Thursday, May 22, 2014

The Unborn





Aku bersama Nadia. Sementara ayah dan ibu berada tak jauh dari kami. Tetapi kami tak melihat keduanya. Kami hanya mendengar suara-suara mereka saling berteriak. Lalu suara itu menghilang. Tak terdengar lagi.

ZINGGG!

Empat buah partisi hologram muncul di sekeliling kami. Dengan control chip yang tertanam di pergelangan tanganku, aku bisa menghadirkan laboratoriumku dimana dan kapanpun aku mau.

"Nad! Sepertinya aku memang harus mencoba mesin ini,"

"Apakah kamu yakin, Ron?"

"Mungkin saja terjadi sesuatu yang salah di masa lalu."

"Ah, mungkin itu hanya perasaanmu saja, Ron! Bisa saja karena cadangan air di muka bumi yang semakin menipis berpotensi menyebabkan dehidrasi yang berakibat emosi makhluk hidup tak terkendali."

"Bisa jadi begitu ... "

"Kalau begitu aku rela dinon-aktifkan, kok! Walaupun bahan bakarku cuma air, tapi kalau air itu lebih dibutuhkan manusia, aku ra popo ... "

"Gak, Nad! Kamu sudah kami anggap jadi bagian dari keluarga. Bukankah kamu tau bahwa ayah dan ibu begitu sayang padamu? Mereka begitu mendambakan anak perempuan, walaupun itu cuma robot sepertimu. Sebaliknya aku yang sepertinya tak pernah mereka inginkan."

"Huh! Manusia memang rumit!"

***

Mesin bergetar hebat. Sekejap kurasakan partikel tubuhku berhamburan, jasadku tak berbentuk dan ...

ZAP!

Kudapati diriku masih berada di dalam rumahku sendiri. Hanya saja lebih tenang tanpa suara teriakan. Aku menuju ke ruang makan. Tiba-tiba aku mendengar suara mirip ayah tapi jauh lebih lembut.

"Mirna, aku berangkat ke kantor dulu, ya ... "

"Ndak sarapan dulu, Tuan?"

"Udah telat, kok. Kamu hati-hati ya di rumah."

Ayah berlalu dengan kedipan mata pada Mirna yang ternyata adalah ibuku di masa muda. Dasar pria genit! Oh, ternyata ayah dan ibu dulunya adalah majikan dan pembantu. Perbedaan status sosial inikah yang menyebabkan pertengkaran-pertengkaran di masa depan?

Aku mengendap-endap di bawah meja makan ketika tiba-tiba seorang pria berseragam satpam mengikuti ibu ke dapur.

"Pagi, Mirna ... "

"Eh, Mas Cahyo! Mau sarapan, Mas?"

"Hehe, sarapan kamu boleh?"

"Ndak usah macam-macam ya, Mas!"

Sialan! Satpam itu bertindak kurang ajar pada ibu. Aku harus menghentikannya.

"Ayolah, Mirna! Mumpung Tuan ke kantor, kan?"

PRAAAKK!

Sebuah vas bunga berhasil kuhantamkan di kepala satpam mesum itu. Seketika tubuhnya ambruk dengan darah mengucur.

"Si ... siapa kamu?"

"Aku ... "

Ah! Mana mungkin kukatakan bahwa aku adalah anaknya di masa depan? Lebih baik aku segera pergi. Aku pun berlari ke luar rumah sambil meneriakkan kata sandi.

"Nadiaaaaa ... "

ZAP!

***

Aku terbangun di suatu pagi yang cerah. Di sebuah ranjang berwarna putih dengan bau obat-obatan yang khas. Ya, aku berada di rumah sakit sekarang. Tapi mengapa ada di sini? Apakah Nadia salah mengoperasikan mesin? Di depan pintu sebelah ada seorang pria yang sedang menyambut dokter keluar ruangan. Kemudian segera kutahu bahwa pria itu adalah ayah.

"Istri Anda baik-baik saja. Dan selamat bayi Anda perempuan!"

"Terima kasih, Dok!"

Dengan serta merta ayah menghambur ke dalam ruang persalinan. Aku pun mengikutinya.

"Mirna! Syukurlah kamu baik-baik saja."

"Anak pertama kita perempuan, Bang!"

"Gimana kalo kita beri nama Nadia."

Mereka berpelukan mesra sekali. Saat-saat seperti inilah yang kunantikan. Aku juga ingin merasakan kebahagian mereka. Tapi, hei! Apa ini? Mengapa aku tak bisa menyentuh mereka? Tunggu dulu! Kalau Nadia ini adalah anak pertama mereka, lalu aku? Jangan-jangan aku adalah anak ibu dengan si Satpam kalau saja pemerkosaan itu tak kuhalangi?

Tiba-tiba kurasakan tubuhku berubah menjadi transparan. Nampaknya aku telah kehilangan masa lalu sekaligus masa depan. Seiring lepasnya pelukan ayah dan ibu, aku pun menghilang.

***

Buat Prompt #50 MFF.



20 comments:

  1. mesin waktu... bikin masalah ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mending mesin ATM kan ea? :-)

      Delete
  2. dengan mesin waktu, satu masalah terselesaikan, masalah lalin berdatangan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak kayak pegadaian, dong? Hehe

      Delete
  3. Keren ... (Y)
    Bikin novel saja gih :)

    ReplyDelete
  4. Nah, ini cerita keren! Meski penggunaan ujaran "aku rapopo" itu terasa sedikit mengurangi keasyikan. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ya, gak asyik bgt jadinya. Gak tau tiba2 kepikiran itu. Btw, thanks ya Riga! ;-)

      Delete
  5. siip....
    jadi ingat baca di manaaa..gitu ttg aturan menikmati mesin waktu, yaitu tak boleh mengubah apapun yg terjadi.. hehe... ha njuk ngapa bali yo, nek ngono? hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wis kun fayakun ra, Bu? Njur nopo yo? =-O

      Delete
  6. Andai mas cahyo nya pun
    tau....hehe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dia keburu dikepruk duluan! Bhahaha

      Delete
  7. Bagus=).idem bang riga, aku ora poponya yg gimana gitu, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ho oh, gimana gitu? Makasih ya .., 0:-)

      Delete
  8. wow...asyik nih pake mesin waktu ;)

    ReplyDelete