Tuesday, September 3, 2013

[BeraniCerita #25] Wisuda



18 November 

Kulingkari dengan pulpen merah pada tanggal itu. Kemudian aku beri keterangan di bawahnya, WISUDA. Walaupun hari itu masih enam bulan lagi. Setidaknya aku lebih santai daripada teman-temanku yang pastinya akan menyibukkan diri sampai tibanya hari itu. Ada yang mulai menjahitkan baju, hunting sepatu, perawatan tubuh sampai ada juga yang sudah mencarter salon dari jauh-jauh hari. Sepertinya mereka semua ingin kelihatan sempurna dalam prosesi wisuda itu. 
  
“Wisuda itu kayak prosesi pernikahan yang cuma terjadi sekali dalam seumur hidup elo!” kata temanku. 

“Ya iyalah kalo elo gak ngelanjutin ke jenjang yang lebih tinggi. Sama juga kalo elo gak punya niatan buat poligami!” ralatku dalam hati. 

 Aku cukup membayangkan bahwa hari itu aku akan memakai toga berwarna hitam. Tadinya aku selalu bertanya kenapa toga dalam prosesi wisuda berwarna hitam? Kemudian aku sangat ingin memakainya setelah tahu ada filosofi yang bagus di balik warna hitam itu. Para wisudawan dan wisudawati diharapkan bisa menyibak hitam dan gelap kehidupan di luar sana dengan ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan di universitas. Atau di hari itu aku juga berharap Bu Winda, dosen pembimbingku yang akan menggeserkan kuncir akademikku. 

Tanggal 18, bulan November. Kuharap di bulan itu tak banyak coretan pulpen yang kubuat. Tak seperti kalender dua bulan terakhir ini yang begitu banyak coretan. Mulai dari operasi pertamaku, operasi kedua, kontrol dokter, cuci darah, atau tanggal 20 kemarin ketika kutuliskan bahwa rambutku mulai rontok. Dan hari ini ketika tinta pulpenku hampir habis seiring dengan habisnya rambutku. 

*** 

Hampir dua minggu aku tak bermain coret-coretan kalender. Itu karena tinta pulpenku sudah benar-benar habis. Semua orang peduli padaku, tapi tak peduli dengan pulpenku. Kecuali Bu Winda yang pagi tadi membawakan sebuah kotak kecil berpita yang ternyata isinya adalah pulpen bertinta merah. 

Get a rest well ya, Mail!” kata Bu Winda pagi tadi. 

Gegas kuambil kalender kesayangan dari bawah bantalku. Ingin segera kucoretkan kata-kata dokter siang ini. Kuhitung maju bahwa umurku kira-kira tinggal … hah? Wah! Alamat batal wisuda lagi dong, tahun ini? Nanar kupandangi pulpen yang menari-nari di tanganku.  

 

Jumlah: 328 kata.


32 comments:

  1. Dia sakit dan divonis bakal mati gitu ya? Terus jadi nggak bisa wisuda. Kasian... :(

    ReplyDelete
  2. aahh baik2 yaa 18 november,niar kasih bulpen pink ajah yaa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pulpen pink? Mau, dong.. Hehe. ;-)

      Delete
  3. Minta wisudanya dimajuin aja, khusus buat Mail :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. emang boleh eaw? maklum gk pernah wisuda... hehe :)

      Delete
  4. kang.. koen seneng mengkhayal kan? aku ndue bukti nek koen seneng mengkhayal.. wkwkwk...
    melu GAne nyong yak kang...

    ReplyDelete
    Replies
    1. saiki aku ora seneng! :)

      Delete
  5. kasihan.... wisuda belum... menikah juga belum....

    ReplyDelete
    Replies
    1. hah? menikah? kasian.. kasian.. kasian..

      Delete
  6. hiks..kasian banget..:(
    cuci darah..???berarti ginjal ya sakitnya

    ReplyDelete
  7. masih bingung maksudnya.

    Kuhitung maju bahwa umurku kira-kira tinggal … hah? Wah! Alamat batal wisuda lagi dong, tahun ini?

    bisa pencerahannya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya mungkin dia dapet vonis dari dokter tentang kematian atau jadwal operasi yang bertabrakan ama jadwal wisuda? hehe

      Delete
  8. persis kata temenku dulu. Wisuda cuma sekali, jadi jangan malu-maluin lah. Sampai mencari jas wisuda ke bandung buat acara wisudaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe, pengalaman juga ternyata? :)

      Delete
  9. Replies
    1. Gak kok, itu kan udah di depan mata? Hehe..

      Delete
  10. Replies
    1. Emang boleh wisuda sendirian?

      Delete
  11. alhamdulillah udah wisuda....

    boleh minta like atau komentar atau share nya mas disini

    ReplyDelete