Wednesday, July 3, 2013

[BeraniCerita #18] Tiket Keberuntungan

BREEENNGGG ... ! BREEENNGGG ... !

Derap langkah kaki-kaki tanpa ampun menggedor lantai koridor. Aku berjalan tergesa sambil berusaha mengeluarkan dompet dari ranselku. Tiba-tiba seseorang berlari melewatiku dari belakang. Suara gumbrang-gambreng sepatu beradu dengan lantai plat stainless memekakkan telingaku. Hingga buyarlah konsentrasiku dalam usaha mencari dompet.

"Dua, Mbak! Sama yang di belakang saya itu." kata seseorang itu sambil menunjuk ke arahku.

"Hei! Curaaangg ... !" pekikku.

Seseorang itu hanya tersenyum. Dan berlalu menuju petugas pemeriksa tiket. Memberikan dua tiket kepada petugas dan lagi-lagi menunjuk ke arahku. Aku pun menyusulnya, memasuki halte diiringi senyum ramah petugas.

Pada suatu hari yang lain pun aku selalu dicurangi olehnya.

"Sayang ... Bawain bentar ya ... " katanya sambil menyerahkan ranselnya padaku.

Aku pun menerima ranselnya tanpa berpikiran apa-apa. Tapi segera sadar kalau dia kembali berbuat curang setelah dia berlari ke arah loket.

"Dua orang ya, Mbak!"

"Curaaaannggg ... !"

Lagi-lagi aku memekikkan kata-kata yang sama. Dan dia selalu tersenyum penuh kemenangan.

***

Kini, bagiku halte adalah tempat yang paling menyenangkan. Aku tak pernah merasa sebal menunggu bus lengang penumpang seperti kebanyakan orang. Karena di saat itu, aku lebih punya banyak waktu untuk mengenang seseorang yang selalu mencurangiku.

Di dalam halte. Ketika orang-orang sibuk memaki waktu. Aku duduk santai memandangi orang keluar masuk bus yang sesak penumpang. Ku timang e-ticketing pemberian seseorang itu beberapa waktu yang lalu.

"Nih, pake ini! Udah ku bayar buat setahun, jadi kamu bisa hemat pengeluaran transport." katanya waktu itu sambil mengelus kepala berjilbabku.

Lumayanlah! Uang kiriman orang tuaku bisa untuk keperluan lain, pikirku saat itu. Tapi, Ah ... ! Kenapa dia selalu bermain curang? Bukan hanya selalu membayari tiket busku dengan mendahuluiku menuju loket, tapi juga dengan mendahuluiku menghadap Sang Pencipta.

Kembali ku timang kartu tiket elektronik pemberiannya. Aku jadi punya tabungan untuk membeli tiket pesawat. Dan minggu depan aku akan terbang ke pulaumu, tekadku. Menjenguk pusaramu dan mengakui bahwa kau selalu menang dariku.



32 comments:

  1. Wahh...duluan 'pulang' ternyata :(

    ReplyDelete
  2. aiih... kenangan yang manis yang menyedihkan juga...
    thx utk ceritanya.. :)

    ReplyDelete
  3. Benar-benar curang ini. ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ... Curang! Hehehe ;-)

      Delete
  4. Yang terlebih dahulu pergi...
    dan yang masih tertinggal...
    Kapankah mereka bisa bersama...?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mereka bisa bersama ketika mereka sama2 mencari ... :)

      Delete
    2. Aiiiih suka.deh jawaban bang eksak. Romantiisstis gimanaa gitu

      Delete
    3. Romantis ea ... ? Hehe..

      Delete
  5. duh, akhirannya sedih :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harusnya enggak sedih, ea ... ? ;-)

      Delete
  6. kecurangan yang membawa kenangan...ada suka dan ada duka, tiket setahun sudah diberikan..karena dia sudah tak bakalan bisa curang lagi...karena sudah duluan berlalu dari dunia ini,
    nice fiksi sobat...tapi ini fiksi atau kenyataan sich..... :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih buat apresiasinya, Bang! Ini cuma fiksi aja, kok ... :-)

      Delete
  7. dari kemaren, nuansa postingannya kog berkabung mulu ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karna suami salah satu blogger ada yang meninggal, En ... ;-(

      Delete
  8. yaaah...beruntung tapi gimanaaa gitu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue pikir emang gak pas, ternyata gak terlalu beruntung ! ;-)

      Delete
  9. Menyenangkan sekali punya seseorang yg penuh perhatian. Dia juga tiket kit menuju bahagia. Keren Mbak idenya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf tadi menyebut Mbak, Mas :)

      Delete
    2. Hehe.. Makasih, evi ... ! :-)

      Delete
  10. Bikin sedih tapi terharu... :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terharu emang sodara'an ama sedih! ;-)

      Delete
  11. Ini keren banget Sak!

    Killer posting..!

    Bikin merinding dan tersenyum pada saat yang bersamaan.. :D


    Tambah jago ajah nih bikin ceritanya.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, belom sberapa, Bee! Elo yang keren! Karna gue banyak belajar dari elo ... Thanks! :-)

      Delete
  12. ga ngira tragis gini hiks
    pagi2 kok baca kisah melow

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maap ya, niq ... #sarapan :-)

      Delete
  13. Hiks. Nyesek. Hiks. Keren mas. Hiks

    ReplyDelete
  14. Kamfret nih ceritanya!
    Klimaks!

    #geleng2 #pulang

    ReplyDelete