Wednesday, September 3, 2014

Sampah di Tanah Limbah



Matahari siang ini begitu terik. Aku duduk di atas kotak telepon tua yang tertimbun separuh. Pastinya telepon ini adalah salah satu penemuan sukses di masa lalu. Meskipun sekarang tampak tua dan tersisihkan di antara tumpukan sampah ponsel dari berbagai jaman. Di depanku ada seorang kakek. Tangannya sangat cekatan memilah-milah sampah antara logam, PVC dan brominated flame-reterdants. Tubuhnya legam, tenggelam dalam limbah elektronik yang dikirim dari berbagai belahan bumi. Tak heran kulitnya dipenuhi kutil.

Tiba-tiba kakek itu mengangkat wajahnya, kemudian menatapku lekat.

"Jadi bagaimana kau masih berdiam di tempat ini, Nak?"

Mungkin ia lupa bahwa pertanyaan itu telah dilontarkannya puluhan kali.

"Kau tau, Nak? Bahwa dulu aku adalah seorang pecinta alam. Dan seorang pecinta sejati tak akan berpaling walaupun yang dicintainya telah sedemikian rusak."

"Jadi apakah dulu bumi tak seperti ini, Kek?"

"Ya, tentu saja tidak. Dahulu bumi begitu hijau, begitu banyak pohon, tidak tandus dan kering seperti ini. Air tanah melimpah-ruah tanpa dicemari sampah dan limbah."

Ah, aku lupa. Kakek ini bahkan akan semakin berisik kalau sudah bicara tentang tanah ini.

"Tanah ini dulu bernama Indonesia sebelum dijadikan tempat pembuangan sampah dunia. Sekitar 40-50 juta ton limbah elektronik dikirim dari segala penjuru dunia setiap bulannya. Mungkin kau pernah mendengar sejarah, bahwa Indonesia adalah paru-paru dunia? Hutan yang luas pernah terbentang di negeri ini. Tapi sekarang apa? Hanya tempat pembuangan sampah!"

Kupikir orang setua dia tak seharusnya berada di sini. Kudengar pemerintahan dunia sudah mulai sadar jika bumi ini tak akan bertahan lama. Ada beberapa suaka yang dibangun di berbagai negara berkembang.

"Ya, ya, mungkin syaraf otakku memang telah rusak oleh logam merkuri yang kuhirup selama ini. Bahkan tubuhku telah kenyang diracuni timbal, kromium, kadmium dan arsenik yang dihasilkan oleh limbah elektronik ini. Racun-racun itu telah mengganggu kinerja ginjal, peredaran darah bahkan mengikis nyawaku. Percuma saja aku pergi ke suaka bersama yang lain. Toh, sebentar lagi aku juga akan mati!" kata si Kakek seolah-olah menjawab pikiranku.

"Lihat itu!"

Aku melempar pandang ke arah yang ditunjuk si Kakek. Gumpalan asap membumbung di kejauhan. Sekawanan hewan mutan tunggang-langgang dikejar kobaran api. Kau tak akan pernah menemukan hewan yang sama seperti gambar yang kaulihat di buku-buku ilustrasi sejarah. Semuanya telah direkayasa. Singa lebih terlihat seperti domba dengan bulu-bulu gimbalnya. Kuda bukan lagi seperti kuda. Kemudian hewan berleher panjang itu, apakah jerapah?

"Pembakaran sampah elektronik di insenerator hanya akan menambah daftar racun baru. Apakah kau tahu tentang dioksin dan furan? Itu adalah zat-zat dari hasil pembakaran yang mengancam kelangsungan hidup bumi dan manusianya."

Aku mengangguk-angguk. Dari manusia, oleh manusia dan untuk manusia. Itulah kesimpulan yang dapat kupahami.

"Jadi kenapa kau masih juga di sini, Nak?"

Pertanyaan kesekian kali sejak saat Kakek memintaku pergi ke belahan bumi yang lebih baik. Sejak saat itu pula ia tak pernah menyuruh-nyuruhku lagi. Tapi aku tak bisa meninggalkannya begitu saja, karena ia adalah penciptaku. Memoriku diprogram untuk membantu pekerjaannya. Walaupun aku hanya dibuat dari barang-barang rongsokan, sedangkan otakku hanyalah prosesor yang berasal dari ponsel murahan.

***

Jumlah: 500 kata | diinterpretasi dari lukisan Salvador Dali | Prompt Quiz #5



33 comments:

  1. huwaaa... keren imajinasinya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. .makasih, huwaaa ... ^_^

      Delete
    2. hadeh limbah lagi -___-

      Delete
    3. Keren juga sih gan :D

      Delete
  2. kalau mikir tentang kerusakan lingkungan, saya tuh suka serem sendiri. Kasihan generasi mendatang kalau yang sekarang pada gak sadar

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ...

      kasihan, kasihan, kasihan ... ;(

      Delete
  3. Udah baca dr kemarin, tp blogspot suka susah naruh komen:

    jadi inget film Robot yang tayang di RCTI. dibuat dari limbah. Tp klo liat kerusakan bumi yg sedemikian parah juga inget film tanpa dialog yang keren banget WALL-E :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya, Wall-E! itu juga pilem yang gue suka. :)

      Delete
    2. wall-e itu yang ditemenin kecoa :D
      keren ceritanya :)

      Delete
  4. pengetahuanmu pada karya karya masterpiece salvador dali adalah sangat mengagumkan dan menandakan bahwa kamu -mencoba- utk memahami seni tingkat tinggi, dan kemudian menterjemahkan karya tersebut menjadi sebuah cerita adalah suatu ide yg cukup biasa biasa saja dan bisa menimbulkan interpretasi yg berlainan di kalangan penikmat seni dali, bisa dicela habis habisan krn dianggap justru merendahkan karya tsb bisa juga diapresiasi secara sewajarnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. .seblumnya makasih, Dab udah ngapresiasi gue selama ini. Gue bakalan tetep nerima kok apapun yang readers lontarin atas interpretasi gue. Karna jelek atau bagus penilaian dari readers, itu adalah apresiasi yang wow banget buat gue. ^_^

      Delete
  5. mbok aku diajarin gawe ngenean Kang

    ReplyDelete
  6. Wah Artikel bermanfaat nih gan :)

    Cerita Update
    Lirik Lagu Indonesia

    ReplyDelete
    Replies
    1. .gue masih gak ngeh apa itu arti harfiah dari 'artikel' ...

      Delete
  7. keren!

    tahu baget istilah-istilahnya

    ReplyDelete
  8. Ini keren, futuristik campur ilmiah. Aku bergidik membayangkan kakek yang penuh kutil. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. .kakek penuh kutil emang gak seindah pemuda penuh cinta, kan? hehehe

      Delete
  9. tema kerusakan lingkungan jadi sebuah cerita.. keren si akang, hebat kalau sola begini beginian.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. gue gak hebat kok, Kang! wong taunya cuma begini2an ... >_<

      Delete
  10. .. eksak,, gimana nich punya kabar?!? aq kangennnn,, he..86x. pasti km gak kangen kan ma aq?!? huhh ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hei, pi! yap, gue baek2 aja. ya iyalah gue kangen karna elu yg duluan kangen ama gue. elu sih gk pernah nongol! kemana aje? :p

      Delete
    2. .. widichhhhhh,, dp mu sak,, gak nguatin coyyyy,, wha..ha..ha..ha..ha..ha..ha.. km sich tak tungguin gak pernah maen^ kerumah. songseng lu sak. he..86x ..

      Delete
    3. ya elah wong nmr hape lu juga kagak pernah aktip. gmn gue mo maen? kalo nyasar gmn? huhuhu

      Delete
  11. Kereeen! Thousands thumb up!

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih, ...

      mo dibalikin gopek gak thumbs up-nya? hehehe

      Delete
  12. Yg lagi kering ide9/9/14 13:00

    aiih..emang sedheep...ini mah...
    izin naruh jempol ya, Gan.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. jempolnya sedep gak, Gan? :p

      Delete
  13. Seandainya .....
    semua sampah itu bisa disulap menjadi seni instalasi sekelas punya Salvador Dali ....

    ReplyDelete
    Replies
    1. yah, kita cuma bisa berandai~andai, Sob! lebih baik instalasi pembuangannya dibenahi dulu, kan?

      Delete