Wednesday, June 19, 2013

[BeraniCerita#16] Memintal Sesal

"Aku mencintaimu, Las!"

"Aku juga mencintaimu, Bram!"

"Tenang saja! Pokoknya aku akan segera menikahimu."

"Janji, Bram?"

Bram mengangguk. Didekatkan bibirnya ke bibir Lastri. Lastri terpejam. Suara desah pun membahana, memenuhi ruangan kamar hotel itu.

BRAAKKKK!!

"Angkat tangan kalian!"

Pintu kamar terbuka paksa. Beberapa orang berseragam menyergap masuk. Masih setengah telanjang, Bram dan Lastri pun terkejut. Moncong pistol membuat mereka tak berkutik.

"Tunjukkan kartu identitas kalian!"

***

"Saudara Bram! Ada yang ingin bertemu dengan Anda."

Bram digelandang dari ruangan pengap itu. Petugas itu membawanya ke ruang tunggu. Bram sempat bersorak, ketika tahu siapa yang menjemputnya.

"Papa ... "

PLAAAKK!!

Sebuah tamparan mendarat di pipinya. Dia mengerjap, berasa sakitnya sampai ke ulu hati.

"Puas kau sekarang? Hah?!"

Bram terdiam. Sosok yang dipanggilnya papa itu seperti akan ingin menelannya bulat-bulat.

"Berapa lagi yang mau kau habiskan? Berfoya-foya, belanja ini itu! Tagihan kartu kredit berisi barang-barang mahal! Pasti buat perempuan itu, kan?!!

"Tapi aku benar-benar mencintai Lastri, Pa!"

"Ya! Dan apa yang kau lakukan di hotel bersama perempuan itu? Kau tau akibatnya? Apa kau mau tanggung jawab?!"

Bram tak berani menatap papanya. Dia hanya tertunduk. Sesekali merintih, menahan perih di pipinya.

"Oke! Ini yang terakhir! Kartu kreditmu papa sita. Jauhi perempuan itu! Kalau sampai kau berhubungan dengan perempuan itu lagi, kau akan tau sendiri akibatnya."

***

"Bram ... aku hamil!"

Bram tercekat mendengar suara di ujung telepon itu. Lidahnya mengeras.

"Pokoknya aku menagih janjimu. Kamu harus menikahiku!"

"Tapi ..."

"Oke! Kalau kamu tak mau tanggung jawab, kamu harus memberiku 50 juta untuk menggugurkan kandungan ini!"

"Shit!! Aku tak punya uang sebanyak itu, Las! Lagi pula kartu kreditku disita Papa."

"Kalau begitu aku akan minta langsung kepada Papamu!"

"Jangan ..."

Tut... Tut... Tut...

"Shit!"

Bram membanting ponselnya ke lantai. Pecah berkeping-keping seperti perasaannya saat ini, ketika dia tak tahu apa yang harus dilakukannya.

***

Bram memintal sesal. Dari benang-benang dosa yang membelit hidupnya. Kini, tak ada lagi yang mau mengeluarkannya dari tempat ini. Papanya telah murka. Kedua tangannya masih bergetar. Bau amis darah Lastri masih tercium dari sela-sela jemarinya.





By quote:
Never spend your money before you have earned it.
~ Thomas Jefferson ~


36 comments:

  1. Pengamat banner19/6/13 20:44

    Siip...
    Hm... banner mana banner??? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tau dah! Tadi disimpen dimana? Bhahaha

      Delete
    2. Wah lagi tegang-tegangnya malah di gerebek polisi. Wah polisinya nggak bisa diajak kompromi sebentar hahaha

      Delete
    3. Polisinya lagi jujur, Sob! Hehehe

      Delete
    4. semoga saja masih ada polisi jujur di negeri ini. Kasus penggerebekan seperti ini biasa terjadi menjelang bulan ramadhan. Coba aja kita lihat saat mendekati puasa. Pasti ada patroli. Beritanya dari tahun ke tahun sama.

      Delete
    5. aamiin,..
      tapi semoga jujurnya gak musiman di bulan puasa aja. :)

      Delete
  2. heh si lastri di bunuh gitu, kesian kale itu bayi lu, huww :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emg gak mo tanggung jawab tuh bpaknya... Hiks

      Delete
  3. Wouw mantaabb, quotenya dapet banget.Terus endingnya gak terduga, aku pikir gak akan sampe ada pembunuhan gitu, ternyata dalam gelap mata cintapun terlihat gelap. Sukses! Banner in your hand babe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, Daz! Nemu ini di akhir2 DL! Gue rasa juga kurang OK! Hehehe

      Delete
  4. Haaa....*mangap*
    oh em ji! Tega banget!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan mangap, tapi kalap! :-P

      Delete
  5. Meskipun ceritanya berbau icik-icik ehem, tapi pengemasan ceritanya menarik dan unik sob. Yang baca bisa memahaminya, tanpa menunjukkan sisi vulgar-nya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Icik-icik ehem? Hehehe, bisa aja ente... Makasih dah mampir ea.. :-)

      Delete
  6. waduh paling gak suka episode ini. ini namanya nikmat sesaat derita selamanya. ending yng naas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cuma gambaran, Sob! Jangan sampe deh kita berending kayak gitu... ;-)

      Delete
  7. Ralat dikit mas Eksak.

    PLAK itu suara tamparan tangan kan? Jadi nggak usah pakai tanda petik. Kesannya bapaknya bilang 'plak'. Aneh jadinya. Kaya plak di gigi. IMHO.

    Begitu juga dengan TUT.. TUT.. TUT...

    Bunyi kan? Masa iya telpon-telponan kita bilang 'tut.. tut.. tut..' ke lawan bicara? Gitu aja masbro.. :)

    Sukses ya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih atas koreksinya, Bee! Udah langsung gue ralat, biar gak kena razia! Hehehe

      elo emang keren, Bee! Lop yu pul dah... :-)

      Delete
  8. Wow... daebak :'O
    Makanya, kalo masih diketekin orang tua ndak usah sok-sokan lah x))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahasanya diketekin, ya? Hehehe, lucu bgt! Bau dong ... :-D

      Delete
  9. Cintanya sesaat aja, lalu habis manis sepah dibuang. Nggak tau mau komen apalagi, cuma satu kata aja: KEREN!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gambaran cinta yg salah, Sus! Thanks ya dah mampir ... :-)

      Delete
  10. Omigod. Megap2 bacanya.
    Keren ini, Bang!! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya kata Tantri Kotak bacanya pelan-pelan saja, Ai! Hehehd

      Delete
  11. wah tuh kartu kreditnya limitnya brp yo kang?
    Bagus tapi kang imajinasinya hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pastinya berlimit, kang! Tapi gak tau brp? Pokoknya buanyuak dechh! Bhahaha

      suwon wis moco yo, Kang ... ;-)

      Delete
  12. Semoga LAstri menghantui Bram sampai dia mati. Hih .... sadis :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin...
      eh, ni doa sadis juga.. :)

      Delete
  13. IDiih, janji nikas si OKE.
    Tapi kalau masuk hotel dolo ya GAK OKE. :D

    Lastri nanti jadi kutilanak. :D

    ReplyDelete
  14. rasain lo, Bram! *esmosi*
    hihiihi

    ReplyDelete
  15. Replies
    1. napa juga mules??? bhehehe

      Delete