Friday, March 6, 2015

eksak #8 | Sang Pengacara




lawyer
Ada sebuah tempat, yang mungkin tak pernah terlintas di pikiranmu padahal ia selalu bermain saja di situ. Tempat mereka yang memiliki tugas menjaga ide-ide liar, sesuai dengan apa yang dititahkan. Tentang kehidupan para penjaga ide, yang bertanggung jawab untuk membuat kita pusing pala berbi dan mati-matian mendapatkannya. Ide pemikiran yang seringkali hanya berputar-putar di depan mata. Warna orange sumsum otak, kerut manja di dahi dan burung-burung ilusi yang beterbangan di sekitar kepala.

Oh, para Penjaga Ide ... kirimin pulsa, dong! Masa' lagi berperan jadi detektif buat nuntasin kasus #7 | Medan Magnet malah kehabisan pulsa? Emang sih gue jarang ngisi pulsa, tapi kenapa bisa kehabisan pulsa 'kan gak pernah diisi pulsanya? Eksak menggerutu liar. Akhirnya Pak Polisi yang nungguin aksi si Eksak selanjutnya gak sabar, kemudian ngangkat corong pengeras suaranya tinggi-tinggi, "CUT! CUT!"


"Dah nih, Eks! Pake hape gue aje." Tiba-tiba ada suara cewek yang nawarin hape tapi gak lebay kayak cici-cici yang jualan hape di mall. 

"Lha, Ran! Elo kok ada di sini? Elo ngebuntutin gue, ya? Mau tau rumah gue, ya? Mau ngelamar gue, ya?" Eksak belagak kaget tapi tetep pake 4L4Y. 

"Ebusyet! Ge er amat ni bocah! Kan kalo pulang gue juga lewat rel kereta ini? Gue liat rame-rame ada apa nih palang pintu? Ternyata ada elo yang lagi di-cut-cut ama Pak Polisi, ya udah gue samperin!" balas Rani sewot. 

"Ya jangan ngambek dong, Ran. Gue kan cuma ekting," 

"CUT! CUT! Ni mo ampe kapan kelar? Malah pada ribut berdua? Cepetan keburu magrib!" tiba-tiba Pak Polisi nge-CUT. 

"Siap! Sori, Pak! Ini juga lagi usaha. Entar kalo temen saya ini ngambek terus gak jadi minjemin hapenya terus gimana coba? Bapak emang punya pulsa?" jawab Eksak. 

"Ya, ya udah deh. Lanjut aja! Rolling, EKSYEN!!!" 

Sementara Pak Polisi mengarahkan gaya sambil minta kepada para wartawan yang membawa kamera untuk meliput adegan demi adegan, eksak pun berjibaku dengan ke-ngambek-an Rani. Akhirnya Rani pun luluh hatinya. Bukan karena senyum manis dan memelas eksak, tapi karena kamera mulai mengambil gambar wajahnya. Malah sengaja nyari-nyari kamera mana yang lagi ON. 

Hampir magrib, Eksak pun mulai lapar eh, menelepon. 

"HALO ... " 

"Ya, halo?" 

"Dengan Bapak Heru Prasetyo?" 

"Ya, saya sendiri." 

"Kami dari kepolisian mau memberikan kabar duka. Isteri Anda mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat." 

"Ciyusss?!" 

"Miapah? Eh, iya, Pak Heru. Bisakah Anda segera ke sini?" 

"Baik, Pak! Saya akan segera ke sana." 

TUT ... TUT ... TUT ... 

Telepon terputus. Eksak pun mengembalikan hape itu kepada Rani karena itu bukan miliknya. Eksak selalu ingat pesan moral emaknya, jangan suka memiliki barang kepunyaan orang lain karena kamu punya barang sendiri walaupun butut. 

"Jadi gimana kelanjutannya, Nak Eksak?" tanya Pak Polisi. 

"Nah terus maunya gimana? Apa mau diterusin sekarang atau entar aja di postingan selanjutnya?" tawar Eksak.

"Yaelah, Eks! Kasus yang ini aja udah molor berbulan-bulan masa' iya elo pengen ulur lagi? Postingan selanjutnya juga belum tentu berapa bulan lagi nongolnya? Otak elo 'kan lagi kena writing block!" sambar Rani.

"Etdah, Rani! Bawaannya sewot mulu. Oke kita tungguin aja si Heru. Begitu dia dateng, kasus ini dijamin kelar!"

Pak Polisi, para wartawan dan semua yang hadir di TKP serta yang baca tulisan ini cuma geleng-geleng kepala menghadapi kekonyolan Eksak. Tak lama kemudian, Heru Prasetyo alias suami korban pun tiba di lokasi kejadian. Hampir sebelas dua puluh dengan azan magrib yang berkumandang dari corong Pak Polisi eh, dari corong masjid maksudnya. Kasus ini musti cepet dikelarin, pikir eksak. Kalau gak, entar dimarahin emak gara-gara pulang telat plus dimarahin Allah karena telat sholat magrib.

"Oh, istriku .... " Pak Heru histeris sambil mengguncang-guncang tubuh istrinya, berharap istrinya bangun seperti di adegan sinetron.

"Selamat sore, Pak." Pak Polisi mendekati Pak Heru.

"Iya, Pak."

"Bisa lihat surat-suratnya?"

"Surat apa, Pak?"

"Bapak tahu kesalahan Bapak apa?"

"Maaf, Pak Polisi. Bapak gak lagi operasi ketupat, jadi tolong simpan surat tilang itu!" timpal Eksak mengingatkan.

"Oh, maaf ... maaf ... " Pak Polisi pun tak jadi menilang.

"Tapi silakan tangkap Pak Pengacara Heru Prasetyo ini karena dia yang telah merencanakan semua yang mengakibatkan kecelakaan sang Istri!" lanjut Eksak.

"Lho? Apa yang saya rencanakan? Istri saya 'kan kecelakaan, kenapa saya yang ditangkap?" Pak Heru membela diri.

"Iya, Nak Eksak. Kenapa Pak Heru yang harus ditahan? Sedangkan dia baru datang ke TKP setelah dikabari bahwa istrinya meninggal karena kecelakaan?"

"Triknya sudah saya beberin di eksak #7 kan? Dengan memotong kabel rem mobil dan memanfaatkan jadwal perlintasan kereta yang dihafal pelaku dan pengetahuannya tentang medan magnet rel kereta."

"Lalu bagaimana dengan alibi pelaku?"

"Ya, udah jelas to? Pelaku sendiri yang membatalkan alibinya yang hampir sempurna. Tadi saya meneleponnya tanpa menyebut lokasi kejadian perkara, saya cuma memintanya datang karena istrinya kecelakaan. Buktinya dia datang dengan sempurna tanpa kesasar ke tempat lain. Motifnya UDRT atau Urusan Dalam Rumah Tangga, untuk lebih jelasnya sila Bapak tanya sendiri ke sang Pengacara ini."

"Yups! Jelas sekali! Oke, kalau begitu tangkap Pak Heru ini dengan tuduhan pembunuhan berencana!" perintah Komandan Polisi kepada anak buahnya.

"Ta, ta, tapi, Pak?"

Tak ada yang menggubris pembelaan Heru Prasetyo. Tak pantas pembelaan bagi seorang pelaku kriminal. Goblok banget kalau ada pengacara atau pembela yang mati-matian jadi kuasa hukum bagi seorang pesakitan yang jelas-jelas salah di mata masyarakat. Demi apalagi kalau bukan demi uang? Gak peduli itu uang hasil nyolong, ngerampok, mbegal, korupsi, pencucian, gratifikasi, dkk. Asal ada uang dan siapapun yang sanggup bayar mahal, kuasa hukum pun berdatangan tanpa diminta.

"Wuih! Sobat gue emang maknyus!" pekik Rani sambil mengacungkan keempat jempolnya.

"Terima kasih, Nak Eksak atas bantuannya dan juga buat Nak Rani yang mau meminjamkan hapenya." Kata Pak Polisi.

"Sama-sama. Pak! Sudah tugas kami sebagai warga negara yang baik untuk mendukung tugas penegak hukum negeri ini." ucap Eksak terharu.

Eksak dan Rani pun pamit undur diri karena waktu magrib udah mau abis. Sebentar lagi isya. Malam di lintasan berkilatan karena lampu blitz dari kamera para pemburu berita. Sampai ketemu di postingan selanjutnya, itupun kalau ada kasus baru. Tapi jangan doakan bakal ada kasus lagi, ya ... Doakan saja Indonesia Raya ini aman dan tentram tanpa ada kasus yang menimpa. Aamiin ... 

***

Bersambung ...


29 comments:

  1. tuh Rani jempol kaki ikut diangkat? hmmm

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, buat ngganepi biar empat! dad

      Delete
  2. Replies
    1. bisya bisya bisya ... peace2

      Delete
  3. Heru tau aja ya, padahal cuma disuruh datang ke tkp. Pasti dia pelakunya.
    Bisa sajo eksak mambuek carito, :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe, lanjut Da ... drunk

      Delete
    2. minta alamat, saya mau kirim buku gratis, karena sampeyan pengomentar ke 7, jadi dapat buku sesuai janji saya di posting blog saya. kirim sajo via email yo

      Delete
  4. Polisinya aneh kalo percaya begitu saja. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Polisinya emang aneh masa' maen sutradara-sutradaraan segala, pake CUT - ROLLING - EKSYEN? Huhuhu ... cry4

      Delete
  5. Cerbung yak... Duh masa iya ada org dpt telpon gaswat ciyus miapah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi dia latah, kan lagi tren? huhhh

      Delete
  6. Hahahahahhahahaahahhaa




    Btw dr mana eksak tau no hp pak heru?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dari data setelah polisi berhasil mengidentifikasi mobil korban, via nopol dan data kepolisian. Kan tercantum juga nope, jupe dsb ... Dibahas kok di #7 ... happy

      Delete
  7. amin
    moga tentrem adem ayem :)

    ReplyDelete
  8. Swear ngekek abiez ampe berguling-guling # :)))) pake bahasa lebay dan gaoel jaman skkrg, terpaksa melototin ulang tiap kata gaoel tsb . Peace2 bro

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe, makasih udah mau guling-guling eh, baca Mbak ... happy

      Delete
  9. Swear ngekek abiez ampe berguling-guling # :)))) pake bahasa lebay dan gaoel jaman skkrg, terpaksa melototin ulang tiap kata gaoel tsb . peace2

    ReplyDelete
  10. Jadiin novel aja mas ..ala2 lupus nih gaya bahasanya, tapi ini serial detektif:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe, makasih atas sarannya Mbak ... :)

      Delete
  11. terima kasih ata informasinya......

    ReplyDelete
  12. moga tentrem adem ayem :)

    ReplyDelete