Sunday, April 7, 2013

[BeraniCerita#06] Di Balik Panggung.

Tak perlu waktu lama, Rino akhirnya sampai di rumah bergaya Jawa kuno yang cukup besar. Halamannya luas dengan beberapa pohon beringin. Tampaknya rumah ini adalah rumah turun-temurun.

Tok, tok! Rino mengetuk pintu.

Tak lama pintu dibuka. Rino terkejut melihat sosok yang berada di hadapannya.

"Ada yang bisa kami bantu, Nak?", tanya pria itu.

"Sebelumnya mohon maaf, Pak! Apakah ada perempuan bernama Rahma yang tinggal di rumah ini?", kata Rino menahan kegugupan.

"Oo... Rahma... Yuk, masuk! Kita ngobrol di dalam saja!", kata pria itu sambil melangkah ke dalam rumah.

Rino mengikuti si empunya rumah. Pandangannya menyapu ke seluruh ruangan. Cukup lama dia tertegun. Suasana rumah yang begitu tenang.

"Ananda mungkin terkejut! Ini rumah peninggalan orang tua kami. Kami biasa menghabiskan hari libur di sini. Tanpa pengamanan dan penjagaan, jauh dari media, sejenak melepas kejenuhan dari masa jabatan kami."

Rino terdiam. Kagum bercampur bangga tengah menyelimuti hatinya.

"Oh, ya! Apa kepentingan Ananda dengan Rahma?"

"Eh, maaf, Pak! Saya tahu Rahma karena setiap pagi Dia sering berbelanja di warung saya. Saya tertarik untuk mengenalnya lebih jauh. Hingga saya mengikuti sepulangnya berbelanja pagi tadi."

"Rahma memang tinggal bersama kami di sini. Dia anak tetangga di tempat kelahiran kami. Di rumah ini, Dia membantu kami dan menjaga rumah ini kalau kami sedang bertugas."

Rino mendengarkan dengan seksama. Masih setengah percaya dengan sosok yang dijumpainya saat ini.

"Hmmm... Mungkin Ananda sedang jatuh cinta?", kata pria itu dengan senyum mengembang yang jarang ditemui Rino di layar televisi.

Rino tersipu malu. Suasana sedikit mencair. Obrolan hangat pun mengalir. Kadang juga diselingi tawa yang tak teranulir. Mungkin sosok ini memang butuh suasana seperti ini. Sejenak melepas topeng peran di panggung sandiwara negeri ini. Tanpa paspamres, tanpa jurnalis istana, karena Rino yakin kalau dia sedang tidak berada di dalam istana negara.

"Kejar apa yang menjadi mimpimu, anak muda! Lanjutkan!", kata pria itu sambil menepuk bahu Rino di depan pintu menjelang pulang.




Gak tau berapa kata yang dipake! Maap, cuma via hape... :-)


59 comments:

  1. ini rumah keluarga presiden yah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, kayaknya iya, deh! Eksekusi gagal, nih! Bhahaha

      Delete
  2. Waw! saya kira tadi artis, ternyata! hehehe..

    bagus bagus baguuus :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Presiden kan juga artis, mbak! Karna dia sering menghiasi layar kaca kita! Hehehe

      Delete
  3. uhuuy.... ikut ngrasain syukuran jadi Ketum gak? hehe....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh, selamat ya dah dpt ide... aku blom dapat... maybe gak ikutan tantangan kali ini :(

      Delete
    2. Ketum atau ketumbar itu bumbu dapur, mec! Bhahaha

      ayolah coba cari lagi! Masih ampe rabu kan? Cmungudh! ;-)

      Delete
  4. apa mungkin kalo gue perannya kayak Rino ini bisa mudah bertamu plus berbicara kayak digini di hadapan org nomer 1 SAK?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, sama. Pertanyaan saya juga gitu. Semudah itukah? Masak orang seterkenal itu, gak ditahu kalau ternyata dia tinggal di situ? *tahu kan kalau orang Indonesia pada kepo abies hihihihihi...*

      Pejabat biasa aja, yang hanya sesekali muncul di TV, ditahu rumahnya ada di mana aja. Trus itu paspampres, masa gak ada? Melanggar peraturan itu.

      Hmmm... mungkin kalau artis masih mungkin, yah. Kan pandai menyamar hehehe... ^^

      Delete
    2. Satu lagi Mas Eksak. Ada beberapa penulisan dia dg huruf hapital (Dia) yg tidak pada tempatnya. Ntar dikira si Rino jatuh cinta pada Tuhan. Hehe

      Delete
    3. Bung Penho: tentu aja smua bs jadi mungkin dlm sbuah fiksi, bung! Bisa aja nama Bung jd pengganti Reno di situ, kan? ;-)

      nurusyainie: skali lagi ini fiksi, Nur! Bukan non fiksi! Smua hal yg gak mungkin bisa elo jadi'in mungkin! Smua yg melanggar hukum, bisa elo jadi'in gak melanggar hukum!
      Mungkin aja di laen fiksi, gue bikin gue lagi maen gundu ama barack obama atau mandi di sungai bareng luna maya... Kan? Inget ini fiksi! Imajinasi dan khayalan adalah Raja...
      But, thanks 4 ur attention! ^_^

      catatannyasulung: gue lebih suka pake huruf kapital (bukan hapital) pada kata sapaan di kalimat langsung, mas! Tapi lebih suka pake huruf kecil sbg kata ganti di kalimat berita...
      Makasih atas koreksinya, mas! ;-)

      Delete
    4. Wekekeke... ya iyalah, saya juga tahu ini fiksi. Tapi sebuah fiksi pun tetap membutuhkan kelogisan di dalamnya :p

      Main gundu dengan Barrack Obama? Boleh2 aja, asal diceritakan secara logis :D

      Delete
    5. Mungkin gue gak bisa, kalo semua musti dituntut logis, nur! Dan imajinasi2 di otak gue selamanya gak bakalan jadi sebuah fiksi. Thanks, buat pencerahannya! Kali aja gue bisa berguru privat ama elo! Hehehe

      Delete
  5. cieeee cieeeeee...
    pak presideeeen :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cieee... Cie... Sari Widiartiii... Hehehe

      Delete
  6. wah Rino ketemu presiden ya ...

    ReplyDelete
  7. wah , gimana ya ada di istana presiden, pasti akan gembira dalam ternyata

    ReplyDelete
  8. wew...sangat inspiratif sob...

    !! kunjungan perdana nih, owh ya follow sukses. kalau berkenan silahkan followback ya kawan. Terimakasih.
    Happy Blogging !!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih atas kunjungannya, kawan! :-)

      Delete
  9. Jadi apakah Rino sudah bertemu dengan sosok gadis yang sering berbelanja ke warungnya tadi,soalnya diatas belum dijelaskan kalau dia belum berjumpa dengan gadis tersebut Mas :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum, mas! Rino baru ketemu ama tuannya Rahma... Hehehe

      Delete
  10. Replies
    1. Bukan, pie! Cuma seneng2 dg FF! ;-)

      Delete
    2. .. FFI?!? berarti nama aq donk. he..86x ..

      Delete
    3. FF bukan FFI, pie! Nama elo kan pipie bukan vivie! Bhahaha

      Delete
  11. walau lewat hape, idenya ciamik. Ayo, kejar cita-citamu, Sak. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, makasih Al! Mari kejar cita-cita! ^_^

      Delete
  12. Replies
    1. Iya... Kok mirip, ea? Hehehe

      Delete
  13. wuih apik critane.. aku suka bgt kata2mu "Inget ini fiksi! Imajinasi dan khayalan adalah Raja..."
    Keknya ini jwbannya knp aku kurang berhasil nulis fiksi. Imajinasiku kurang liar.. hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayuklah, mbak! Smua org punya imajinasi itu... Gak perlu liar, yg penting bisa dikembangkan! Hehehe

      Delete
  14. koq R bukan T ?

    #udah keringetan ngejar cita2..hufft

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maksudnya Tino? Siapa, tuh? #ku kejar kau ku tangkap

      Delete
  15. wahh ternyata presiden toh, hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya begitu, mbak! Hehehe

      Delete
  16. Aku kira artis papan atas hehehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo artis papan atas, kalo papan bawah apa dong? Hohoho

      Delete
  17. rahma nya mana yah? jadi ngbrol ma pak presiden neh heheh
    eniwei, agak sedikit janggal
    "Ada yang bisa kami bantu, Nak?", tanya pria itu.
    kan hanya bapak itu yang buka pintunya..
    "Ada yang bisa dibantu, Nak?" tanya pria itu.
    lebih enak gitu menurut aku sih mas ^.^

    salam kenaal ^.^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rahmanya lagi masak ama ibu di dapur! Hehehe, ngambil dari pelajaran dalam surat menyurat dan pidato, ketika kata ganti "kami" dianggep lebih halus daripada "saya" sbg pengganti orang tunggal.

      Contoh dalam surat lamaran: Dengan hormat, kami yang bertanda tangan di bawah ini,

      atau di atas nama terang yg biasanya pake: Hormat kami, sering dipake daripada "Hormat saya"

      hehehe, salam kenal juga, Ranny! ^_^

      Delete
  18. selamat siang mas eksak, ceritanya bagus tapi kok ya ndilalah pas cerita soal ini,
    agak mules saya dengar kata jargonnya itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, mas agus yg tukang demo presiden ea... Bhahaha

      Delete
    2. hehehehehe....demo masak

      Delete
    3. Bhahaha, bisa aja mas agus! :-D

      Delete
  19. Eksak tetap saja Eksak :D

    hmm.. Presiden punya brp topeng, akh?

    ReplyDelete
  20. Ya ... kejar mimpimu anak muda :)

    ReplyDelete
  21. Replies
    1. Gak harus bilang waw kok, mbak! Hehehe, makasih kunjungannya... ^_^

      Delete
  22. hmmm...tiap ada rumah jawa kuno mesti dicurigai nih, siapa tau ada pak presiden gi leyeh2 hihihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, karna kebanyakan peserta yg ngikut nulis kalo rumah jawa kuno itu rumah eyang... ;-)

      Delete
  23. Ya lanjutkan kejar Rina sampai dapat


    itu paragraf kedua terakhir kenapa keren banget ya susunan katanya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rahma, zay! Bukan Rina... Hihihi :-)

      Delete
  24. Replies
    1. Nah? Masa' dari komputer miss gak keliatan? ;-(

      Delete
  25. Sempet foto bareng sama pak Presiden nggak? Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, gak sempet... ;-)

      Delete