Pagi Di Ranu Kumbolo



sumur

Dari balik semak, gesa kunaikkan resletingku. Sebagian terpercik membasahi celana. Ah, sial! Bau pesingnya mencemari udara pagi Ranu Kumbolo. Tugasku pagi ini adalah mencari kayu bakar untuk memasak. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Baru beberapa langkah, kulihat setumpuk kayu di tengah jalan setapak. Rupanya tak payah mengumpulkan kayu bakar. Semua telah disediakan oleh alam.

"Dik, kayu itu punya saya!"

Tiba-tiba seorang bapak berusia 50-an menegurku. Tampangnya sangar dengan kapak besar di tangannya. Mungkin hanya pencari kayu bakar. Hampir saja aku mengambil langkah seribu, tapi urung setelah berpikir dua kali. Bagaimana jika bapak itu melempar kapaknya?

"Maaf, Pak! Saya kira gak ada yang punya,"

"Kamu yang tadi kencing di semak-semak itu, ya?"

"Eh iya, Pak."

Padahal aku yakin bahwa tak ada yang melihatku tadi. Tapi mungkin baunya diumbar angin sampai mengusik hidung si Bapak ini.

"Lain kali jangan kencing di situ, ya. Nanti penunggunya marah ... "

Bapak itu setengah berbisik. Ditambah lagi hembusan angin yang menambah suasana semakin mencekam. Aku bergidik mendengar kata 'penunggu', tapi berusaha meyakinkan diri bahwa itu hanya tahayul.

"Iya, Pak. Lain kali tidak."

"Adik bikin tenda di mana?"

"Di pinggir danau, Pak."

Syukurlah bapak itu mulai ramah, pikirku. Sembari menyulut rokok untuk mengusir dingin, kemudian kutawarkan kepada si Bapak.

"Rokok, Pak."

"Oh, Saya sudah berjanji kepada istri saya untuk tidak merokok."

Obrolan sederhana pun tercipta. Mulai dari kebiasaan para pendaki di Semeru yang suka membuang sampah sembarangan sampai UU Pilkada Tak Langsung yang membunuh aspirasi rakyat. Tak terasa matahari mulai terik menembus dedaunan.

"Sepertinya saya harus kembali ke tenda. Teman-teman pasti sudah jengkel menunggu saya."

"Baiklah, hati-hati ya kalau mau ke puncak!"

"Siap, Pak! Oh, ya Bapak tinggal di Ranu Panekah? Atau punya pondok di sekitaran sini?"

"Saya tinggal di situ aja, kok!"

Bapak itu menyeringai sambil menunjuk semak tempatku kencing tadi.

***

Jumlah: 299 kata | Prompt #64 MFF.

Komentar

  1. saya kira penunggunya mahluk halus..ternyata penunggunya si bapak pencari kayu bakar wkwkwkwk

    BalasHapus
  2. Ya ampun, ngeri amat. Ternyata si Bapak itu penunggunya, ya? Bukan manusia benaran dong?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo bukan manusia beneran trus apa, dong? ;)

      Hapus
  3. bapak itu penunggunya ya.. hati hati di santet..

    BalasHapus
  4. gue pensaran sama lanjutannya, bakalan di apain tu anak ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. paling juga dibuat kurban. hehehe

      Hapus
  5. nah lho.... ketemu langsung sama penunggunya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa minta tanda tangan juga, lho ... :p

      Hapus
  6. penunggunya baik juga ya. gak balas dendam dikencingin...

    BalasHapus
  7. ntar dibales dipipisin lho.

    BalasHapus
  8. wakakaka, besok gantian ya,

    BalasHapus

  9. jadi bapak itu mahluk halus atau bapak itu emang mahluk seperti kita yg tinggal disitu?

    BalasHapus
  10. hehehe semoga si pendaki gak pingsan :D

    BalasHapus
  11. Ternyata Bapak Penunggu-nya apdet berita politik ya, di Ranu Kumbolo ada tv kali y ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. bapaknyd kan up to date, Um! hekeke

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita ABG | Pendidikan Seks

BTW, Apa Sich Arti CMIIW, FYI, IMHO & LOL?

Belajar Bahasa Minang

Ayat-Ayat Teleportasi

Cerita Anak SMP | Bag. III: Geng