Thursday, June 26, 2014

Senja Di Tanah Merah





deviantart


Kepulan asap membumbung ke angkasa. Memberi warna lain pada senja yang jingga. Aku mengendap di luluh-lantak bangunan sekolahan yang dibom siang tadi. Tugasku menyisir lokasi. Barangkali ada yang masih hidup di antara puing-puing ini. Dari bekas lantai dua tanpa atap, aku menyelinap ke arah tangga yang keramiknya mengelupas. Kerangka besinyapun sebagian besar terlepas.

Ketika aku mulai menuruni tangga, kulihat seorang anak kecil duduk memunggungiku di anak tangga terbawah. Entah sejak kapan ia ada di situ? Padahal saat naik tadi aku tak melihat seorangpun. Jarak kami tinggal beberapa tangga lagi. Mataku menyipit. Terlihat jelas olehku seorang anak laki-laki dengan betis kiri yang hancur. Pecahan mortir berkilat pada aliran darahnya yang mengering. Bibirnya terus merapal sesuatu di antara rintihan yang terkulum.

"Jangan beri ampun! Bunuh semua yang tersisa!"

Suara komandan mengiang di telingaku. Akupun mengangkat senapanku. Membidik tepat ke kepala anak itu.

"Anak-anak penghapal itu adalah target utama kita. Habisi atau kita yang akan habis oleh mereka!"

Suara komandan lagi. Mari bermain takdir! Lihat ketika aku bisa mengulur atau mempercepat ajal seseorang di depanku ini!

Hari mulai gelap. Setelah ini aku bisa istirahat. Dan anak ini akan menemui takdir yang tepat. Atau biarkan saja ia mati karena tak kuat menahan sakit di betisnya. Jadi aku tak perlu buang-buang peluru.

Ah! Baru kali ini aku banyak berpikir hanya untuk menghabisi seorang anak kecil.

"Paman, bolehkah aku membagi roti buka puasaku untukmu?"

Anak itu menoleh ke arahku. Disodorkannya sekerat roti berjamur yang telah dibelahnya menjadi dua. Aku terhenyak. Tidakkah kau merasa takut? Tidakkah aku tampak seperti malaikat mautmu? Tidakkah senapanku terlihat seperti parang bergagang panjang yang siap menjagal nyawamu?

DORR!!!

Suasana menjadi lengang. Ada tembakan. Tetapi bukan dari senapanku. Aku menatap lekat anak laki-laki di hadapanku. Mungkin seumuran anakku. Anak itu baik-baik saja. Entah mengapa aku merasa lega.

Hanya kepalaku yang sedikit pusing. Sebelum akhirnya tubuhku terhempas ke dasar tangga, dengan bayangan tanah merah dan bau anyir darah. Samar kulihat anak itu menghampiriku. Kemudian kudengar sayup bacaan tadi kembali dirapalnya. Untukku.

***

Buat MFF Prompt #55 | thanks to Nina!



8 comments:

  1. wah.... berlatar belakang israel dan palestina nih

    ReplyDelete
  2. Takdir malah berkata lain :)

    ReplyDelete
  3. Merasa pernah membaca cerita serupa entah dimana atau kapan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pecinta fiksi8/7/14 13:36

      aah.. benar ternyata.. pantesan rasanya sdh akrab dg kisah itu.. #eh..

      Delete