Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2013

Before Rain

Lea masih duduk di atas sisa pokok akar yang terbakar. Menunggu turunnya hujan walaupun sebentar. Menjaga mendung di langit agar tak ingkar. Kepalanya menengadah, matanya memandang nanar. Berharap pada awan hitam yang saling kejar.

"Jangan katakan kalau kau sedang menanti hujan!"

"Apakah aku terlihat sedang menantimu?"

"Itu bukan mendung. Itu adalah asap kebakaran dan emisi gas buangan,"

Entah sejak kapan Leo berada di balik punggung Lea. Tak usah menoleh pun, Lea tahu siapa pemilik suara itu. Atau siapa lagi yang suka mengganggu kesendirian Lea kalau bukan Leo.

"Kau tunggu sampai kapanpun, gumpalan hitam itu tak akan pernah menjatuhkan setetes air pun."

"Apakah kau malaikat pengatur hujan? Atau barangkali kau adalah Tuhan?"

"Pulanglah! Aku tak akan mendebatmu tentang Tuhan sekalipun."

"Kalau begitu aku akan menanti Tuhan!"

"Percayalah! Tuhan tak akan datang. Kekuasaan-Nya telah diambil alih oleh manusia. Sekar…

[BeraniCerita #33] Sumpah Pemuda

Gambar
"Owalaaah! Anak-anak muda sekarang kok ya pekok-pekok! Moso' Sumpah Pemuda aja ndak pada apal?" ujar Bapak yang sedang menyemproti sangkar si Ranto Gudel, perkutut kesayangannya.

Berita siang masih menayangkan seorang reporter yang menanyai beberapa anak muda di sebuah pusat keramaian tentang Sumpah Pemuda. Tapi kebanyakan dari mereka hanya menggeleng.

"Assalaamu 'alaikum ... "

"Wa 'alaikum salaam," jawabku menghentikan jahitanku.

Anakku Eno berlari kecil menghampiriku, kemudian mencium tanganku. Dia juga mendekati kakeknya yang masih asyik dengan si Ranto Gudel.

"Eh, Eno apal ndak Sumpah Pemuda?" tanya Bapak pada Eno, yang ditanya hanya menggeleng.

"Kakek minta Eno ngapalin isi Sumpah Pemuda. Nanti kalo udah apal, Kakek kasih hadiah."

Eno mengangguk mantap. Tampak binar mata anak kelas 3 SD itu penuh semangat.

Sejak Mas Yanto meninggal, aku dan Eno tinggal bersama Bapak. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, aku membuka jahitan b…

Weekend Currently

Gambar
Assalaamu 'alaikum, Guys! Whaddap? I can't decide what genre of blog I write. It is incredibly excited, but also incredibly bored at the same time. Beberapa waktu yang lalu, sobat gue di FB sempet nanya mo dibawa kemana genre blognya? Sementara blog doi dah lama vakum, tapi jiwa kepenulisannya tetep tertuang via status fb-nya yang panjang-panjang.

Gue cuma bilang gak usah galau apalagi makan ati ama genre blog yang acak adul, sedangkan kuda lumping yang makan beling aja gak galau-galau amat. Liat blog gue! Dimulai dari liputan aktifitas ponpes, curhatan geje, narsisme, trik internet gretong, skrip tutorial, trus ke bahasan kitab, ampe fiksi juga gue tulis. Intinya kalo mo nulis ya nulis aja! Gak usah taqarub ama gugel. Gak jaman kalie? Hehe ...

Nyatanya tulisan-tulisan doi di fb tetep nyedot perhatian para jempoler dan komentator, kok! Awalnya seseorang ngenal suatu hal itu dari multigenre, trus nentuin genre mana yang menurutnya dia banget. Tapi gue gak! Karna gue orangnya b…

The Jack

Jack menyusuri jejak dari rumput tersibak yang menjadi jalan setapak. Mengikuti benda terbang yang baru saja melintas di atas rumahnya. Sebuah benda mirip piring raksasa melayang di atas sebuah danau. Manusia luar angkasakah? Alienkah? Tapi dia tak mendapati wujud menyeramkan seperti yang sering digambarkan dalam film-film fiksi ilmiah. Justru yang dilihatnya adalah tujuh gadis cantik yang sedang mandi dan bercengkerama di danau itu. Jack menyelinap di antara pepohonan. Didapatinya pakaian yang berserak di tepi danau. Dia pun mencuri salah satu dari pakaian itu.

"Waktunya pulang!" kata seseorang di antara mereka.

"Hei, dimana pakaianku?" seorang yang lain tampak kebingungan.

"Tadi kau letakkan dimana, Luna?"

"Maaf, Luna! terpaksa kami harus meninggalkanmu di bumi."

Mereka pun beterbangan masuk ke dalam piring terbang itu. Melesat dan hilang di balik awan. Seseorang yang masih tinggal sedang menangis tersedu.

"Cantik, kenapa kau menangis?&qu…

Cerpen | Menertawakan Sejarah

Aku tak ingat pasti kapan pertama kali kami bertemu. Mungkin sebulan atau dua bulan yang lalu. Waktu terkadang sering memanjang dan memendek tanpa memberi tahu. Mungkin benar teori Einstein puluhan abad silam tentang relativitas waktu. Saat itu aku sedang duduk menikmati makan siangku di sebuah bangku. Bangku panjang di taman kota itu kini menjadi saksi bisu.
Siang itu tak begitu menyengat. Kupu-kupu beterbangan dengan penuh semangat. Sesekali mencumbui bunga rumput yang rasa madunya sepat.
Dia datang begitu saja. Seperti dimuntahkan oleh cahaya surya yang menyilaukan mata. Awalnya aku terpana dengan makanan dalam sendok yang melayang di udara. Reaksi paling wajar dari seorang wanita yang tiba-tiba dihampiri oleh pria yang tak dikenal sebelumnya adalah, membangun tembok setinggi-tingginya, dinding setebal-tebalnya dan benteng sekokoh-kokohnya. Aku tak pernah suka berjumpa dengan orang baru seperti dia.
Mungkin dia hanya coba menghiburku. Dengan hidung bulat merah, rambut …

[BeraniCerita #32] Bu Layla

Gambar
"Kapan terakhir kali mengajak Nina si bungsu main ke taman? Kapan terakhir kali Mama memasak buat orang rumah? Kapan terakhir kali Mama pergi jalan-jalan bersama kami?"

Bu Layla diam saja mendengar Ryan mencerca semua yang sudah tidak pernah dilakukan lagi olehnya. Untuk mengalihkan perhatian, Bu Layla pura-pura berbicara dengan Sofi di depan televisi sambil tidur-tiduran.


Bukan hanya Ryan yang merasakan perubahan itu. Pak Nahar, suami Bu Layla juga merasakan hal yang sama. Akhir-akhir ini Bu Layla lebih sering bermalas-malasan. Memang benar ada Sofi, pembantu keluarga mereka. Dulu Bu Layla masih suka menyibukkan diri membantu Sofi di dapur. Kadang juga menyempatkan diri menemani Nina bermain di taman. Namun sekarang tidak lagi.

Sore hari ketika Pak Nahar pulang dari kantor pun, Bu Layla malah asyik menonton televisi. Jangankan menyambut atau memberikan sedikit kemesraan layaknya istri pada suaminya yang lelah setelah bekerja seharian, menyapanya pun Bu Layla enggan. Semuanya …

Suatu Sore Di Commuter Line

"Ya, Allah!"

"Allahu akbar!"

"Astaghfirullah!"

Itu bukan seruan di medan perang. Itu adalah seruan para penumpang di dalam Commuter Line (CL). Setiap kali kereta bergerak atau melambat, jerit tertahan dan kata-kata di atas seringkali terdengar. Gak ada lagi senyuman. Gak ada lagi perlindungan atas bagian-bagian tubuh tertentu. Karna setiap tubuh pasti kejepit rapet, baik cowok maupun cewek.

"Aduh," jerit cewek di samping gue pas laju kereta bikin tubuh-tubuh dalam gerbong itu kayak joget sesar bareng.

"Kaki gue udah gak napak lagi, nih!" kata seorang penumpang cewek lainnya.

Sore itu, gue abis maen di Tanah Abang. Pulangnya ke Kosambi, Tangerang gue mampir ke Serpong sekalian nengok proyeknya si Bos. Jadi deh gue pengen ngejajal naek CL. Ya, sekali-kalinya itu. Mumpung ada, kan di Kendal gak ada? *ndeso.

Gerbong-gerbong kereta CL rute Tanah Abang-Serpong penuh sesak banget. Kapasitas maksimal yang katanya gak nyampe 200 orang jebol karna gel…

Selamat Hari Яaya 'Idul Adha 1434 H

Assalaamu 'alaikum, Sobat!

Salam kenal. Namaku Mawar. Kata ibuku, mawar adalah nama bunga indah yang pernah tumbuh di bumi. Kita mungkin tak pernah bertemu, tapi aku yakin, surat ini akan sampai padamu dan kuharap kamu akan membaca surat ini pelan-pelan sampai selesai.

Pagi ini, kurasa cuaca makin memburuk. Dari tempatku menulis surat ini, kulempar pandang ke luar jendela. Aku selalu tak menemukan sejengkal tanah pun yang melekat di bumi. Semuanya tertutup aspal tebal. Kemacetan ruas jalan sudah terlihat sepagi ini. Klakson-klakson mobil terdengar menderu. Semua orang berdesakan untuk pergi ke Masjid dalam rangka melaksanakan sholat hari raya 'Idul adha. Sesekali mereka berebut oksigen untuk bertahan hidup. Terlalu banyak populasi hingga setengah meter persegi bumi harus dihuni oleh empat manusia sekaligus. Tak ada lagi habitat. Manusia tak mampu lagi beradaptasi dengan keadaan separah ini. Kondisi kota yang makin buruk ditambah hujan yang sudah enam pekan tak kunjung datang.

#FF 100 Kata

Gambar
"Kamu punya apa?!" hardik ayah pada Tejo, kekasihku. Tejo pulang dengan kecewa. Melambai putus asa ke jendela kamarku.

Suatu hari datanglah seorang eksekutif muda untuk proyek pembangunan desa. Namanya Barata. Sebagai kepala desa, ayah menyambutnya bangga. Apalagi ketika Barata bermaksud meminang anak gadisnya, tentu saja Ayah langsung merestuinya.

Aku pun diboyong ke kota, setelah menggelimangi keluargaku dengan harta. Barata memberiku segalanya. Dia memperlakukan aku layaknya putri raja.

Sudah sepatutnya aku menjadi istri yang setia. Berbenah rumah dan menggoyang ranjang.

Seminggu berlalu. Seorang perempuan dan seorang anak kecil bertamu.

"Siapa, Mas?" tanya perempuan itu pada Barata.

"Babu baru." Jawab Barata ringan.

***

Jumlah: 100 kata.

27 Maret

Kota sampah dulu bernama Jakarta. Kota ini pernah menjadi ibukota Indonesia. Beberapa tahun lalu, sebelum ibukota dipindah ke Samarinda. Proyek pemindahan mesti membumihanguskan jutaan hektar hutan, sebelum kemudian dijadikan kota metropolitan. Begitulah penjelasan dari pemandu wisataku sebelum aku terpisah dari rombongan.

Aku berjalan. Menyusuri jalanan beraspal tebal. Mungkin tebalnya sudah sampai beberapa meter. Bahkan suatu unsur yang bernama tanah menjadi sejarah kota ini. Wisata Kota Sampah adalah wisata museum terbuka. Di sini terlihat tumpukan mobil mewah di sepanjang jalan. Atau barang-barang elektronik yang menggunung di kanan kiri jalan. Ada juga komplek bangunan yang mungkin dulunya adalah toko.

Aku berada di ujung jalan, ketika kudapati temaram lampu dari dalam sebuah toko. Kulihat plang besi berkarat yang tulisannya hampir mengelupas. JENDELA DUNIA 2013 "Sudahlah! Kamu jual aja toko ini padaku! Toh isinya cuma kertas-kertas bekas."

"Kau sama saja dengan par…

Malpraktik Blogging

Assalaamu 'alaikum, Sobat! Apa kabar dumay? Gak ngeblog seminggu tuh rasanya enjoy banget. Gue gak mikir bahan posting, gak peduli traffic 'n Rank, gak bewe, gak nge-prompt, dsb. Itu berasa fresh beud! Emang kadang-kadang kita butuh me time, waktu dimana kita manjain diri, maen, fokus kerja dll. Blogger tuh gak melulu ngeblog. Bisa juga ngebolang, ngejam, ngetem trus ngehang.

Cuma masalah klasiknya adalah gimana ngebalikin momentum ngeblog setelah vakum? Gue sendiri ngerasa libur ngeblog seminggu tuh kayak vakum sebulan, bahkan gue pernah vakum sebulan dan rasanya tuh kayak setahun! Berlebihan gak sih? Gue kira gak lebay juga, karna setiap hari puluhan bahkan ratusan info baru muncul di internet. Dan info baru itu adalah bahan baku posting yang gak kita dapet di kemudian hari.

Tapi gak selalu bergantung pada info baru, kejadian sehari-hari di sekitar kita pun bisa jadi bahan posting yang menarik. Kayak 4 hari yang lalu gue kedatengan orang yang ngelamar kerja tukang di proyek …

FIKMINJOWO | Fiksi Mini Berbahasa Jawa

Assalaamu 'alaikum, Sobat! Elo tau kan kalo gue lagi keranjingan belajar fiksi? Makanya akhir-akhir ini, lapak gue penuh ama fiksi. Makan siang gue fiksi. Sayurnya flash fiksi. Lauknya fiksi mini. Dan elo bisa liat proses belajar gue via label BeraniCerita dan MondayFlashFiction. Gue banyak belajar dari para master fiksi. Dari mereka, gue belajar diksi, tanda baca, twist, logika serta jalan cerita.

Gue juga suka ama fiksimini (fikmin). Walopun gue lebih suka baca-baca daripada bikin sendiri. Keren aja ketika gue dapet surprise dalam bacaan sekali narik napas. Gue suka nongkrongin @fiksimini atau mantengin para terpilih di Fiksimini Games MFF setiap hari Sabtu.

Dan ngebaca fiksimini tuh gak pernah bikin kenyang. Kalo dalam semenit frekuensi napas kita sekitar 20 kali, maka elo bisa dapet surprise sebanyak 20 kali per menit dengan baca kumpulan fiksimini.

Nah! Karna sering gak kenyang makanya gue gugling pake keyword "fiksimini". Dan WOW! Waktunya makaaann ... :-)

Salah sat…

Alas Roban Drift

Subah, 23:45.

"Keep racing, Bro!" kata pengemudi mobil itu.

Aku tersenyum palsu dengan ujung bibir yang kusunggingkan sedikit. Malam ini aku harus menang.

"Tiga ... dua ... satu ... goo!!" seorang cewek sewaan memberi aba-aba pada kami. Tanda aku harus segera memacu mobilku.

Kali ini aku cukup tersenyum bangga. Mobil si Bro jauh tertinggal di belakangku. Sungguh menyenangkan. Melakukan braking drift di beberapa tikungan, oversteer dan overpower. Tikungan jalan tembus Alas Roban ini memang layaknya sirkuit balap. Maka tak heran pembalap liar sepertiku sangat menikmatinya. Memasuki tikungan dengan kecepatan tinggi, mengerem, heel-toe, overpower lalu counter-steer. Kecepatanku tak kurang dari 80 kilometer per jam.

"Sial!" aku tersentak.

Mobil si Bro sudah hampir beberapa senti di belakangku. Ada tikungan tajam berportal yang langsung landai ke jurang. Aku pun menambah kecepatan menjadi 90 kilometer per jam, menarik rem tangan untuk weight transfer dan menjaga sta…