Monday, September 9, 2013

[BeraniCerita #26] Gudang Senjata



"Wow, M 16!" seru Pinot girang.

"Ah, itu belum seberapa. Lihat ini! AK 47!" timpal Seno bangga.

"Hei, sudahlah! Cepat pilih senjata kalian!" kata Bruno.

"Diam kau! Atau HK MP5 ini akan menghancurkan kepalamu. Kau pikir kau komandan? Hah?!" hardik Arul sambil membidikkan senjatanya ke arah Bruno.

"Jangan main-main, Arul! Nanti ada setan lewat, Bruno bisa mati." aku coba menenangkan Arul.

"Bhahaha ... mana ada setan di siang bolong begini?" kata Seno.

"Ayo, cepat! Musuh mengintai dimana-mana," kata Kunto sambil mengambil senjata dari pojok ruangan.

"Kunto, apa jenis senjatamu itu?" tanya Pinot.

"SS 1! Produk dalam negeri, buatan PT. PINDAD!" jawab Kunto bangga.

"Oke! Semua senjata sudah siap. Segera ke lapangan untuk apel pagi!" perintahku sigap.

"Siap, Dan!" jawab mereka serempak.

Senang rasanya berkumpul lagi seperti ini setelah baru saja kami kembali dari tugas. Ditugaskan kemanapun kami selalu bersama. Walau kadang ada pertikaian kecil di antara kami, tapi persahabatan kami tetap terjaga. Sekarang kami hanya para veteran yang merindukan saat-saat berpacu di bawah desingan peluru. Kami memang orang-orang yang selalu gila akan tugas. Apapun akan kami lakukan untuk mengusir siapapun yang mengganggu kedaulatan republik ini.

"Daaaann ... !!!"

"Kawan-kawan! Sepertinya mata-mata musuh berhasil menyusup ke tempat ini," aku segera memberi komando.

Semua diam. Semua telah bersiap dengan senjatanya masing-masing.

"Daaaann ... Daniii ... !" ada yang memanggil namaku.

"Kenapa kalian malah berlama-lama di gudang? Ayo lekas bawa sapu, sabit, engkrak, cangkul dan pemotong rumput itu! Hari ini kita kerja bakti."

Pria tambun berbaju putih itu selalu mengganggu ketenangan kami.

"Dani, ayo ajak teman-temanmu ke halaman." kata pria itu padaku dengan lembut.

"Oh, ya. Hari ini ada terapi terakhir untukmu. Semoga saja itu awal dari kesembuhanmu." lanjut pria itu.

Entahlah! Aku tak pernah tahu apa yang dia katakan. Dia adalah salah satu orang yang selalu menganggap kami hanyalah kumpulan orang-orang sakit. Padahal mungkin saja dia yang gila.





Jumlah: 300 kata.


18 comments:

  1. Jadi ingat masa-masa praktik di RSJ dulu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ouw.. Kirain pernah pengalaman mondok juga? #eh

      Delete
  2. kirain abis pilih senjata bakalan perang... hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan perang tapi kerja bakti! Bhahaha

      Delete
  3. Duh...kesian mereka ya :((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kesian.. Kesian.. Kesian.. ;-(

      Delete
  4. lagi belajar buat kasih kejutan di ending cerita,
    :D
    gw buat crita masih kebaca dri awal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sip! Kita kan sama2 belajar, Via! Tetap smangat! \^o^/

      Delete
  5. hahahaha... Dani... Dani kan Andi :p

    ReplyDelete
  6. atau jangan2 pengunjung blog ini yang jadi gila ya...,
    ah hidup memang penuh fatamorgana...terkadang kita jadi normal bagi sebagian orang, namun bisa juga tiba2 kita dianggap gila bagi sebahagian orang lainnya...nice story sobat......eeehhhh senjataku manaaa..siapa yang sembuyikan senjataku...hayo tunjuk jari,,ngaku ngaku.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Baaaaangg! Hehe, gue gak bilang pengunjung di sini gila lo, ea ... Eh, malah pada ngaku .. Huhu.. O, iya senjata Bang Har yg jenis apa? :-)

      Delete
  7. kupikir endingnya bakal ada adegan tembak menembak, Bang hehehe
    kece ih ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hei, noi! Gak, dong.. Dulu kan udah pernah yg tembak2an ... Hehe, btw thanks ea dah bilang gue keceeee.. ;-)

      Delete
  8. orang gila nganggap yg lain gila hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama kayak maling teriak maling ya, Chi? Hehe ..

      Delete
  9. suka iuni cerita! apalagi bagian terakhir :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, makasih dah suka ya Misssss ... :-)

      Delete