih dan celana jeans berwarna hitam. Terdapat luka benturan pada kepala bagian belakang. Di samping kepala korban terdapat genangan darah yang sudah mengering. Untuk sementara, penyebab kematian diduga karena blunt force trauma.

“Saya lagi jalan, Pak … eh, tiba-tiba kebelet, ya udah saya nyari tempat yang agak sepi buat pipis tapi saya malah menemukan mayat korban,” terang si Pejalan kaki.

“Lha, sekarang anda sudah jadi pipis belum?” tanya Eksak.

“Nggak jadi, Pak. Nanti aja deh di rumah.”

Rani menunjuk ke punggung korban. Eksak memfokuskan perhatian lebih pada bagian yang ditunjuk Rani. Memang ada apanya?

“Coba ditekan punggungnya, Eks!” pinta Rani.

“Keras, kayak kayu.” Komentar Eksak.

“Rigor mortis … ” ucap Rani.

“Kekakuan pada mayat. Tahap awal kekakuan dimulai dari dua sampai empat jam pertama setelah kematian. Kekakuan berawal dari otot rahang, terus menjalar ke bawah hingga otot-otot pada kaki. Sekitar 12 jam setelah kematian, proses ini akan komplit dan kekakuan akan bertahan selama 12 jam selanjutnya. Kekakuan baru mulai menghilang dalam rentang waktu 24 - 48 jam setelah kematian. Saat ini tubuh korban sudah mencapai tahapan komplit dalam rigor mortis, jadi bisa diperkirakan bahwa kematian korban terjadi sekitar 12 jam yang lalu, yaitu antara pukul 11 sampai 12 malam.” Lanjut Eksak.

“Wah, keren lo, Eks! Ternyata elo udah nguasain hal dasar dalam mengestimasi waktu kematian. Bolehlah, bolehlah … trus apalagi yang elo ketahui dari kondisi korban ini?”

“Penyebab kematian korban adalah benturan/pukulan keras di kepala oleh benda tumpul.”

“Trus?”

“Motif pembunuhannya, Ran. Pelaku mengincar dompet dan barang berharga korban. Itulah kenapa nggak ditemuin dompet maupun kartu identitas korban.”

Rani mengangguk. Eksak tersenyum puas, meskipun analisisnya belum tentu benar. Dia kan nggak sekolah detektif kayak si Rani, ya maklumlah kalau meleset. Tapi paling tidak dia boleh merasa bangga karena dia diberi kesempatan oleh Rani untuk belajar langsung di TKP.

“Ehm, permisi … apakah ditemukan sidik jari yang bukan milik korban di celana atau ikat pinggang korban?” Tanya Rani pada salah satu anggota CSU.

“Ya, ada. Di sabuk korban terdapat sidik ibu jari yang bukan milik korban,” jawab anggota CSU.

“Bagus. Segera kirim ke lab dan proses dengan AFIS (Automated Fingerprint Identification System)!” instruksi Rani kepada petugas yang menjaga TKP.

Sementara itu Eksak masih berdiri di samping mayat yang saat ini hendak dibawa petugas koroner untuk diautopsi. Ketika mayat korban dalam keadaan terlentang di atas tandu koroner, ia menyadari sesuatu.

Pertama, wajah korban yang cukup babak belur. Kedua, abrasi (luka lecet) pada buku-buku jari tangan korban. Ketiga, perbedaan warna yang terlihat pada lengan di atas pergelangan tangan dan punggung tangan korban. Warna kulit di punggung tangan korban terlihat lebih gelap dibandingkan kulit pergelangan tangan ke atas. Dan terakhir, hal yang meyakinkan Eksak terhadap hipotesis yang ia kembangkan adalah wajah korban. Kali ini bukan luka memar yang diperhatikan, tapi perbedaan warna kulit di sekitar lingkaran mata korban yang lebih cerah daripada kulit wajah lainnya. Tiba-tiba Rani menegurnya.

“Eks?”

“Yups!”

“Nemuin sesuatu lagi?”

“Emmmm … kayaknya korban adalah pengendara motor, deh! Tuh liat perbedaan warna kulit di atas pergelangan tangan dan dibawahnya, akibat sinar matahari. Bisa jadi tadinya dia pake jaket. Juga perbedaan warna di sekitar matanya, bekas kacamata. Korban dibegal! Dia ngelawan, hingga terjadi perkelahian. Buku-buku jarinya abrasi, wajahnya juga babak belur. Trus dia didorong dan terjungkal ampe kepala belakangnya menghantam trotoar. Trus tubuhnya dibalik buat ngambil dompet dan lain-lain di kantong celana korban, makanya dia ditemuin dalam keadaan telungkup.”

“Tuh kan, elo emang jago analisis! Tinggal nunggu hasil identifikasi AFIS. Kepala Polisi juga udah nyuruh petugas lapangannya buat nyari orang yang ngebawa dompet korban.”

“Ya, udah deh, moga cepat ketemu pelakunya. Gue pulang dulu, ya … udah sore, nih!”

“Oh ya, Eks … detektif yang baik selalu mempertimbangkan analisisnya.”

“Maksudnya, Ran?”

“Udah, katanya mau pulang? Entar malem gue telpon, deh!”

“Mmmm, oke deh.”

Eksak pun pulang. Tapi ia kepikiran kata-kata terakhir Rani tadi. Jangan-jangan analisis gue salah. Bisakah kalian mengetahui kebenaran di balik kasus ini? Who? What? Why? How?

***

Bersambung ...

* Tanatologi merupakan ilmu yang mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan kematian yaitu: definisi atau batasan mati, perubahan yang terjadi pada tubuh setelah terjadi kematian dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut.



8 comments:

  1. Cerita yg keren, Sak. Cuma tolong perhatikan warna background. Semakin dibaca ke bawah makin blur, gak nyaman di mata, Man!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih,Ed! Dan saran diterima... :)

      Delete
  2. Menurutku, warna back ground seperti itu justru bagus, menghalangi orang buat copas. Hati2, jangan sampai ada yang copas dan menerbitkan cerita2 di sini. Ada lho beberapa kasus, orang ngambil tulisan di blog oreng lain lalu diterbitkan atas namanya. Nah, tantangan menarik nih buat kaka Eksak ..... kapan menerbitkan cerita2nya? ;)

    Oya saya suka lho header yang sekarang .... keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, doain aja ya Bu ... Makasih buat sarannya! happy

      Delete
  3. Hheheee..suka sekali saya tulisannya bang..heee

    ReplyDelete
  4. Wah keren cerita detektifnya, Sak. Belajar jadi pengarang detektif ya. Sukses.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyo, daaaa , doakan se ambo capek sege! hoho

      Delete