Thursday, September 25, 2014

eksak #6 | Lintasan Maut




Pada suatu titik dalam hidupku, setelah membaca tumpukan novel fantasi, fiksi ilmiah, komik-komik detektif dan film-film adaptasinya, aku memutuskan bahwa kehidupan nyata sangatlah membosankan dan siap membayar apapun demi datang ke Hogwarts, Middle-Earth, dan Narnia. Aku bersedia mengorbankan seluruh karyawan di tempat kerjaku dan membakar bangunan pabriknya. Kemudian menggambar pentagram dan menari di bawah bulan purnama sembari ditonton oleh Kania, karyawati bagian front desk yang sangat cantik dan seksi. Pun akan kulakukan demi bisa mendapatkan kesempatan itu.

Telah kumulai dengan pentagram yang pertama ...

eksak #1 | eksak #2 | eksak #3 | eksak #4 | eksak #5 |

***

Suatu sore di kafe Nebula. Dua buah coffee punch di atas meja. Ada dua anak manusia yang dipertemukan di sebuah kasus.

"Jadi gimana elo bisa nyari Pak Bejo sepagi itu?"

"Hehe ... sebenernya gue cuma pengen nentuin aja dimana rumah Pak Bejo sebelum penyergapan. Karna dia udah jadi TO atas bisnis obat ilegalnya. Eh, malah dia udah mati duluan!"

"Huft! Padahal awalnya gue udah nyurigain elo."

"Kalem aja, Bro! Elo emang bakat kok jadi penyidik. Oh, ya gimana kabar Dinda?"

"Dinda jadi ngelanjutin kuliahnya ke Inggris."

"Nah, elo patah hati, dong?"

"Ah, biasa aja kok! Gue ama Dinda kan cuma temen dari kecil ... "

Begitulah ketika cinta mulai mengepakkan sayapnya lalu keseleo dan tak ada seorang tukang urutpun yang bisa memperbaikinya. Itulah eksak yang musti tetap ngelanjutin belajar terbang walaupun keseleo tak terobati.

"Eh, Ran! Udah ampir Maghrib, nih! emak pasti ngekhawatirin gue ... "

"Ciye ... ciye ... yang anak emak! Yoilah, eks! Gue juga musti bikin laporan buat riset di kampus besok."

"Assalaamu 'alaikum, Ran ... "

"Wa 'alaikum salaam ... "

eksak dan Rani pun menyudahi ngopi-ngopi di sore itu. Sebuah pertemanan yang baru saja dimulai. Beberapa menit kemudian eksak sudah berada di jalanan, terjebak di antara macet dan caci-maki para pengguna jalan.

"Wah, bisa telat nih ampe rumah!"

Tambah macet ketika hampir melewati perlintasan kereta api, padahal gak ada kereta lewat. Tapi gak biasanya rame kayak gitu. Malahan ada polisinya segala. Ada apaan, sih? eksakpun memarkir motornya. Musti liat-liat biar gak diderek trantib.

Ebusyet! Ada mobil ringsek yang terlempar tak sebeberapa jauh dari lintasan. Malahan pengemudi yang jadi korbannya juga belum dievakuasi.

"Ketabrak kereta ya, Pak?" tanya eksak pada seseorang dalam kerumunan.

"Iya, kasian ... "

Seorang polisi sedang menanyai seorang penjaga portal yang dianggap sebagai saksi mata.

"Gimana kronologinya, Pak?"

"Mobil ini udah keliatan ngebut dari arah Barat, Pak! Padahal palang kereta udah diturunin, bukannya berhenti malah nyoba nerobos palang. Pas ampe tengah-tengah rel, mobil itu mogok. Orang-orang cuma bisa teriak-teriak karna kereta udah deket banget. Akhirnya ... "

"Hmmm ... " Pak Polisi hanya bergumam sambil mencorat-coret buku catatannya.

"Lapor, Pak! Forensik telah tiba, korban akan segera dievakuasi!" lapor polisi yang lain.

"Laksanakan!"

"Siap, laksanakan!"

Dibantu oleh beberapa polisi, ahli forensik pun mulai bergerak. Tapi agak kesulitan karna korban terjepit dashboard mobil dari bagian dada ke bawah. Tanpa diminta, beberapa orang yang menyaksikan di TKP ikut membantu. eksakpun turut serta. Setelah berjuang selama satu jam lebih, akhirnya tubuh korban berhasil dikeluarkan dari jepitan mobil. Korban tunggal adalah pengemudi mobil jenis sedan, seorang perempuan kira-kira berumur 27 tahun, mati di tempat karna pendarahan yang hebat.

Para kuli tinta yang ingin meliput sudah mulai berdatangan dan melontarkan berbagai pertanyaan kepada polisi yang memimpin jalannya evakuasi.

"Ya, sudah bisa dipastikan bahwa ini kecelakaan murni akibat kelalaian pengemudi yang menerobos palang pintu perlintasan kereta api." Jelas polisi.

eksak sempat memperhatikan jasad korban sebelum dimasukkan ke dalam kantong mayat. Menurutnya ada yang aneh. Ada darah kering yang hampir menghitam di sela bibir korban. Padahal darah di sekujur tubuhnya masih merah dan mengalir segar. Kenapa ada darah yang telah mengering? Apakah dia baru saja terlibat pertengkaran? Lebam di pipi kirinya juga seperti bekas tamparan. Selain itu juga ditemukan tisu dengan bercak darah dalam genggaman tangan korban. Kemudian eksak berkeliling mengitari badan mobil yang bentuknya udah gak karuan. Ternyata didapatinya kabel rem yang putus, bukan akibat dari tabrakan tapi memang sudah dipotong sebelumnya menggunakan benda tajam.

"Jadi ini memang murni kecelakaannya ya, Pak?" tanya salah seorang wartawan.

"Ya, betul ... "

"Bukan! Ini adalah pembunuhan berencana."

Tiba-tiba eksak memotong. Akibatnya semua mata tertuju kepada eksak seperti ingin menelannya bulat-bulat.

"Apa yang kaukatakan, Bocah? Lagi pula siapa kamu?"

"Ya, ini pembunuhan!"

***

Bersambung ...



14 comments:

  1. Sik asiiik.... Detektip Eksak beraksi lagii...
    *nggelar klasa nunggu terusane...

    ReplyDelete
    Replies
    1. *melu lesehan ae lah ... :)

      Delete
  2. Replies
    1. bukan detektif, kok! hehehe

      Delete
  3. eksak ya eksak...ngga bisa berubah jadi engga eksak dong..:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. eksak pasti selalu eksak ... *hayyahh

      Delete

  4. wah maut sekali yaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya dong! maut banget ,.. ;)

      Delete
  5. hehehe...eksak eksak... salam kenal ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal juga ... ^_^

      Delete
  6. mangtaf sak .. heu heu , selam kenal ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. penampakanmu tak asing buatku, Sob! bhahaha

      Delete