Sunday, November 30, 2014

Inception

Carita nu saacanna Time to Go Home



inception
sumur


"Keyra ... "


Aku terbangun. Masih dalam kamar berantakan ala seorang yang menghabiskan hari-harinya untuk bermain game. Sedangkan Pras dan Gisel tengah asyik bermain di salah satu monitor.

"Eh, si Bos udah bangun ... " seloroh Gisel.

"Dari tadi elo nyebat-nyebut nama Keyra. Siapa, tuh? Cewek baru elo, ya?" selidik Pras.

Setengah sadar kucoba mengingat apapun yang baru saja kualami. Atau barangkali aku hanya bermimpi.

"RoleRanger? Kalian gak inget kita pernah ngunjungin rumah simulasinya? Sebuah game tentang Hezepba? Keyra, sang Putri Tunggal? Bukankah gue baru aja kembali dari sana?"

"RoleRanger? Hezepba? Keyra? Elo ngomong tentang apa, sih?"

"Elo kemana aja? Orang dari tadi juga elo molor, nah gue ama Gisel maen Tekken."

"Masa' kalian lupa gue baru aja nerima misi penting?"

"Ah, kayaknya ngigau nih anak!"

"Iya, mending elo cuci muka dulu sanah ... !"

Apa benar itu semua hanya sebuah mimpi? Petualangan mendebarkan di dunia penuh sihir, sengketa ruh dsb. Apa itu hanya bunga tidurku?

"Rud! Rudi ... ayo Pras dan Gisel diajak makan malem dulu!"

Suara ibu membuyarkan lamunanku.



***



"Rud! Rudi ... "

Aku terbangun. Kupandang sekeliling, kamar yang beda dari biasanya, tapi tak begitu asing. Tentu saja, karena ini kamarku, tapi bedanya lebih rapi dan tak berantakan. Panggilan ibu yang membangunkanku. 

"Bangun, Rud ... di depan ada temenmu, tuh!" kata ibu dari depan pintu kamar.

"Siapa, Bu? Pras dan Gisel, ya?" tanyaku sambil mengucek-ucek mataku yang membendul.

"Pras dan Gisel siapa? Kok Ibu gak pernah tau nama temenmu itu?"

Wajar saja, karena ibuku begitu gaul. Beliau tahu nama semua teman-temanku. Kalaupun ada teman baru, Beliau pasti langsung menanyakan segala hal, mulai dari sifatnya, keluarganya, tabiat dll. Tapi tak begitu masalah selama itu untuk kebaikan pergaulanku.

"Pras dan Gisel, Bu. Mereka kan sering bareng Rudi maen game di rumah. Masa' Ibu gak tau?"

"Game? Sejak kapan kamu suka maen game?"

Aku terhenyak. Kulongok ke belakang ke dalam kamarku. Tampak rapi. Hanya ada seperangkat PC yang membantu tugas kuliahku. Tak satupun game yang terisi di harddisk-nya. Ya, memang sepertinya aku tak suka game. Lalu siapa Pras dan Gisel? Apakah ini juga mimpi?

"Eh, kamunya malah bengong! Buruan, si Keyra udah nungguin di ruang tamu, tuh!"

Keyra?



***



Bumi, masa lalu.

Mengapa aku yang harus mengantarnya pulang? Kuharap ini sudah saatnya aku kembali. Begitu satelit pengawas menerima sinyal, Zyreth akan mengirimkan eksaport yang segera membawaku meninggalkan planet primitif ini. Semoga badai petir tidak menghalangi jalur komunikasi.

Manusia primitif itu masih terpaku di hadapanku. Muatan listrik di atmosfer mengganggu tabir kasat mata, membuat posisi kami saling samar terlihat. Tak bisa menunggu lebih lama, aku harus segera melakukan penghapusan memori ingatannya.

"Keyra ... "

Sapaan itu sejenak menyentakku. Seperti lecutan sinar sihir yang membuatku membeku, sekedar ingin tahu apa yang ingin diucapkannya.

" ... aku mencintaimu ... "

Entah mengapa kata-kata itu bekerja seperti serapah mantra yang memaksa tubuh dan ruhku berefek tyndall. Eksaport berkendali otomatis itu berada telah tepat berada di atas kepala, sinar penariknya mulai mengangkat tubuhku ke atas. Aku masih mengarahkan alat penghapus memori ke wajahnya. Tapi sepertinya terlambat, hanya dalam hitungan detik aku telah berada di dalam eksaport. Apakah aku sempat menghapus ingatan temporernya? Menghapus ingatan pria primitif itu akan seorang putri yang terbang ke langit?


***

GAME OVER


No comments:

Post a Comment