Monday, February 21, 2011

Saat Kau Disini: Sekejap Nikmat Dan Sketsa Cinta

13 Februari...
Awal hari berjalan seperti biasa. Aku bangun. Dan melakukan aktifitasku di dalam kamar reyotku. Konstruksi bangunan liar ini adalah tempat tinggalku. Dimana aku tak butuh interaksi apapun, kecuali aku bisa mencumbumu setiap waktu. Tentu saja via telepon, karena aku tak pernah berharap kamu nyusul aku di kota ini. Kota busuk ini akan merubah apapun dengan liberalitas tanpa batasnya. Aku sayang kamu, makanya aku gak mau kamu berubah sikap padaku. Aku ingat waktu kamu bersikeras pengen terbang ke kota ini. Kamu bilang kalau kamu sudah booking tiket pesawat, dan aku menyangkal itu. Aku tetap gak setuju kamu nyusul aku atau ada orang lain yang kamu inginkan. Aku tak mau tau. Egoku memaksamu untuk membatalkan niatmu itu. Kamu memang keras kepala. Dan gak seorangpun bisa merubah apa yang sudah kamu tekadkan. Hmmm...bahkan Pa’e dan Ibumu, ya? Hufft, kasihan, ya mereka???
Aku sempet seneng, karna kamu bilang kamu gak jadi terbang. Karna aku gk ngebolehin, katamu! Bukan karna aku takut kalau kamu kesini kamu bakalan tau semua yang kau curigakan padaku. Tentang aku yang iseng nggodain cewek, atau tentang apapun yang membuatmu cemburu padaku.

Dan malam itu...




Terus menerus terlintas saat pertama kamu menatapku dalam samar helm fullface-mu. Masih merona wajahku memucat kamu bikin aku terbata-bata berusaha keras menebak siapa dibalik helm itu.Kental darahku pun menggumpal berkapiler ke rongga kepala. Lunak lidahku mengeras.Nafasku tercekik saat halusnya jemarimu menyentuh jemari getarku.Sekejap pertemuan malam itu. Kamu pun pulang setelah aku yakin bahwa itu adalah kamu.Akupun pulang. Nelpon kamu. Akupun segera ke rumah yang kamu tinggali, rumah temenmu katanya.
Gak kan habis nada ini kusenandungkan Tuk memuja dirimu yang dianugrahi keindahan yang sempurna.
Dan gak kan pernah cukup tinta ini kugoreskan Tuk kugambarkan besarnya hati yang ku persembahkan pada dirimu. Apakah kemudian aku salah telah berubah pikiran? Aku yang dulu melarangmu ke kota ini ternyata lebih menginginkanmu dari mereka yang berasas nafsu belaka. Terkutuklah aku bila aku gak mendambakan dirimu. Membusuklah aku bila aku gak menginginkan dirimu.
Habis malam. Akupun menghabiskannya dengan rindu yang kusimpan untukmu. Besok. Lama banget, sih malemmnya!! Aaaaaaa.....

14 Februari...
Pagi. Dari semalem nungguin pagi. Capek! Berputar-putar imajinasi di benakku. Bagaimana aku melewati hari yang akan ku nikmati bersamamu. Pasti ku kan temukan cara tuk bikin kamu bahagia. Pasti kau kan penuh cinta dan sayang yang selalu kupelihara. Tapi inilah awalnya kamu gak pernah berhenti tuk menghianati dan membohongi aku. Balas dendamkah kamu? Yang selama ini merasa tersiksa karna aku. Hari adalah Fucklentine Day. Hari yang ngungkapin unlucky love’s journey-ku. Fuck me off! Tapi aku gak bisa ngomong kasar ma kamu. Gak tau kenapa?? Hari ini muter-muter gak jelas. Dan berakhir di gubug reyotku. Melepas rindu. Dan melepaskan apa aja yang bisa kita lepaskan.Waktu begitu cepat. Singkat....

15 Februari...
Genderang Maulud Nabi hanya bertalu-talu di otakku. Karna kota ini begitu kafir menyesatkan. Jangankan peringatan Maulid, suara adzan aja hanya sebagai penyeka keringat di sela-sela penat kerja. Kota industri. Industri maksiat dengan komoditi kemungkaran yang bisa berdampak jahiliyah kafiris bagi siapapun. Kecuali orang-orang yang mendekatkan diri dengan impor iman dan takwa yang kuat.Yah! iman dan takwa Cuma barang impor yang langka dan mahal harganya.
Hari itu kalau gak salah kamu berniat mau cari kost-kosan, ya? Kamu mampir ke tempat kerjaku dengan teman cewekmu. Akupun pulang bersamamu. Aku minta supaya kamu tinggal. Tapi kamu ngotot pengen pulang bareng temanmu itu. Akupun gak bisa nyegah. Cuma aku gak bisa berbuat apa-apa. Akupun meneleponmu. Sms temanmu. Katanya kamu belum pulang. Dan cepat ku tahu kamu jalan sama teman cowokmu. Aku menggigil. Gak tau rasa apa yang menyelinap me-nol derajat-kan seluruh tubuhku.Tanpa pikir panjang, aku segera mencarimu. Mengitari kota laknat ini. Dari ujung ke ujung, tapi semua nihil. Sampai kamu sms, bahwa kamu sudah ada di rumah. Sepanjang perjalanan gigil tubuh ini semakin menjadi. Ada yang menetes dari ujung mata, yang segera kukenali itu adalah rindu. Baru kutahu rindu rasanya asin. Situasi ini gak pernah kurasakan bila kamu gak di kota ini. Karna kamu lagi disini, egositasku berdalih bahwa kamu datang untukku. Bukan untuk orang lain. Tapi entah apa yang ada di pikiranmu sekarang?
Aku kira hanya aku sendiri yang merasa cemburu itu bisa diterjemahkan dalam gangguan fisik. Cemburu itu sama dengan mual. Tiba-tiba meriang dan gejolak jantung yang gak bernada. Aku sampai di rumah itu. Ada yang punya dan teman cowokmu. Sejak kapan aku mengenal rasa gila-gilaan seperti ini dalam diriku? Aku gak bisa nahan lagi gejolak dalam hatiku. Panggil aku banci, tapi aku ingin mengakui aku cemburu setengah mati. Aku ingin punya seseorang, dan naluriku menunjukmu. Dari dulu jatuh cinta padamu. Dan aku ingin kamu memilikiku. Sampai seterusnya. Tanpa pihak ketiga manapun. Kamu di hadapanku. Menjelaskan bahwa dia. Teman cowokmu itu bukanlah siapa-siapa. Dan hanya aku yang kamu sayang. Kau beri harapan padaku dan berpikir aku akan mudah menerimanya. Aku pun pulang. Awalnya kesal masih melekat di leherku, menjalar menelusuri kulit menuju tangan kananku, kemudian hinggap di batang pena, meresap ditelan tinta, namun hilang saat kutuliskan pada sebuah kata. Kata-kata, dan itu semua buatmu.
Aku merasa gak ada makna lain selain cinta yang menempel pada tinta yang kutuliskan Meski aku tahu persis aku menuliskannya dengan hati yang sakit. Malam semakin akut. Akupun larut dengan harap esok akan lebih bermakna.

16 Februari...

Hari ini aku kerja. Aku gak tau apa yang kamu lakukan di luar pandanganku. Tiba-tiba aku benci dengan pekerjaanku. Malas dan pengen cepat-cepat pulang. Ijin pulang, ah! Bilang aja sakit. Akupun pulang. Malarindu menyerangku seharian. Apalagi mendengar kamu ternyata gak tidur semalaman. Kemana? Sama siapa? Katanya kamu mabuk? Kenapa kamu lakukan itu, sayang? Obsesi setan menyeretmu ke sebuah tempat bersama teman cowokmu. Aku selalu curiga kamu akan melakukan apapun. Kamu kan orangnya nekad! Seteguk air iblis memperdayamu. Untung bukan Izro’il yang menuangkannya ke gelasmu. Bagaimana aku gak cemas, sedang aku begitu menyayangimu. Aku gak pengen apa-apa terjadi padamu. Kamu masih maklum karna teman cowokmu itu yang rumahnya kamu tinggali. Tapi gak ada kompromi bagiku. Kamu janji gak bakal ngulang hal itu lagi.
Malam ini aku menjemputmu. Dan menanyakan banyak hal. Tentang perasaan. Tentang apapun yang yang ingin kutanyakan. Tapi kamu menanggapinya cuek. Seolah semua kataku adalah sampah di otakmu. Aku memang bukan siapa-siapa. Dan gak pernah merasa pantas menasehatimu. Kaki lima Masjid Raya. Sate padang. Mengganjal perutku. Pulang. Pokoknya malam ini kamu temani aku. Dimana lagi kalau gak di apartemen reyotku. Ngapain aja, kek! Besok baru ku antar pulang.
Apakah kamu menyayangiku? Kamu diem. Aku bilang iya. Aku terlalu percaya diri ya? Biarlah. Lagipula ya masa’ bibirmu yang rajin mengecupku itu bakalan bilang enggak? Malam ini benar-benar kuhabiskan padamu. Sketsa cinta samar-samar berubah jadi coretan dosa. Panorama sepertiga malam yang indah. Perspektif nafsu dari lukisan abstrak masa lalumu. “Terulang lagi”, tulismu dalam status fb-mu. Aku gak ambil pusing. Gak sekedar menjawab tantanganmu tempo lalu sebelum kita bertemu.Terima kasih! Untuk warna yang kamu kuaskan dalam kanvas hatiku. Gelap berlalu cepat. Shubuh! Oh, kau datang begitu terburu...

17 Februari...
Pagi ini kamu masih bersamaku. Jalan, yuk! Ajakku. Ke pantai gak jadi. Akhirnya kita sarapan pagi di sebuah warung Jawa. Selepas dingin nikmat yang kurasakan sejak semalam. Tiba-tiba panas menyengat sekujur badanku. Mandi, yuk! Ajakku lagi. Kamu iya aja. Kita pun mandi di Kamar mandi Masjid Raya. Kejadian lucu yang bikin kamu hampir nangis adalah ketika kamu terkunci di kamar mandi. Aku pun mendobrak pintu itu. Aduh! Kacian, cayangku! Tapi apakah kamu menangisi kejadian semalam. I’m a Boy, dan aku gak pernah nyesel. Entah gimana dengan kamu? Ku harap itu bukan hanya kisah Cinta Satu Malam.
Mandi, udah! Kemana lagi? Tanyaku padamu. Kamu mengajakku ke tempat salah seorang teman kenalan fb-mu yang menjanjikan pekerjaan di kota ini. Aku sempet gak seneng. Itu artinya kamu bakal balik lagi kesini. Cari apa, sih? Aku aja pengen pulang! Kalau aku pulang katanya kamu bakal pulang juga. Emang bisa? Iya kalau kerjanya gak terikat kontrak. Sebenarnya gak masalah apa-apa. Aku rela asal gak di kota ini. Karna aku takut akan dampak buruk yang mulai mengikatmu. Itu semua karna aku mencintaimu. Bukan mereka!
Selesai? Belum! Sore ini aku pun mengantarmu pulang. Sampai rumah gak ada orang. Kesempatan! Nggaklah! Ke studio poto tempat teman fb, yuk! Aku pun menuruti permintaanmu. Ada lagi? Udah! Yuk, pulang! Dah malem, malem ini aku masuk malem. Sial tujuh keliling....

18 Februari...
Hampir lupa apa yang terjadi hari Jum’at ini. Mikir! *&*&^)(&%#^%&^%$@#^) oh, ya! Si Ujang ke rumah. Kamu juga katanya juga mau datang. Sendiri! Ba’da Jum’atan, kamu telah sampai di tempatku. Kemana, nih rencananya? Tanyaku. Shopping aja, yuk! Cari gantungan kunci titipan temen plus cari sandal dan tas. Oh, ya! Aku kan dah janji. Kita bertiga. Naik angkot ke sebuah pusat belanja. Puas muter-muter bingung gak karuan akhirnya kita pun pulang setelah dapet apa yang kita cari. Pulang! Naik angkot lagi. Si Ujang turun duluan. Tinggal aku dan kamu sebangku sepi. Tanpa kata. Sampai akhirnya kamu mengungkapkan apa tujuan sebenarnya kamu datang ke kota ini. Sekedar ketemu aku kah? Atau ketemu yang lain? Slow down...
Perpisahan? Bukan, kamu menyebutnya dengan bahasa lain. Entah apa aku lupa. Kamu kan penguasa berbagai macam bahasa. Kamu cukup cerdas untuk hal itu. Kini, di pelukku (masih di angkot) sosok wanita karier lulusan S1 yang ku cintai. Aku memang gak pernah sepadan dengan kamu. Kamu bilang aku harus siap melalui hari-hari tanpa kamu. Ya! Aku tau karna sebentar lagi kamu bakal nikah dengan tunangan kamu. Mungkin cintaku padamu adalah benar-benar Cinta Terlarang. Ya! Aku tahu itu. Makanya kamu mendobrak perasaanku dengan sengaja jalan bareng teman-teman cowokmu. Begitu panjang lebar katamu. Pamitan! Itulah bahasa kamu tadi yang hampir kulupa. Ku lihat aliran bening di kedua pipimu. Oh! Harusnya aku yang mengusapnya. Tapi gak jadi kulakukan, karna campur aduk perasaan yang ada saat ini.
Wah! Buntutnya sampe juga. Itu bemper angkot emang bikin berat, makanya dari tadi baru nyampe. Dah malem! Bentar lagi aku kerja. Nginep, ya? Tawarku padamu. Emohh! Katamu maksa pulang malem ini juga. Kamu pun nelpon temen cowokmu minta jemput. Aku marah! Aku cemburu! Ku rebut dan ku matikan telpon itu.
Mataku memandangmu pilu, aku ingin menghujamkan rasa sakit yang kurasakan ini ke dalam hatimu hingga kamu minta maaf. Sejenak. Jangan gitu, dong! Mungkin gak sama aku, karna semua ini bakalan game over, tapi moga juga gak sama orang lain kelak, gak kamu lakukan lagi ke suamimu nanti. Tentu saja ku cari bayanganmu yang begitu lembut dan janjimu padaku . Dulu aku yang banyak janji, sampai kamu muak karna gak satupun aku membuktikannya. Aku atau kamu gak akan bikin kita saling sedih, tapi sekarang? Aku merasakan kebohongan ini begitu ku benci, begitu menyiksaku , menghinaku dan membuatku terjatuh kedalam lumpur penyesalan karna balas dendammu. Pembalasanmu! Setahun lebih kamu merasa tersiksa dengan kata janjiku via telepon saat itu. Tapi kamu membalasnya dengan beberapa hari saja di kota ini. Cukup adilkah? Puaskah kamu? Ya! Karna aku akhirnya merasakan banget apa yang dulu kamu rasakan.

19 Februari...
Fuck this day!!!! Hari ini kamu seharian penuh bareng teman cowokmu. Aku tau dia juga menyukaimu seperti aku. Dan aku cuma sebutir dzarrah dari banyak orang yang menyatakan cinta padamu. Aku pun su’udzon kamu ngapa-ngapain bareng dia. Jangan salahkan aku kalau aku buruk sangka. Nanti pun akhirnya kamu bakalan cerita dengan sedikit interogasi desakanku. Jadi inget sebuah lagu:

Dengarkanlah aku yang setia di hatimu
Kehadiranmu sungguh berarti bagiku
Maka jangan terlalu lama engkau jauh
Jauh di pandangan mataku
Semua rasa curigaku kepadamu
Semata karna ku takut kehilanganmu
Maka jangan coba kau berpaling dariku
Berpaling mengkhianatiku...

Yah! Ini semua karna aku takut banget kehilangan kamu. Tapi apakah rasa ini masih berarti? Sedang sebentar lagi kamu bakal bener-bener pergi ninggalin aku. I want to kill myself! Bla..bla..bla... akhirnya aku pun bikin laguku sendiri. Lagu bwt cp? Sms-mu. Cp lagi klo gk bwt km!!! Check it down...

Saat engkau disini hariku terasa berarti
Hanya sekejap ku nikmati engkau pun beranjak pergi
Tapi aku tak pernah bisa mengejarmu
Dan tak pernah bisa membuatmu kembali...
Hanya bayanganmu yang ku belai di setiap sesak nafasku
Aroma tubuhmu yang tersisa mengisi ruang hatiku
Semua harapan kau beri seakan segalanya pasti
Tapi aku hanya bermimpi karna kau tak mungkin ku miliki
o....uo....o....uo....

Cukup sekian dan terima kasih! Silahkan download! Dimana, ya? Sorry! Link-nya belum ada, baru di revisi. Hufft...hari-hari yang ku khayalkan bersamamu kandas dalam sebuah lagu gak bernada. Once again! Fuck this day!!!!!!!!

20 Februari...
Hari ini kamu mengajakku cari oleh-oleh buat keluarga di kampung. Karna besok kamu sudah harus sudah balik. Tiket sudah di tangan. Tinggal berdebat siapa yang bakal nganter kamu ke bandara. Aku bersikeras bahwa aku yang bakal nganter kamu. Tapi kamu lebih milih teman cowok kamu. Ketika mimpimu yg begitu indah, tak pernah terwujud..ya sudahlah! Saat kau berlari mengejar anganmu, dan tak pernah sampai..ya sudahlah!!!! Nyanyian sumbang penghibur hatiku sendiri. Cemburulah aku! Cemburulah aku! Dan kamu gak mau tahu....
Aku menjemputmu. Kita pun berangkat ke pusat belanja yang menyediakan oleh-oleh khas kota sialan ini. Yah! Kamu berubah gara-gara obsesimu pada bangsatitas dan brengsekitas kota ini. Fuck this town!! Sin city! Sin city! Don’t break herself!
Roka dan kue campur. Duka dan love bertempur. Tentu saja di dalam hatiku. Mampir ke tempat kerjaku yang lama. Basobok abang jo uni nan denai tinggalkan. Kukenalkan pada mereka kamu adalah calon istriku. Aku bilang besok kita bakal pulang bareng, dan nikah di kampung. Ku lirik kamu. Kamu tersenyum hambar. Aku gak ambil pusing. Lagi-lagi aku bohong pada mereka. Dan kamu tentu tahu kebiasaanku yang satu ini.
Sebelum pulang kita sempet maen ke warnet langgananku dulu. Sekarang kamu yang menunjukkan padaku keahlian bohongmu yang gak kalah dariku. Kamu chat dengan tunanganmu. Kamu bohongi dia abis-abisan. Aku tersenyum kecut. Kamu perlihatkan padaku foto-foto saat kamu tunangan. Ku lihat orang yang jadi tunanganmu dalam foto itu tersenyum begitu tulus. Menjalani prosesi khitbah dengan segala tetek bengek-nya. Dan juga ku perhatikan senyummu dalam foto bersanding dengan dia. Hmm... lagi-lagi hambar, gak tulus! Ayo, cyank! Terima dia apa adanya. Aku dah bisa nerima kok, kalau kamu harus pergi menjalani kehidupan barumu dengan dia.
Ahhh...ku petik hikmah dari pertemuan kita ini. kamu gak bakal betah hidup sengsara denganku. Aku yakin itu! Kalau aku saja sakitnya minta ampun saat tahu kamu jalan dengan cowok lain, apalagi dia tunanganmu? Jangan sakiti dia, yank! Dia bakal nerima kamu apa adanya, kok!
Uhhh...jadinya aku yang gak enak hati. Mengapa aku melakukan ini semua padamu.? Sedang dia disana setia menunggumu. Tolong, sampaikan salam maafku pada dia, ya!
Finish! Yupz..pulank, yuk! Bentar lagi kerja, nih....

21 Februari
Pagi ini. Saat aku masih lelap dalam letihku. Kamu datang membangunkanku. Dan ternyata kamu gak sendirian. Jadi juga teman cowokmu itu yang nganter kamu. It’s jealous full days! Tulisku di fb-ku. Kamu keliatan mesra sama dia. Suatu moment perpisahan yang gak manis. Tanpa kata-kata yang bermakna. Sekali lagi kugemborkan dalam hati. Wawawawa...kenapa bukan aku yang nganter kamuuuuuu.........!!!!! Ya sudahlah! Lepasku berat. Sampai kapanpun aku akan tetap sayang kamu! Sumpahku dalam hati. Ku antar kau sampai ke depan rumah. Sebuah kecupan yang ku paksakan mendarat mulus di pipimu. Tentu saja tanpa sepengetahuan temen cowokmu itu. Nanti dia cemburu....!!! heheh.. kamu pun berpaling pergi, aku tersenyum kecut. Entah! Sekarang gimana perasaanku?

I luv u..
.sms-mu.
I luv u too...balasku.
Moga kamu bahagia! Aku ngrasa tiba2 egoku ilank, aku dan mereka mungkin Cuma penghibur buatmu. Ada yang menunggumu dengan kesetiaan sejatinya disana. Ati2, cynk....sms panjangku.

Cepat-cepat ku tuliskan semua ini, mumpung masih anget di benakku. Panjang kali lebar sama dengan luas ku uraikan apa yang mesti ku uraikan. Dan ku ungkapkan apa yang pantas ku ungkapkan. Apapun tanggapanmu setelah membaca tulisan ini, katakan sejujurnya padaku. Demi Allah! Jangan ada kebohongan lagi di antara kita! Aku tau kamu, kamu tau aku, karna kita telah benar-benar bertemu. Dan aku akan tetap mencintai dan menyayangimu kapanpun, dimanapun, bagaimanapun, dan apapun yang akan terjadi nanti.
I luv u n0w n 4eva...

Ttd,

Akhy naa Uty




1 comment:

  1. BUAHAHAHAHAHAHAHAHAHA~~
    MASSSSS...
    BUAHAHAHAHAAHAHAHAHAHA~
    Ternyata bisa begini tho mas andi... muahahahaha~

    ReplyDelete