Friday, September 13, 2013

Tuhan Itu ...



Aku terlahir lengkap dengan adzan dan iqomah di kedua telingaku. Pelajaran agama dibekalkan oleh orang tuaku sejak kecil. Semua masih berjalan dalam koridor sebagaimana mestinya. Paling tidak sampai aku menemukan seseorang yang menjadi cinta pertamaku. Sejak saat itu, aku sering mengantarkannya berkebaktian di hari Minggu.

"Kenapa aku merasa damai saat mendengar lagu-lagu ini?" tanyaku di depan sebuah menara berlonceng.

"Mungkin kau terpanggil," jawabnya.

Aku hanya diam. Semakin larut dalam alunan yang mendayu itu. Bunga flamboyan di halaman bergoyang diterpa bayu. Seperti jiwaku yang tergetar dihembus keyakinan baru.

***

Aku hanya diam tanpa reaksi melihat sekelompok orang yang tengah sibuk berdebat. Atas nama keilmuan, mereka saling mencari pembenaran dan menyalahkan yang tak sepaham dengan apa yang mereka yakini. Atas nama kebenaran, mereka asyik menjatuhkan satu sama lain. Berdalih meluruskan akidah, yang terjadi malah ukhuwah yang terpecah belah.

Aku muak. Telingaku pekak. Lebih baik aku keluar mencari udara segar. Kukira orang-orang itu hanya berkelakar tentang sesuatu yang benar.

***

"Demi Tuhaaaannn ... !!!"

Suapanku di warung nasi, menggantung di udara. Aku tersenyum kecut saat menonton televisi. Lagi-lagi artis dadakan itu muncul di acara infotainment. Siapa yang akan memercayaimu? Sedangkan tersiar kabar kau tidur dengan beberapa wanita cantik. Kau hanya menciptakan Tuhan di dalam nafsumu. Apapun bisa kau jadikan sebagai Tuhan. Tuhan itu fantasi. Tuhan itu imajinasi. Tuhan itu fiksi. Tuhan itu ...

***

Aku tak sanggup lagi melanjutkan tulisanku. Aku telah berkali-kali menyebutkan nama-Nya dalam draft blogku, setelah sekian lama aku meniadakan-Nya. Aku malu. Bukan pada masa laluku, tapi pada-Nya, Tuhanku.

Save Draft.

***

Jumlah: 245 kata. Dikembangin semau gue dari fiksi mininya @NafriYrrah: ATEIS. "Tuhan itu imajinasi!" teriaknya lantang. Dalam hati, ia menangis, ada kerinduan yang membuncah di sana. Dalam rangka #NgasihHadiah buat September bahagianya Harry Irfan. :-)



38 comments:

  1. laa ahad fardan 'komen' hunaa... hehehe...

    anaa awwalan faqoth..

    Allahu Robby!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Barokallahu li awwalak! Allahu robby dziddu .. :-)

      Delete
    2. la ahad fardan?? :D

      Delete
    3. Manuverisasi linguistik! Bhahaha

      Delete
  2. itu teriak demi tuhannya pake gaya arya wiguna gak..? hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yo mesti to, Om Raw! Bhahaha, demikiaaaan!! :-D

      Delete
    2. pake gebrak2 meja juga..

      Delete
    3. Pake, dong! Itu kan ekspresi! Hehe ...

      Delete
  3. Mudahan menang yaaa ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mudah2an elu juga menang! Hehe..

      Delete
  4. heheh, kok ada om arya wiguna?? hehehe. piss

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasaaa , acara gosip! Hehe ..

      Delete
  5. Replies
    1. Woi ... Sobat lamaaaaa ... Kamana waeeee?! Hehe. :-)

      Delete
    2. anteb we di lembur Kang hehe..

      Delete
    3. Apane, Kang sing anteb? Kok nganti dilembur harang ... ;-)

      Delete
  6. kalo kata Ibnu Arabi, Tuhan itu menjadi apa yang difikirkan manusia, ketika manusia butuh kopi, Tuhan menjelma menjadi ar-Razzaq, ketika manusia jomblo (kayak kamu sak, wkwk), Tuhan menjelma menjadi kholiq, ketika manusia mandul, Tuhan menjelma menjadi Warits, ya.. Tuhan adalah bentuk imajinasimu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yups! Shodaqti! Tuhan itu sesuai ama prasangka hamba-Nya ...

      Dan gak bisa diganggu gugat bahwa jombloisasi emang penyebab mandulisasi. Tapi, dunt worry! Kan ada Tuhan ... :-)

      Delete
  7. tuhan itu..sesuai persangkaan hamba-NYA.. itu kalimat yg pernah kubaca entah dimana... sukses buat GAnya ya.. eh, ini GA bukan si? hehe... *jetlag lama ga ngeblog* :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yups! Allah adalah sesuai dengan prasangka hamba-Nya ... Sesuai juga ama Hadits dari Abu Hurairah R.A, ia berkata Rosulullah SAW. bersabda:

      "Allah berfirman: 'Aku berada pada sangkaan hamba-Ku, Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku, jika ia mengingat-Ku pada dirinya maka Aku mengingatnya pada diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam suatu kaum, maka Aku mengingatnya dalam suatu kaum yang lebih baik darinya, dan jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku mendekat padanya satu hasta, jika ia mendekat pada-Ku satu hasta maka Aku mendekat padanya satu depa, jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan kaki, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari."

      *begitupun sebaliknya, kita menjauh Allah pun menjauh ... :-)

      *jetlag po jetbus?

      Delete
    2. Cak des cak des des ciu cia cia ... :-D

      Delete
  8. Agak susah ngertiin ceritanya, tapi aku ngerti kok maksudnya...

    Anyway, good luck buat GA-nya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sip! Yg penting u see the maksud! Emang cuma orang berapresiasi tinggi aja yg ngerti maksud dari visualisasi coretan ini. Hehe ... :-)

      Delete
    2. wuu... Ngenyek aku ki :p

      Delete
    3. Hwalah! Rumangsanan men sampeyan ki? Bhahaha

      Delete
  9. wahehehe :D piye kabare mas bro.. udah lama nggak mampir n bersilaturrahmi di blog keren ini, he :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wehehe, kang MF! Kabarku apik! Njenengan pie? Tumben kok dolan rene? Hehehe, mohon maap lair batin yo, Kang ... :-)

      Delete
  10. ini fiksi atau fakta sih mas? :P

    ReplyDelete
  11. berat euy ceritana :D fiksi apa nyata nih..?? *kepo

    ReplyDelete
    Replies
    1. huhu ditanyain lagi ... ;(

      Delete
  12. salam kenal yo kang....aku bukan bloger tapi aku seneng baca blog sampean....hehehehhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Kang! Makasih dah mampir ... :-)

      Delete
  13. Tuhan itu....*ilang sinyal*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe.. Tuhan gak pake bandwith, kok! Apalagi wifi? :-)

      Delete
  14. Waduh, berat ini...berat... gak mau komen ah, takut kuwalat :P

    (lha ni kan komen?)

    ReplyDelete