Friday, January 28, 2011

Akhy wa Uty

Berawal dari sampah kata – kata yang berserak di benak kotorku, akhirnya aku kembali menghirup udara di Pegandon Town Square, North Kendal Sickness, Indonesia. Bermula dari gombal serapah yang menghiasi wall facebook-ku, aku pun pulang ke gubug kecil ini. Ya…! Semua harus punya awal kalau ingin berakhir dengan sempurna. Seperti hidupyang berawal dari mimpi. Aku pun kembali menyusun skrip – skrip mimpi untuk memesuki system kehidupanku yang baru. Apa arti masa lalu dalam grafis masa depan? Entahlah! Tapi aku percaya, bahwa apa yang aku perjuangkan selama ini tak akan berujung sia – sia.
Awal pagi. Hari pertama kubenamkan pandang ke dinding kamar. Sama. Masih sama seperti ketika dulu kutinggalkan. Tempelan do’a – do’a memenuhi ruangan. Kecut. Ketika ingat ternyata aku jauh dari Gusti Pangeran. Tiang rapuh yang menyangga plafon reyot itu masih kokoh. Sekokoh gitar tua di pojok dipanku. Oh…! Andai aku adalah masa lalu. Pasti aku akan konsisten seperti kalian. Menghitung hari demi hari. Masa demi masa. Tanpa takut masa depan memaksaku berubah. Aku berbaring. Meletakkan ltih pasca perjalanan panjang ini. Mencium bantal usang yang penuh bius mimpi. Aku pun tertidur. Lelap …..



@@@

“ Tet…tett….tet….teeetttt…..! “ , Alert message ponsel mengejutkanku. Mataku coba berakomodasi dengan cahaya siang yang menembus celah jendela kamarku. Merem melek nikmat tak karuan jadinya. Mulet dikit, ah……!!!
“ Whoooooaaaaammm…..!”, samar – samar kubaca sms di hapeku.
“ Sayang, dah di rumah, ya? Kok gak ngabarin?”, sms darimu.

Ternyata ada 11 missed calls dan 5 messages received bernada sama. Dan semua dari kamu. Selalu lebih pagi dari Sang mentari. Selalu aku, sebelum kamu sempat memikirkan apa – apa. Katamu, sih…! Kalau aku boleh setengah jujur, aku merasa tersanjung, karena kamu begitu memperhatikanku. Dan dalam kejujuran yang penuh, aku bilang kalau aku begitu menyayangimu. Tapi saying! Kamu selalu menyangkal itu.
Kita belum sekalipun bertemu. Tapi kita menyimpan rindu yang menderu. Seperti gelombang tsunami yang menyentuh hiposentris, hingga menimbulkan deru gempa ribuan skala ritcher. Dan hari ini,kita akan bertemu. Kita sering berkhayal apa yang akan kita lakukan di pertemuan pertama, tapi kita masih bertanya apakah semua imajinasi gila kita akan jadi nyata? Tak seorang pun dari kita tau jawabannya.

“ Dah d rmh, cynk! Kpn akh ktemu uty? “, sms balasanku untukmu.
Akupun bimbang. Apakah peluk dan cium yang kita skenariokan akan terjadi di episode perdana pertemuan kita? Karena kamu tak pernah percaya kalau aku akan melakukan itu.
“ Soon! Wait me there ‘till I come 4 u…!”, kurang dari 5 detik kamu pun membalas sms-ku.
Akhy wa Uty. Itulah aku dan kamu. Makna yang dalam untuk sekedar panggilan sayang. Ada kisah yang rumit di balik semua itu. Hingga walaupun tintaku dari aliran Kali Bodri, aku tak kan sanggup menuliskannya disini.
Yahh…!! Memang semua berawal dari mimpi. Dan sekejap lagi, satu episode kehidupan akan dimulai. Hehehe…!! Gak usah deg – degan, ah! Biasa aja kale….Hmmmm…..!! Lanjoett…..
Ku senamkan jari mencari nomer hapemu. Sebuah panggilan nada tunggu yang aneh. Seaneh campur aduknya perasaanku saat ini. Tapi aku suka apa pun dari kamu. Matamu, hidungmu, jerawatmu, senyummu,sayangmu, cintamu, bahkan marah dan bencimu. Yang selama ini ku lihat hanya dari kejauhan. Hari ini akan hadir di depan mata kepalaku sendiri. Owhhh……!!

@@@

Cerita ini sempat terhenti sejenak. Terhenyak. Mengingat kembali perseteruan para serigala di masa lalu. Serigala serigala yang haus akan penjelasanku. Entah penjelasan tentang apa? Mereka merasa ku tinggalkan, ku remehkan, dan ku lupakan. Mereka merasa direndahkan seperti serigala tanpa taring dan mata merahnya. Apakah salah aku mengenal kamu? Apakah dosa aku mencintai kamu? Sehingga mereka acuh dan marah padaku.
Hmm…ku pikir saat itu memang aku yang acuh. Sampai aku jarang membalas sms dan telepon dari mereka. Jangankan mereka, Bapak, winda, dan keluargaku pun terlupakan. Mereka adalah kamal, Boncu, Mael, Jeweh, dll. Mereka tak segan menjadi serigala yang siap menerkam dan mencabikku. Tapi aku sayang mereka semua. Mereka lebih dari teman akhirnya. Ketika aku merasa kehilangan dan dilupakan.
Dengar, kawan! Saat jauh dari kalian, aku berada di sebuah pertempuran. Aku berjuang di tengah keprihatinan. Aku ingin segera menuntaskan peluh terakhir, dan meneteskannya di cawan cita – cita. Dan aku ingin cepat berada di antara kalian. Bercanda dalam kebejatan penjari jati diri. Berenang bersama di samudera harapan.

@@@

Ah…!! Satu paragraf kilas balik yang cukup memainkan perasaan. Panjang dan melelahkan. Ku selesaikan di awal Dhuhur, dalam remang toilet sebuah SPBU.
“ Assalamu ‘alaikum!”, salam di ujung telepon itu punyamu.
“ Wa ‘alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh..!”, balasku panjang.
“ Yank…”, panggilan manjamu itu pasti untukku.
“ Ya..”, jawabku pendek.
“ Keluar dong, yank! Di kamar aja, yang mentang – mentang baru pulkam….”
“ Emang kenapa? Lagi kangen kamar, nih!”
“ Ohh, gitu? Gak kangen ma Uty? Suara Akh gak jelas, putus – putus, coba deh keluar, mungkin lebih jelas!”, katamu sedikit kesel.
“ Iya, deh iya….!!”, ucapku sambil beranjak bangun dari tiduranku. Aku pun keluar ke teras gubugku. Tapi…
“ Tut…tuuttt…tutttt….!”, kamu mematikan telepon. Kenapa?
Aku terperanjat. Kwaguet tak percaya. Ku pelototi Smash biru terparkir di halaman kecilku. Hehehe..!! Kali ini aku gak kaget, tapi terkejut setengah mati keheranan. Aku melihat sosok yang membelakangiku. Di sebelah tiang kayu, searah gubugku yang menghadap ke selatan. Postur elegan dalam balutan gamis panjang. Batik cerah. Katamu itu gamis kesukaanmu yang akan kamu pakai waktu pertama kali ketemu aku. Hmmm..! Gak pikir dobel, deh! Itu pasti kamu, Utykusay….

“ Assalamu ‘alaikum!”, salamku dalam berjuta kegrogian yang coba ku sembunyikan. Aku kan malu abis, kalo ketahuan gugup kayak gini. Nanti kamu bilang aku cemen.
“ Wa alaikum salam!”, jawabmu tetap belum memalingkan badan.
“ U..u…Uty….!”, sapaku gagap – gagapan.
“ Akhh….!!”, katamu sambil berpaling menghadapku.

Degg..! Paras jelekku berubah tambah jelek. Apakah kamu melihatnya? Tanpa kata lanjutan. Campur aduk rasa di dalam rongga dada. Diam. Dan kamu tersenyum penuh kemenangan. Manis. Jauh lebih manis dari yang ku lihat di webcam chat YM. Dan jauh lebih menawan dari yang ku simak di photo album profil FB dan MMS kirimanmu.
Mata tajam dan hidungmu yang selalu ku sanjung kini nyata ada di depanku. Wajah cantik high profile yang jadi fans di FB itu kini benar – benar ada di hadapanku. Masih tanpa kata. Aku mulai mengulurkan tanganku. Kamu tersipu, padahal aku tak sedang merayumu. Kamu menunduk malu, padahal aku belum melayangkan gombalan mautku. Dalam hati aku bersorak, hahaha! Mana, nih Uty yang agresif? Hahaha! Yeah, aku menang! Hehehe…Ahay….!!! Kok Cuma malu – malu, sih..???
Ckckckck..!! Mbulet beud nih cerita. Melilit – lilit, eh…berbelit – belit! Bosen kali yang baca. Ah! Biarin aja, suka – suka yang bikin, dong..!

@@@

Next, kamu pun membalas uluran tanganku. Menggenggam begitu erat. Dan senyummu pun berubah menjadi tawa mengejutkan.
“ Wkwkwkwk….!! Hayu, Akh! Katanya mau cium Uty??”, ucapmu tiba – tiba.
Glekk! Gubragg! Blettakkk! Balik aku yang telak. Busyet! Aku kalah lagi. Wah, baa iko? Kumaha ieu? Gimana, nih? Aaaaaaaaa…………………… Tiba – tiba paru – paruku sesak. Ribuan kubik asap menyumbat bronkus. Efek asap dari instalasi panggung dramatis, dimana aku dan kamu jadi peran utamanya. Tersirap. Darah dari selang aorta bilik kanan berkapiler ke kepala. Apakah kamu melihatnya? Mukaku memerah. Aku merasa mampu membuat lautan dengan keringat yang membanjir tiba – tiba. Aku merasa sanggup membangunkan orang sedunia dengan dag dig dug jantungku yang berpacu saat ini. Ya! Tentu kini kamu yang bersorak kegirangan. Menggemakan kemenangan di seluruh penjuru cerita. Eitz…!! Tunggu dulu! Bukan Akhy Naa Uty namanya kalau aku menerima kekalahan telak ini.

“ Akhy sayang Uty banget!”, seruku sambil mencium tanganmu.
“ U…u…uty…ju…ga..”, hmm! Kenapa? Mantep, kan reverse attack-ku? Hehehe! Karena aku yang bikin cerita, maka akulah yang harus keluar jadi pemenangnya. Kamu pasti menunggu – nunggu apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Ya, kan?

“ Makasih, dah mau jadi Uty Naa Akhy…!”, kataku ….mmhhmm, sambil apa, ya? Ada ide? Hmm…kecupan di kening pasti akan membuatmu tak bias berkata – kata. Cup! Sekali. Cup! Dua kali.
“ Hhhmmm….”, gak tau ini gumam atau desahmu.
“ Cuuppp….!!”, kecupan ketiga dariku. Episode indah yang terlalu manis untuk diakhiri.

@@@

Ku khatamkan cermad ( cerita masa depan ) ini sehari setelah wisuda S1-mu. Ketika kamu sedang dalam perjalanan pulang ke kotamu. Ati – ati, cynk! Do’a Akh selalu menyertai Uty. Akh cynk Uty. Kurang lebih 7 hari finishing minimalis, hingga ceriita ini selesai ditulis. Kira – kira jam 20.15 launching blog, hingga kisah ini benar – benar rampung. Berkawan sepi. Berteman sunyi. Bertebar janji. Berkhayal coretan ini jadi saksi cinta abadi Akhy wa Uty. Aku Akhy. Kamu Uty. Berharap semua ini bukan sekedar mimpi…




2 comments:

  1. uty nangis baca blog akhy ini...
    terharuuuu...
    makasiiihh yaa,,,
    uty kan gak bisa bikin cermad , cerpen, dll..
    makasiiiihhh yaaa.... akh..........

    ReplyDelete
  2. uty sayank akhy juga... emuachh...

    ReplyDelete