Tuesday, July 30, 2013

[BeraniCerita #22] DORRR!!!

Asap masih membumbung. Memberi warna lain pada senja yang tadinya jingga. Aku mengendap di reruntuhan bangunan sekolah yang dibom tadi pagi. Tugasku menyisir lokasi, barangkali ada yang masih hidup di antara puing-puing itu. Dari lantai dua, aku menyelinap di balik tembok yang hampir roboh. Gemeretak sepatuku menginjak lantai keramik yang mengelupas. Di depanku ada konstruksi tangga yang  sudah hampir tak berbentuk. Kerangka besinya pun mencuat kemana-mana. Ketika aku mulai melangkah turun, kulihat seorang anak kecil duduk memunggungiku di anak tangga terbawah. Terdengar bacaan yang dirapal dari mulutnya. Aku mendongak, seorang anak dengan betis kanan yang hancur terus membaca sambil mengulum rintihan.

Jangan beri ampun! Bunuh semua yang tersisa!”

Suara komandan mengiang di telingaku. Aku mengangkat senjataku. Jari telunjukku pun siap menarik pelatuk. Satu tembakan dengan mata terpejam pun cukup untuk mengakhiri anak itu.

Kau punya anak, Josh?”

Mataku mengerjap. Setelah ini, aku bisa istirahat. Anak itu pun akan menemui takdir yang tepat. Ya, dimana lagi kalau bukan di moncong senjataku? Atau biarkan saja dia mati karena tak kuat menahan sakit di kakinya. Jadi aku tak perlu buang-buang peluru.

Anak-anak penghapal itu adalah target utama kita. Habisi atau kita yang akan habis oleh mereka!”

Asap dan debu mulai memenuhi tempat ini. Mataku perih. Pandanganku kabur. Mau tak mau aku harus mendekati calon korbanku ini. Perlahan kakiku mulai menuruni anak tangga. Lebih dekat beberapa senti di belakang kepala anak itu. Mari bermain takdir! Lihat ketika aku bisa mengulur atau mempercepat ajal anak di depanku ini.

Mungkin dia seumuran anakmu, Josh!”

Ah! Apa ini? Siapa yang membisiki telingaku di saat seperti ini? Peluruku lebih dari cukup untuk menghabisi siapapun kamu!

Hari mulai gelap. Lebih baik segera kutuntaskan dia. Ah! Baru kali ini aku banyak berpikir hanya untuk menghabisi nyawa seorang anak kecil. Segera tembak dan selesailah tugasku hari ini.

Paman, bolehkah aku membagi roti buka puasaku untukmu?”

Anak itu menoleh ke arahku. Disodorkannya sekerat roti berjamur yang telah dibelahnya menjadi dua. Aku terhenyak. Senyum polosnya seperti senyum anakku yang selalu menyambut kepulangan papanya.

DORRR!!!

Suasana menjadi semakin lengang. Apakah aku telah menembakkan peluruku? Tapi tampaknya anak itu baik-baik saja. Hanya kepalaku yang sedikit pusing. Sebelum akhirnya tubuhku terhempas ke dasar tangga. Samar kulihat dia menghampiriku. Dan sayup kudengar bacaan itu kembali dirapalnya. Untukku.



*375 kata.


50 comments:

  1. Hapalannya telah melindunginya.
    Bagaimana dengan hapalanmu?
    Hapalanku?
    Hmm...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yups! Mari kita gerakan indonesia menghapak! Hehe..

      Delete
  2. fiuh...keren mas, epic bgt cerita ini buatku..
    walaupun ada sedikit yg tidak aku mengerti, si aku menembak dirinya sendiri? kenapa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm.. Di otak gue, si aku gak ada skenario bunuh diri, Rin! Karna itu di daerah konflik, gue bermaksud itu adalah peluru nyasar atau peluru penyelamat buat si anak kecil tsb! Hehe

      Delete
  3. siapa yang menembak? aku nggak ketemu petunjuk sesamar apapun tentang hal ini.

    lalu aku kok ya mikir anaknya ada dua gara-gara kalimat "Aku mendongak, seorang anak dengan betis kanan yang hancur terus membaca sambil mengulum rintihan."
    jadi, ada 2 anak; 1 di bawah tangga, 1 lagi di lantai atas.

    Lalu (lagi) kok waktu naik ke lantai 2, tokoh aku nggak nemu si anak penghapal?

    Itu aja sih pertanyaanku, :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ttg penembak, silahkan liat jawaban gue ke komen Orin!

      Si Anak ttp ada satu, Sob! Cuma maksud gue gini: walo si aku berada di anak tangga yg lebih tinggi, tapi dia itu gak terlalu jelas buat ngeliat apa yg dilakuin si Anak karna anak ini memunggunginya.

      So, mendongak maksudnya agak berjinjit sambil menjulurkan leher buat ngeliat bagian depan si Anak!

      Hehehe, eksekusi gue gatot ea? Thanks! :-)

      Delete
  4. Senjata makan tuan bukan sih, Mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut gue, 'bukan!' :-)

      Delete
  5. Hm.... makin keren aja nih si Eksak. Sukses terus yaaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Al! Latihan buat jadi pemasok tulisan buat sang Publisher ... :-)

      Delete
    2. Siiip, latihan terus yaaa, mudah2an bisa kita bukukan nantinya. Aamiin. :)

      Delete
    3. Aamiin ...
      Hehe! :-)

      Delete
  6. nembaknya pakai tembakan Hilman kan aman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yups! Bener bgt, Bun! Mending pake cutton butt daripada pake peluru beneran. Hehe..

      Delete
  7. Orang itu pasti menemukan hidayah lewat bisikan dan kepolosan anak yang rela berbagi. Yang masih membingungkan, siapa yang menembak orang itu sob. Apa dia ditembak komandannya sendiri atau gimana?

    Belum bisa mencerna semuanya. Tapi ngerti jalan ceritanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener bgt, Sob! Yg penting hidayahnya .. Ttg siapa yg nembak udah gue bahas di komen atas! Thanks dah berkenan mampir ... :-)

      Delete
    2. punya cerita-cerita kayak gini yang versi ebook nggak?

      Delete
    3. Maap, Gak punya, Sob! :-(

      Delete
  8. Pengamat Eksak' BC30/7/13 19:38

    hm...semakin mantap, Nang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lo juga mantep! Tapi kenapa mandeg? Huhuhu

      Delete
    2. Tantenya Dio2/8/13 16:27

      Alhamdulillah... dah mulai lagi tuuh...

      Delete
    3. Ampe skarang lum sempet baca, Bu! :-(

      Delete
  9. Kalimat yang mendongak itu memang ambigu, Kak.

    Kalo menurut sayah, bisa diganti gini, "Ketika aku mulai melangkah turun, kulihat seorang anak kecil duduk memunggungiku di anak tangga terbawah. Kakiku bergerak dalam diam, meski kutahu sebenarnya itu tak perlu. Pandanganku menyipit. Jarak kami tinggal beberapa tangga lagi. Terlihat jelas olehku seorang anak laki-laki dengan betis kanan yang hancur. Ia terus membaca sesuatu di antara rintihan yang terkulum."

    Mendongak (jika yang dimaksud berjinjit) kesannya imut banget untuk ukuran sniper X_x Toh dia adalah sniper yang -anggaplah- berdarah dingin. Ndak perlu menggunakan cara berjinjit untuk menilai 'musuh' yang notabene hanya anak kecil.

    Idenya keren, Kak. Rasanya saya kembali membaca cerita-cerita heroik di majalah Annida :")

    Masalah siapa yang menembak, diriku sih ndak terlalu mempermasalahkan :p
    Cuma seperti biasa, saya suka bikin ending sendiri ahahaha x))
    "DORRR!!!

    Suasana menjadi lengang. Ada tembakan. Tapi bukan dari senapanku.

    Aku menatap lekat anak kecil di hadapanku. Entah mengapa. Aku lega. Anak itu baik-baik saja.

    Hanya kepalaku yang sedikit pusing. Sebelum akhirnya tubuhku terhempas ke dasar tangga, dengan sebuah bayangan merah dan bau anyir darah. Samar kulihat anak laki-laki itu menghampiriku. Dan sayup kudengar bacaan tadi kembali dirapalnya. Untukku."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener juga, ea... Thanks atas pencerahannya, Chil! Dari dulu emg pengen bikin epik kayak gini. Dan gue suka bgt ending versi elo. Mantap!

      Makasih, ea... :-)

      Delete
  10. Ceritanya bagus banget. Apalagi waktu si anak nawarin rotinya, hiks, jadi pengen mewek :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe.. makasih, Rika! Kok, mewek? Kan harusnya bikin kita smangat? :-)

      Delete
  11. bagus :D membayangkan konflik2 di Timur Tengah hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Settingnya emang di situ, Sob! Insya Allah ... ;-)

      Delete
  12. Memakai tingkatan bahasa yang super tinggi. Aku belum bisa menyamainya,mas. So aku terus baca berulang-ulang. Belajar menjadi lebih baik .... hehehe ajarin dunk bikin artikelnya ::)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hah? Bahasa super tinggi? Yg mana, mBak? Gak ngerasa pakek, kok! Atau mbak pengen ngajarin gue? Yuk, belajar bareng ... B-)

      Delete
  13. .. wachhhhh,, ternyata km suka bikin cerita ..

    ReplyDelete
  14. Bagus ceritanya... :)
    Sukses yaa, semoga hari ini menyenangkan.... ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, De...
      Smoga harimu juga menyenangkan! ^_^

      Delete
  15. Ceritanya keren banget sob. Mampu memberi inspirasiku :-)

    ReplyDelete
  16. anaknya terlindungi oleh bacaannya. tulisannya bagussss :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tarimo kasiah, Fanz! ;-)

      Delete
  17. bagus, akh.. cuma aku masih bingung baca di paragrap awal2.. dasare emang gak mudeng.. tp baca komen2 di komentator .. bikin aku sedikit mudeng..

    teruus nulis yo, akh..
    ndang nerbitke buku ben aku iso melu moco..

    sukses buat akhy..
    selamat menyambut Idul Fitri
    mohon maaf lahir bathin..
    salam buat keluarga..

    ReplyDelete
  18. Replies
    1. Hihihi... Ngagetin aja nih Bundo! :-D

      Delete
  19. Gema Takbir Menyapa Semesta,
    Membesarkan dan Mengagungkan Yang Maha Esa nan Maha Suci,
    Bersihkan Hati Kembali Fitri di Hari Kemenangan,
    Terkadang Mata Salah Melihat dan Mulut Salah Berucap,
    Hati kadang salah menduga serta Sikap Khilaf dalam Berprilaku,
    Bila Ada Salah Kata, Khilaf Perbuatan dan Sikap,
    Bila Ada Salah Baca dan Salah Komentar,
    Mohon Dimaafkan Lahir dan Batin,
    Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1434 H

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2, Bang!
      Maapin gue juga, ea.. :-)

      Delete
  20. blogwalking,, sekalian mau ngucapin,,

    selamat hari raya idul fitri,,, minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sami2, Kang!
      Wilujeng boboran siam, nya... B-)

      Delete
  21. lalu ketika membaca tetiba ingat tragedi Mesir, Syria dan daerah-daerah konflik lainnya. :(

    ah. suka deh!
    dan selamat hari raya mas eksak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat hari raya juga, Sob! :)

      Delete