Thursday, November 6, 2014

A Place: Lembah Baliem


There are people i miss too much, a place i miss too much, holes i want filled, things i don't understand, battles against my enemy that i don't want to fight, an upcoming rainy season 'em afraid to look in the sky, and emotions that feel both wrong but right but are only feelings.

A PLACE

It was just before I fell really hard in love with photography and capturing life with a lens. And also just before I really discovered my own sense of style (blogging really helped me out with that, interestingly). And now ... I dream of going there, armed with my camera and a little more confidence. Sobs, you wanna know what I really dream of?

Saat ngebuka mata, seolah-olah gue udah berada di kota itu. Gue bisa ngerasain udara dinginnya yang nusuk-nusuk menembus tulang dan kabut tebal yang ngebutain panca indera. Gue bisa nyium bau pinang dan sirih yang menguar di setiap sudut kota serta mendengar alunan lembut pikon yang dimainin. Gue kayak lagi menapaki jalanan aspal kecil kota Wamena dan menyapa perempuan-perempuan setengah telanjang dan pria-pria berkoteka,

"Mama la’o! Bapa la’o!"

Semua terasa ada di depan mata. Dan proyeksi yang begitu nyata ini ngebantu gue buat nyeritain ke Elo tentang sebuah tempat.

1600 mdpl


Bila surga emang benar-benar ada di langit, dengan ngacungin jari telunjuk gue saat ini, niscaya gue bisa nyobek gumpalan awan di atas kepala. Sehasta jarak saja dari surga. Dari gula kapas raksasa yang menaungi sepanjang Jaya Wijaya. Kalo sebagian orang yang bilang bahwa surga itu adalah hamparan pantai berpasir putih dengan langit biru, sebagian lagi percaya surga itu adalah gunung hijau dengan segala kesejukannya. Tapi buat gue, surga adalah gabungan semuanya. Perpaduan langit biru dengan hamparan pasir putih, dikelilingin pegunungan, sesekali dibungkus kabut, dilingkupin lembah dengan permadani berwarna hijau terang nyejukin mata.




Surga itu adalah sebuah desa bernama Aikima, Lembah Baliem (1600 mdpl). Matahari bisa pelit banget di sini. Sinarnya kadang direbut oleh selimut kabut. Dulu, di pagi hari, kabut tebal selalu turun nutupin lembah. Kabut ini tebalt banget ampe jarak pandang pejalan kaki pun terbatas. Gak jarang pesawat yang mau masuk ke Wamena musti balik lagi ke Jayapura karna kesulitan buat landing. Sekarang, walopun gak lagi setebal dulu, kabut masih setia ngehias keindahan alam Lembah Baliem dan seolah mempertegas unsur mistis yang dimilikinya.




Mata gue memandang jauh hamparan pasir putih tanpa pantai itu. Sebuah keajaiban yang cuma dimiliki Indonesia. Di sebelah sana, ada sekumpulan anak pribumi yang lagi mainan pasir. Ada juga turis asing yang asyik berjemur, udah kayak di pantai aja. Padahal tempat ini di pegunungan dan jauh banget dari pantai.




"Ko tak mo ikut maen paser kah?"

Tiba-tiba Angela ngagetin gue. Angela adalah anak gadis Pak Theodorus, pastor pertama di Lembah Baliem. Dia yang jadi sahabat pemandu gue selama berada di sini. Kulitnya hitam menawan, giginya putih bersih, bibir tebal sensual dan rambutnya yang menyerabut khas penduduk pribumi.

"Ah, cukuplah gue nikmatin keindahan ini ... "

"Besok ko jadi pi ke Jakarta?"

"Iya, liburan gue kan udah mo abis."




Sejenak Angela terdiam. Ngelempar pandang jauh ke arah padang rumput di distrik Pikke yang biasa dilintasi satu dua ekor Cessna setiap harinya. Karna cuma pake pesawat kecil itulah para wisatawan bisa masuk ke pedalaman.

"Kapan ya sa bisa pi ke Jakarta?"

"Kenapa? Ko sedih gue mo balik, toh?"

"Iihhh, siapa bilang sa sedih? Ge er kali ko, Pa ce?"

Busyet, dah! Gue dipanggil Pa Ce? Huh, dasar Ma Ce! Gue biarin aja Angela yang dengan gemes mukulin bahu gue. Hadeuh! Ternyata dia bertenaga banget, ampe pegel lengan gue.

"Sa mo ikut pemilihan Puteri Indonesia ... " kata Angela kemudian hening.

"Oo ... "

Gue cuma bisa ber-o-ria. Gue perhatiin Angela dari ujung kaki ampe ujung rambutnya yang keriting. Cantik juga! Manis, meskipun kulitnya item. Eksotis! Seperti panorama pasir putih yang menambah indahnya lembah ini. Sederhana! Seperti kearifan lokal penduduk setempat yang ngejaga tanah mereka. Mereka gak butuh harta apalagi kedudukan. Mereka gak butuh apa-apa. Mereka gak ngerti tanah mereka mulai tergerus pertambangan liar yang ngancem kekayaan alam mereka, mereka cuma ngerti kako hutan-hutan mulai banyak yang hilang.





Aku gak perlu uang ribuan
Yang aku mau uang merah cepe'an
Aku gak butuh kedudukan
Yang penting masih ada lahan 'tuk makan

Asal ada babi untuk di panggang
Asal banyak ubi untuk ku makan
Aku cukup senang ...
Aku cukup senang
Dan akupun tenang

Aku gak ngerti ada banyak tambang
Yang aku tahu banyak hutan yang hilang
Aku gak perduli banyak nada sumbang
Kita orang ini dianggap terbelakang

Asal ada babi untuk di panggang
Asal banyak ubi untuk ku makan
Aku cukup senang ...
aku cukup senang
Dan akupun tenang

Hei ...
Yamko rambe yamko ...
Aronawa kombe

Hei ...
Yamko rambe yamko ...
Aronawa kombe

Te mino kibe kumbano kumbu beko
Yumano kumbu awe ade

(Slank - Lembah Baliem)



It’ll happen one day. But for now, it’s nice to dream. :)



9 comments:

  1. Masya Allah.. Bagus bgd kak Eksak...
    kapan bs ke sana y? aku udah ngeliat gambarnya aja bisa ngerasain plus tulisan kakak. aduh... pasirny.. bawa pulang...

    ReplyDelete
    Replies
    1. bawa pulang? bungkus, dah!!! dad

      Delete
  2. eeaa kirain beneran dah pernah kesana.. Tertipuuuu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sak saya butuh bantuanmu nih! Please ...

      Delete
    2. Bantu apa, Ma? smoke

      Delete